Posts mit dem Label nasionalisme werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label nasionalisme werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Montag, 25. Juni 2018

(Hampir) 2 Jam Di Pesawat Bersama Emil Dardak [Bukan Tulisan Berbayar]

Kejadian random satu ini berawal dari saya yang super deg-degan di Go-Jek karena harus ngejar flight ke SUB sekitar jam 8 malem, tapi jam 6 sore masih leyeh-leyeh di rumah. Padahal, hari itu adalah hari kerja, artinya kalau saya berangkat ke bandara mepet, saya harus berkompetisi di jalanan dengan manusia-manusia lain yang baru pulang kantor.

Betapa dudulnya saya, waktu itu tuh mikirnya, "Ah, cuma di Halim. Deket." Saya yg dulu sempat jadi anak gaul Kalibata Mall lupa kalau lampu merah Taman Makam Pahlawan Kalibata macetnya nggak ada obat.

Hal lain yang membuat adrenalin saya makin meningkat adalah driver Go-Jek yang nyangkut ke app saya ternyata ibuk-ibuk. Alamak, gimana saya mau minta beliau ngebut ini mah. Tapi ternyata, anggapan saya itu hanya bias gender belaka. Sambil ngobrol intimate ala ala perempuan, doi super ngebut krn khawatir saya ketinggalan pesawat. Makasi banyak, Buk!

Sampe Halim, saya lari-lari, ngos-ngosan, kumus-kumus. Tapi ah, ku tak peduli. Untung saya masih sempet nunggu sekitar 10 menit di boarding room. Anyway, pas berangkat dari rumah, i didnt put on make up at all. Bukan karena nggak sempet, tapi ya emang saya nggak mau aja hahaha. Siapa mau peduli juga sama muka saya di malam hari, lagipula bedak mahal cuy. Hemat lah.

Tiba waktu boarding, saya masuk pesawat. Semuanya terasa biasa saja sampai saya menemukan bahwa bangku saya didudukin bule yang lagi asik baca buku sambil dengerin musik. Tapi, bangku sebelahnya doi kosong. And i thought, that was his seat. Jadi, karena nggak mau ganggu doi, saya duduk di bangku kosong tersebut.

Nggak berapa lama, datanglah lelaki berparas rupawan pake kemeja putih polos dan celana bahan hitam, mengklaim bahwa bangku yang saya dudukin itu adalah bangku dia. Saya pun bingung, saya sampaikan bahwa saya pikir ini bangku si Om Bule sebelah saya. Si lelaki rupawan menunjukkan nomor kursinya dan langsung nanyain nomor kursi si bule.

Jujur, pada detik tersebut, saya udah nggak peduli lagi urusan perbangkuan ini. Ada hal lain yang lebih menarik untuk saya pikirin, ini orang kayak nggak asing ya wajahnya. Seperti wajah mantan saya, tapi, duh, Li, lo nggak punya mantan woy.

Akhirnya, si bule yang awalnya menempati kursi saya pindah ke depan karena ternyata doi salah liat seat number. Sambil masih mikir siapakah gerangan lelaki rupawan ini, saya pun nanya ke si lelaki, dia mau duduk di tengah (di bangku saya) atau di bangkunya di pinggir (yang sudah lebih dulu saya tempati). Dia pun tetep mau di pinggir, di bangkunya. Saya pun bergeser ke tengah.

Kalau di pesawat, saya adalah orang yang sangat disiplin yg sudah pasti memasang setting Flight Mode tanpa harus menunggu peringatan Mba-Mba Pramugari. Tapi oh tapi, ini lelaki rupawan sebelah saya masih buka Youtube. "Oh, mungkin itu offline mode ya Youtube-nya", husnudzan saya begitu. Lha tapi kok, videonya tersendat-sendat macam susah sinyal. Adudu.

Menjelang take off, saya yang biasanya bubuk cantik kalau flight malem (walau saat itu saya bawa buku (yang niatnya) mau dibaca di pesawat sih), menyempatkan diri untuk ngintip-ngintip wajah si lelaki rupawan sebelah saya lewat pantulan bayangan di hp saya. Saya masih penasaran. Fixed, ini orang kayaknya saya kenal. Tapi dimana ya hem.

Entah kenapa, saya lalu teringat baliho Pilkada yang biasa saya lewati setiap kali berkunjung ke Jombang. Ada foto pasangan Cagub-Cawagub Jawa Timur disana. Wah, Emil Dardak kayaknya nih.

Saya berusaha mengingat seperti apa persisnya wajah Emil Dardak. Duh, yang saya ingat, dia ganteng. Tapi gantengnya macam apa, saya kurang paham. Saya sama Bapak di rumah sebenernya sering diskusi tentang beliau dan landscape perpolitikan Jawa Timur, tapi diskusi kami jarang menyoal rupa wajah. Wkwk.

Saya lalu aktifin internet HP, mumpung belum take off. Ehe. Ampun Om Pilot. Saya searching wajah Emil Dardak cepat-cepat. Saya bandingkan dengan sosok yang ada di sebelah saya. Hem, mayan mirip sih. Tapi, saya masih belum yakin.

Saya intip video yang lagi serius banget dia tonton. Di Youtube. Dan pake internet HP. Sesekali buffering pulak. Video yang bikin dia didatengin Mba-Mba Pramugari berkali-kali untuk ngingetin HP yang harus mati. Tapi, dia tetep aja hajar bleh.

Oh, ternyata video debat Pilgub Jatim, ada Khofifah dan Emil Dardak-nya. Bajunya Emil Dardak di video itu mirip dengan apa yang dipake lelaki rupawan sebelah saya.

Aaakk, sebelah saya Emil Dardak nih. Fix fix. Rasanya saya pengen lompat dari bangku. Pengen nengok langsung depan mukanya sambil menjajarkan HP saya yang memuat foto beliau hasil kulik-kulik Google tepat di sebelah wajahnya. Biar shahih aja gitu kalau sebelah saya memang Emil Dardak. Capek kali ngintip-ngintip dari pantulan HP dan mengandalkan kelihaian bola mata terus.

Tapi, ah, sedetik kemudian keyakinan saya pupus. Saya ragu, yakali ah Emil Dardak nggak paham fitur Download Video dan nonton Offline di Youtube. Saya senyum-senyum sendiri. Mayan nih, kalau laki-laki sebelah saya ini beneran Emil Dardak, saya bisa keliatan pinter dikit dengan ngajarin beliau cara hasyiks main Youtube. Tapi eh tapi, seriusan nih Emil Dardak naik pesawat ekonomi? Tanpa pengawal atau ajudan macam orang-orang penting gitu? ihwaw.

Saya mencoba mengumpul-ngumpulkan keyakinan. Emil Dardak juga manusia biasa. Hidupnya sibuk memikirkan kemaslahatan ummat, wajar kalau beliau tak paham fitur Youtube. Jangan kau bandingkan dengan dirimu yang surplus waktu luang, Lil.

Saat saya sudah sepenuhnya yakin bahwa lelaki rupawan yang duduknya tepat sebelah saya adalah Emil Dardak, saya riset dikit-dikit visi misi beliau. Ini masih belum take off, kok. Pesawatnya masih nyentuh tanah. Saya skimming visi misi beliau, berusaha mengingat beberapa keyword. Si pesawat akhirnya benar-benar akan take off. Tap, saya mengaktifkan Flight Mode. Saya tidak sempat mencari bahan obrolan lain.

Ealah, lelaki 'terduga Emil Dardak' sebelah saya ini masih sibuk nonton Youtube wakakak. Pramugari sampai-sampai mendatangi beliau dan benar-benar menunggu di sampingnya hingga beliau mematikan HP-nya. Beliau nggak mengelak dari kesalahannya tersebut dan nurut apa kata Mbak Pramugari. Yes, sekarang beliau tanpa distraksi.

Saya yang tidak mampu menahan senyum mencoba bertanya dengan sopan, "Pak Emil, ya?"

Gesture tubuh beliau dalam menanggapi pertanyaan saya cukup mengesankan saya. Beliau langsung mengubah arah tubuhnya ke arah saya dan menjawab dengan wajah ramah tanpa kesan dibuat-buat, "Iya."

Bahasa tubuh yang sederhana itu cukup memberikan impresi pertama yang positif bagi saya, bahwa beliau adalah pribadi yang terbuka.

Selanjutnya, saya membuka topik dengan membahas visi misi beliau yang akan dibawa dalam pertarungan pilgub mendatang. Jangan bayangkan saya menyebut secara rinci visi misi beliau yang saya baca sebelum take off ya. Saya hanya mengingat keyword, lalu saya kembangkan sendiri sekenanya. Deg-degan takut salah euy.

Dari sana berbagai obrolan mengalir. Kami membahas berbagai hal, dari kebijakan hingga pekerjaan saya. Apa yang beliau rencanakan jika terpilih nanti, target pembangunan, fokus anggaran, dll (ini semi kampanye sih, tapi gapapa, itu hak dia untuk meyakinkan saya bahwa dia adalah kandidat yang tepat). Saya juga sempat menanyakan beberapa pertanyaan filosofis dan mendasar tentang pilihan-pilihan hidup beliau. Sayangnya, saya sudah tidak terlalu ingat detil jawaban beliau. Saya menyesal karena saat sampai kosan tidak langsung menuliskannya. Selama dua jam (kurang dikit sih) kami di pesawat, selama itu pula kami berdiskusi. Tidak ada momen dimana kami kehabisan topik, beliau banyak sharing pengalaman dan gagasan. Yang pasti, saat itu saya belajar banyak. Banyak sekali.

Dari obrolan intensif hampir 2 jam kami selama di udara itu, saya mendapatkan gambaran karakter beliau yang mungkin bisa menjadi pertimbangan teman-teman dalam menentukan Cagub-Cawagub pilihan pada Pilgub serentak 27 Juni besok. Ohya, disclaimer ya, ini murni opini saya. Saya juga tidak terafiliasi dengan pihak mana pun, jadi maaf kalau tulisan ini dinilai menaikkan atau justru menjatuhkan Pak Emil atau pihak lain yang terkait. Saya hanya membagikan apa yang saya rasakan selama bersebelahan dengan beliau (dipengaruhi sedikit dengan opini setelah nonton debat Cagub-Cawagub Jawa Timur deng). Hehe.

Pertama, Emil Dardak adalah benar-benar seorang yang cerdas. Beliau kaya dengan data, jadi kalau ngomong selalu ada dasar datanya. Kemampuan beliau dalam menganalisis dan menarik kesimpulan dari data-data tersebut juga keren. Ini saya rasain waktu ngobrol dengan beliau dan saya lihat di acara debat sih. Setiap beliau memaparkan gagasan, beliau selalu membawa alasan karena datanya begini, maka harus begini, karena kalau begitu, blablabla dan seterusnya.

Beliau punya latar belakang pendidikan yang (seingat saya) berhubungan dengan economic development. Maafkan saya kalau kurang tepat, Pak. Yang jelas, saya melihat bahwa apa yang beliau coba aplikasikan pada setiap kebijakan-kebijakan beliau berakar dari teori yang beliau baca dan pelajari waktu masih sekolah. Saya masih ingat sekali, saat kami mengobrol, beliau beberapa kali bilang, "Menurut X dalam buku....." atau "Kalau kamu tahu dalam teori lalala......." Intinya sih, setiap keputusan yang dia ambil nggak pake pertimbangan commonsense lah. Sedikit banyak beliau (kelihatan) punya ilmunya.

Kedua, beliau sungguh well-experienced di sektor tata kelola kota, pembangunan, ekonomi dan sektor lain yang berhubungan. Beliau sempat bercerita tentang pengalamannya bekerja di World Bank sampai akhirnya mengambil risiko untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Trenggalek. Bahkan, waktu saya bercerita tentang pekerjaan saya yang related dengan sektor community development, beliau dengan cepat langsung menangkap apa yang menjadi tantangan kami di lapangan. Padahal, saya cuma cerita sedikit saja. Tentunya itu bukan karena beliau punya kemampuan cenayang ala ala ya. Tapi, karena pengalaman dia di bidang development sudah luas, jadi ya dia paham betul.

Ketiga, saya senang karena beliau masih muda. Eits, ini bukan berarti 'dia muda maka dia ganteng'  yang bikin saya suka (ala cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. hahaha lucu nggak?). Tapi, menurut saya, idealisme beliau juga merefleksikan jiwa mudanya. Pemikirannya juga segar. Beliau cukup terbuka dengan diskusi dan nggak gampang mutung. Waktu itu sempet saya pancing dengan pertanyaan yang agak sensitif, misalnya pertanyaan tentang alasan dia meninggalkan Trenggalek, padahal masa kepemimpinannya belum selesai, atau pertanyaan tentang kenapa majunya sama Khofifah yang udah berkali-kali mencalonkan diri tapi nggak kepilih-kepilih. Pertanyaan-pertanyaan saya itu beliau jawab tanpa rasa keberatan.

Keempat, beliau sungguh humble, praktis dan dinamis. Percaya nggak, beliau ke bandara naik Go-Jek (Go-Ride lebih spesifiknya) karena takut macet. Tanpa pengawal satu orang pun. Di pesawat juga doi sendirian. Pesawatnya kelas ekonomi pula. Padahal kursi bisnisnya kosong melompong. Bagi beliau, dalam melakukan sesuatu ya pertimbangannya kepraktisan. Bukan semata-mata merakyat atau bahkan pencitraan. Jadi, kalau praktisnya naik motor, ya naik motor aja. Tapi kalau praktisnya naik mobil karena hujan, ya naik mobil. Nggak usah ngotot naik motor biar dianggap merakyat.

Kelima, dan sepertinya menjadi yang terakhir, walaupun Pak Emil Dardak ini menurut saya cukup perfek tipikal kandidat idaman, tapi beliau tetaplah manusia biasa. Ada beberapa sikap beliau yang membuat saya sedikit berkomentar dalam hati, "Hem, gini ya ternyata."

Misalnya, setiap saya mencoba menyampaikan aspirasi saya dan menanyakan berbagai pertanyaan kenapa gini kenapa gitu. Beliau memang tidak mutung, beliau memang tidak tersinggung, tapi beliau langsung meluncurkan jawaban-jawaban untuk meng-counter omongan saya tersebut. Padahal, kalau saya jadi Pak Emil dan kebetulan ketemu rakyat butiran jasjus macam saya, maka saya akan cenderung sedikit bicara dan membuka telinga lebar-lebar. Terlepas dari omongan si rakyat benar atau salah, saya akan coba tampung sebanyak-banyaknya. Bagi saya, kesempatan untuk mendengar perspektif yang berbeda, apalagi dari rakyat biasa macam saya, kan jarang sekali terjadi. Sedangkan, beliau, dengan segala power yang dipunya, apalagi beliau juga sedang mencalonkan diri sebagai Cawagub, beliau punya panggung yang lebih luas dan banyak. Mudah bagi beliau untuk meng-counter atau menjawab argumen apapun. Tapi, nyatanya beliau cukup mendominasi obrolan dan bukan banyak mendengarkan. Entah karena by nature beliau adalah orang yang dominan atau itu hanya kebetulan. Saya kurang paham.

Hal lain, sepanjang obrolan, beliau juga banyak menyebutkan teori-teori atau istilah yang saya kurang paham. Hehe. Entah karena beliau merasa bahwa saya anak muda 'berpendidikan' jadi sudah semestinya paham (kalau iya, berarti saya harus baca lebih banyak buku lagi nih, wawasan saya masih belum mumpuni hiks), atau memang beliau memiliki kecenderungan demikian, membawa sophisticated words ke dalam obrolan dengan orang awam di bidang tersebut. Padahal ya, orang-orang yang well-educated tidak berarti dia menguasai semua bidang lho. Jadi, menurutku sih, toleransi terhadap manusia berbeda bidang itu tetep butuh. Misalnya, kamu yang lulusan S3 Kriminologi belum tentu paham sama istilah-istilahnya anak S1 Planologi. Walaupun, jenjang stratanya lebih tinggi. Atau nama ilmunya mirip pakek logi-logian.

Nah, kurang lebih gitu deh. Mon maap kalau sungguh subjektif, ini kan blog saya, jadi tidak ada tuntutan untuk menyuguhkan tulisan yang netral hahaha. Terlepas dari itu, saya cukup merekomendasikan Khofifah-Emil untuk menjadi pilihan kawan-kawan di hari pencoblosan besok. Pertama, jelas alasannya karena impresi yang saya dapat ketika bersebelahan tempat duduk di pesawat dengan beliau. Walaupun, tidak semua impresinya positif hahahaha. Kedua, saya sempat mengikuti beberapa kali debat Cagub-Cawagub Jawa Timur. Lumayan keliatan sih, Khofifah-Emil memang 'siap memimpin', baik secara data, ide dan gagasan, dibandingkan pasangan lain yang mengandalkan takaran ketidakpastian, seperti "Kalau dari pengalaman saya dulu, blablabla...", atau "Sepertinya ada kurang lebih blablabla...".

Tapi, segalanya tetap kembali lagi kepada kalian wahai kaum yang akan memilih. Kalau kalian memiliki pertimbangan lain, sepenuhnya itu hak kalian. Asal jangan golput aja, kusedih karena harga yang harus dibayar untuk sebuah hak pilih dari seorang warga negara terlalu mahal untuk selembar kertas kosong tanpa lubang coblosan. So, selamat nyoblos! Anyway, saya nggak ikutan nyoblos, karena KTP Jakarta. ehehe.



P.s. we happened to take some good pictures- with my very own barefaced.
Ahya, sawrry, i wouldn't ask for your pardon bcz of my barefaced just like other women did outside.
Cz, ya know, im not that typical woman in the majority haha.


Montag, 4. November 2013

Pahlawan Di Tahun Digit 2000-an

Halo November!
Menapaki bulan November, rasa-rasanya memang tidak lepas dari keriaan hari pahlawan yang akan kita sambut tanggal 10 nanti. Tentunya, sebagai kaum muda, kita memang dituntut untuk lebih dalam memaknai keriaan tersebut. Karena, siap atau tidak, tanggung jawab sebagai pembawa perubahan bagi bangsa itu ada di pundak kita, kawan! Maka, mari berefleksi, sudah sejauh mana sumbangsih kaum muda masa kini dalam upaya membangun bumi pertiwi? Atau, sebenarnya kita masih bertanya-tanya, apa iya bangsa kita masih membutuhkan sosok pahlawan? Lalu, sosok pahlawan seperti apa sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia masa kini?

Pada dasarnya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas sederhana. Sesederhana satu-dua sampah yang berterbangan di pojok lampu merah, atau bunyi klakson yang menggema di langit Jakarta karena kemacetan yang tak tertahankan. Jika dalam keseharian kita masih dapat menemukan hal-hal sederhana tersebut, maka jelas jawabannya, Indonesia masih butuh pahlawan! Indonesia masih butuh mereka yang mau bersama menyebarkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Indonesia masih butuh mereka yang mau membuka mata orang-orang di sekitarnya, bahwa kemacetan sebenarnya buah dari ulah kita sendiri yang enggan berpindah ke transportasi publik karena terlalu nyaman dengan kendaraan pribadi.

Pastinya, di tahun digit 2000-an ini, dengan melihat perkembangan zaman yang luar biasa pesat sekarang, tidak relevan bagi kita untuk tetap berpikir bahwa pahlawan adalah mereka yang gagah membunuh penjajah, bertaruh jiwa dan raga di medan perang, tanpa lupa dengan bambu runcingnya. Hal ini karena musuh yang kita hadapi saat ini bukan lagi musuh-musuh yang bisa mati dengan tembakan peluru atau pun terjangan bambu runcing. Di jaman serba mudah ini, bisa jadi musuh kita adalah diri kita sendiri--dengan rasa malasnya, ketidakpekaannya, dan atribut lain yang membuat kaum muda tidak produktif dan solutif.

Oleh karena itu, kenyataan bahwa Indonesia masih membutuhkan sosok pahlawan, memang telah sama-sama kita sepakati. Namun, jangan lupa juga, bahwa makna pahlawan tersebut juga telah bergeser. Mungkin, ketika jaman dulu ibu-bapak kita bangga bercerita tentang para pahlawan yang gagah di medan perang, kita bisa tunjukkan bahwa berlaga membawa nama Indonesia pada kompetisi internasional adalah juga gagah gaya baru. Ketika pahlawan jaman dulu tak pernah lupa membawa bambu runcingnya, pahlawan masa kini tidak pernah lupa membawa pensilnya yang sudah diraut sampai runcing. Sehingga, akan selalu produktif menulis! Haha.

Intinya, mari berhenti berpikir bahwa isu kepahlawanan macam ini tidak cukup kece untuk dibahas. Juga mari berhenti berimajinasi bahwa pahlawan adalah cerita masa lalu--toh, jika pun ada gambaran pahlawan masa kini, yang muncul adalah tokoh-tokoh manusia (yang menjadi) super karena digigit laba-laba, atau menjadi titisan kelelawar. Karena faktanya, di tahun digit 2000-an ini, Indonesia masih butuh pahlawan-pahlawan muda dengan ide segar dan jiwa besar yang siap bersatu membangun bangsa. Walaupun begitu, jangan dulu berpikir bahwa ini berarti, kita harus membuat suatu terobosan hebat penuh manfaat. Mulai saja dari hal sederhana, karena percayalah, setiap bentuk kecil kebaikan yang kita lakukan, telah menjadikan kita seorang pahlawan--paling tidak bagi lingkungan sekitar.


**Tulisan juga dimuat disini. Waktu IF masih nge-wordpress dan sekarang kita dotcom-ers doong, inspiratorfreak.com

Mittwoch, 5. Juni 2013

Indonesia Movement Conference 2013 #1

Halo, teman-teman! So, It's been about 3 weeks since the IMC 2013 be held. But too bad, I am getting forget every single detailed events happened there whereas I haven't written anything about it here. So, before all the moments fly away from my head, I'm now starting to make it everlasting hahaha

So, Indonesia Movement Conference 2013, or IMC 2013 for short, is a conference for Indonesian youth, organized by the students board of Prasetiya Mulya Business School and held in May 17-19, 2013. In this event, every province was represented by one youth delegate, and maybe because it was their first debut, the province participants are only 26 provinces. And I'm the delegate representing DKI Jakarta yeaaaaay

Anyway, ini kenapa gue jadi speaking english gini? Oke, haha so, in IMC 2013 we discussed much about things to do to make a better Indonesia. Besides, we shared knowledge, ideas, and spirit to be the driver of change in our own province! haha

To specify our focus, the committee divided us (the 26 delegates) into 5 clusters (education, environment, entrepreneurship, youth & leadership, culture) based on our social project. Ahya, before chosen to be delegates, we have to take the selection process which included short essay writing, application form filling, social project paper submission, and so on. Social project I submitted is my Trash me, it works! Movement hahah that's why it was grouped into the environment cluster. Then, in those clusters, we presented our sospro in front of the judges who are experts in every cluster. The 5 best social projects will get an amount of grants to realize their project. So, let's guess then did I become the best 5 social projects? *drumroll* the answer is NOOOOOOOO hahaha

so, are you eager enough to know why I wasn't chosen to be the 5 best projects? to be continued yaak guys, my mom is calling. asking me to nyuci piring. haha
fixed, postingan ini ditutup dengan sangat tidak elit haha


Sonntag, 5. Mai 2013

Jadi ceritanya

Jadi ceritanya saya luar biasa bosen dari tadi subuh mantengin laptop buat nyelesain proposal sospro terbaru saya untuk dikirim ke panitia IMC. Makanya sekarang boleh dong, ya, mampir kesini curhat-curhat dikit. haha

Oke, kebetulan saya memang sudah lama memendam keinginan untuk berbagi tentang project terbaru saya ini, namanya Trash me, it works! Movement haha Project ini berawal dari kurang lebih satu tahun yang lalu ketika harga tiket kereta api melonjak bombastis dan kereta ekonomi semakin sulit ditemukan. Then, I decided to be done with my train-life haha apadeh. Intinya, saya memutuskan untuk berpindah ke lain angkutan umum, yaitu angkot! Nah, rumah saya kan di Pejaten Barat, which means saya harus naik angkot dua kali, karena gak ada angkot yang langsung ke Depok dari sana. Maka jadilah setiap pagi saya transit di Pasar Minggu untuk nyambung angkot ke Depok.

Pas awal-awal lewat Pasar Minggu, saya kagum dibuatnya. Sejak saat itu saya sadar bahwa 'salah' kalo orang-orang bilang di Jakarta gak ada gunung. Buktinya, di Pasar Minggu ada banyak banget gunung, bedanya gunung ini tuh gunung sampah -.- Beberapa kali lewat, saya cukup maklum, saat itu saya pikir, Pasar Minggu kan aktifnya dari tengah malam sampe subuh, jadi wajar aja kalo jam segini itu sampah masih bertumpuk. Problema klasik lah, yang jualan gak mau buang sampah di tempatnya karena ngerasa udah bayar uang kebersihan. Tapi kemudian beberapa hari berikutnya siang-siang lewat Pasar Minggu karena kelas siang, gunungan sampah tersebut tetap ada, padahal sampah 'pagi'-nya udah diangkut ke Bantar Gebang. (fyi, di Pasar Minggu itu ada tempat penampungan sampah sementara gitu, sumber sampahnya selain dari Pasar Minggu, juga dari warga se-kecamatan Pasar Minggu. Dan setiap hari, sampah sekitaran pasar dikumpulin dalam dua gelombang, gelombang pagi dan malam, untuk kemudian dikirimlah itu sampah ke TPA Bantar Gebang) jadi ternyata Pasar Minggu yang saya pikir bersih di siang hari itu salah. Karena sesungguhnya Pasar Minggu memang tidak pernah bebas dari sampah. Hahaha *tawa miris* Eh tapi pernah deng satu kali Pasar Minggu bersih dari sampah, waktu menjelang penganugerahan Piala Adipura. Beh, itu yang namanya pasar yang super duper kotor, berubah jadi bersih tidak hanya sampahnya, tapi juga bersih pedagang kaki limanya, lho!

Maaf, kalo pemilihan diksi saya tidak bagus dan pengorganisasian kalimatnya tidak baik, ya, hehe udah ngantuk nih. Intinya pesannya tersampaikan lah yaa haha *excuse

Lanjut. Nah, karena liat pasar minggu yang luar biasa kaya akan sampah itu, dan pedagang-pedagangya yang sangat terbiasa buang sampah dimanapun mereka berada itu, saya sebagai GCC Leader #cailah tergerak untuk membuat perubahan hahaha jengjengjeng saya bikin komunitas pengolahan sampah disitu, yang SDMnya dari masyarakat lokal yang diberdayakan. Tujuannya ya untuk mengurangi volume sampah, karena temen-temen tau gak dari hasil ngobrol panjang lebar saya sama senior TekLing UI, silakan di-follow twitternya @evabeatrix, dia bilang masalah sampah itu bukan lagi soal mudah atau tidaknya terurai, bukan lagi pada dikotomi organik dan nonorganik, karena sebenernya ada konsep yang lebih baru dari itu, yaitu degradable dan nondegradable. But beyond of those conception, the problem of trashes is its volume. Ketika sampah lama belum terolah atau terurai secara alamiah, sampah baru muncul, hingga volumenya sudah tidak terkendalikan. Nah, saya tuh pengen orang-orang, setidaknya dalam skala pasar minggu dulu lah, sadar bahwa lifestyle memproduksi banyak sampah yang mereka biasakan itu merupakan sebuah masalah besar, lho. nah makanya, tujuan saya buat bikin komunitas pengolahan sampah itu bukan sekadar ikut-ikutan gaya hidup go green yang sekarang lagi giat dicanangkan, atau sekadar biar warga ngarti cara ngolah sampah bukan. It's not as simple as that. Lebih dari itu, saya mau konsepsi mereka terhadap sampah itu berubah. saya ingin merubah paradigma mereka tentang tanggung jawab pengelolaan sampah. Nah berhubung based on assessment saya kebanyakan pedagang disana memiliki latar belakang pendidikan yang tidak cukup memadai, saya melihat merubah paradigma itu tidak hanya cukup dengan sosialisasi ke pedagang, diskusi, dan sebagainya. Tapi harus ada sesuatu yang menarik mereka untuk berbuat demikian.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa untuk merubah konsepsi masyarakat tentang sampah, mereka harus kita perkenalkan dulu dengan sampah dan kita perlihatkan 'keuntungan nyata' yang akan mereka dapatkan. Karena saya pernah baca di buku intervensi komunitas-nya Prof. Isbandi, katanya masyarakat akan cenederung tertarik dengan sesuatu yang terlihat jelas keuntungannya di mata mereka. Maka jadilah saya memilih untuk mendirikan komunitas pengolahan sampah, dengan harapan dari sana masyarakat akan paham bahwa sampah jika diberi nilai tambah akan bernilai jual tinggi. sehingga harapannya mereka akan lebih menghargai sampah dan gak buang sampah sembarangan.

Fiuh, finally I'm finish telling you about the background of my project. Sorry it is maybe a lil bit irritating your eyes because you'll find so many typos, bahasa amburadul dan acakadul or everything yang adul adul. haha

Anyway, project ini yang mengantarkan saya terpilih sebagai delegasi DKI Jakarta untuk Indonesia Movement Conference. (haha, you know I am so happy for it, although it's neither an international, famous, nor prestigious event, but having been accepted as one of the delegate there means I still have the opportunies to make this project be funded haha which in a broader meaning means my path in realizing this project has been soooo close!) Yeay, because on the D-day I will presentate my proposal about this project di depan dewan juri untuk kemudian dipilih 5 terbaik yang akan dibiayai. Ah bismillah ya. Bismillah.

Oke segitu dulu yaaa, aaaaak maaf tulisannya berantakan haha dadah!

Montag, 8. Oktober 2012

Terdidik bukan Terdikte #EssayGUIM


Ibarat sebuah perang, maka pendidikan merupakan sebuah dapur tempat mencetak prajurit-prajurit baru untuk diterjunkan ke medan perang. Pada dapur tersebut, prajurit-prajurit dididik dengan sebaik – baiknya tentang strategi perang, cara menggunakan senjata dan segala hal lain yang nantinya dapat membuat para prajurit siap menghadapi musuh. Dengan demikian, dapat dilihat betapa pentingnya arti pendidikan bagi keberlangsungan suatu negara. Namun, bagaimana jika ternyata dapur tersebut tidak berfungsi dengan baik? Mungkinkah akan tetap ada prajurit - prajurit unggul yang akan mampu berjuang di medan perang? Masihkan optimisme kemenangan ada di tangan?
Celakanya, menurut pengamatan saya, Indonesia berada pada kondisi dimana 'dapur'-nya tidak berfungsi dengan baik. Walaupun mungkin pemahaman saya tentang sistem pendidikan yang baik masih terlalu dangkal untuk digunakan menilai pendidikan Indonesia. Tetapi, bukankah lebih baik demikian karena itu berarti Anda terlepas dari indikator - indikator teoretis yang terkadang utopis?
Pendidikan, harus mampu mendampingi siswanya dalam menjalani masa tumbuh kembang serta menemani mereka menghadapi dunia. Ketika kita berbicara tentang masa tumbuh kembang dan dunia yang dihadapi, maka kita tidak lagi berbicara dalam konteks siswa dan kepintaran dirinya. Namun, disini kita dipaksa untuk bermain-main pada area kehidupan yang lebih luas, yang memaksa siswa untuk dapat respek terhadap orang di sekitarnya, peduli terhadap lingkungannya, siap menerima caci dan puji yang datang selalu tanpa undangan.
Menyadari hal tersebut, jelaslah disini terlihat bahwa pendidikan tidak bermain pada hanya satu aspek dalam kehidupan siswanya. Tidak bermain di pinggir pantai dengan ombak – ombak rendah tenaga. Tidak bermain pada api lilin dengan goyang temaram. Ya, karena pendidikan bermain pada seluruh aspek kehidupan, tidak pada pantai namun pada laut itu sendiri, tidak pada api lilin namun pada merahnya bara yang mengapi. Sehingga pintar saja dirasa tidak cukup untuk menghadapi dunia, butuh kecerdasan baik secara akademis, spiritual maupun emosional. Oleh karena itu disinilah pentingnya pendidikan berkarakter. Dimana pendidikan bukan hanya sebagai ajang tanam nilai-nilai akademis, namun juga nilai-nilai kehidupan. Karena itu lah yang membedakan manusia dengan hewan sirkus yang ada di pentas-pentas. Karena melalui pendidikan, kita terdidik bukan terdikte.

--
tanpa editan apapun, dibuat untuk memenuhi salah satu rangkaian seleksi pengajar GUIM.
sangat-sangat tidak maksimal essay-nya. substansi dan konklusinya kabur.
maklum baru ngerjain 20 menitan sebelum deadline. ini juga dengan memodifikasi
essay yang udah ada. hahaha *tawamiris
walaupun begitu tapi semoga ya. #semoga

Freitag, 4. Mai 2012

Indonesia, Pertaruhan Nyawa Terakhirmu

Berbicara tentang nasionalisme, maka kadang pikiran kita akan langsung tertuju pada segala hal yang berkaitan dengan rasa cinta tanah air, rasa kebangsaan, atau segala hal yang berhubungan dengan kenegaraan. Ssecara garis besar pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Berkaitan dengan konsep Indonesia sebagai sebuah nation-state, rasa nasionalisme lebih sering diartikan sebagai sebuah ‘ideologi’ rasa kebangsaan, dimana kata nation menjadi national (ajektifa) ditambah dengan imbuhan -isme sebagai sufiks. Maka jadilah nasionalisme sebagai sebuah ideologi kebangsaan, yang juga banyak diartikan sebagai sebuah rasa cinta bangsa. Namun itu kan hanya secara teoretis, yang menjadi pertanyaan disini adalah bagaimana sebenarnya bentuk konkret dari nasionalisme itu sendiri? Apa iya, kita sudah dapat dikatakan memiliki rasa nasionalisme ketika kita rajin mengikuti upacara bendera di sekolah? Atau ketika kita selalu bisa mengangkat tangan dengan benar setiap kali si pemimpin upacara memerintahkan kita untuk hormat pada bendera? Atau ketika kita selalu tertib menundukkan kepala setiap lagu Mengheningkan Cipta dinyanyikan? Atau ketika kita mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah? Atau ketika kita suka menonton film - film berbau perang kemerdekaan? Atau ketika kita selalu menggunakan baju made in Indonesia, sepatu made in Indonesia, serta tas juga made in Indonesia? Saya rasa tidak demikian.
Menurut saya, beberapa hal yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah contoh hal - hal yang dilakukan kita atau orang-orang di sekitar kita, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk menimbulkan rasa nasionalisme. Sedangkan ada tidaknya rasa nasionalisme itu sendiri, atau seberapa besar rasa nasionalisme itu ada dalam dirir kita, tidak akan pernah bisa terukur hingga kita mengalami kejadian berisiko tinggi (Loh, apa nih maksudnya?). Jadi, kejadian berisiko tinggi disini adalah dengan kondisi kita sebagai warga negara Indonesia dan kita dihadapkan kepada beberapa pilihan, yang salah satu pilihannya adalah terus menjadi bagian dari Indonesia atau memisahkan diri dari Indonesia. Kemudian, jika kita berfikir menggunakan akal sehat, terus menjadi bagian dari Indonesia adalah pilihan terakhir atau bisa dibilang sebagai kemungkinan terburuk yang akan kita pilih diantara alternatif lain. Nah, bingung deh, maksudnya apa ya?
Mungkin in-my-opinion-nya saya tentang nasionalisme ini bisa dimengerti dengan contoh berikut ini. Saat itu saya sedang menikmati salah satu acara di stasiun TV yang berlogo burung, kurang tahu burung apa, yang jelas nama stasiun TV-nya Metro TV (ups sebut merek). Sekalian sebut aja kali ya kalo acara TV-nya itu Kick Andy hahaha. Oke, jadi saat itu saya lupa topik utamanya tentang apa, yang jelas saat itu, si Andy (sok akrab) membahas tentang lepasnya TimorTimor dari Indonesia. Salah satu bintang tamunya adalah seorang ibu berusia sekitar 30 tahunan yang akhirnya tetap memilih untuk menjadi bagian dari ratusan juta penduduk Indonesia yang jangankan bisa menjanjikan kesuksesan, menjanjikan kehidupan yang layak sebatas kebutuhan dasar terpenuhi pun pemerintah Indonesia mungkin akan berpikir ulang sekian ratus kali untuk memberikannya, apalagi tempat tinggal mereka jauh di beranda Indonesia sana. Tak terpikir sedikit pun bagi si Ibu itu untuk pindah kewarganegaraan karena sebegitu kuatnya rasa cintanya pada tanah air, sekalipun jika beliau pindah menjadi warga Timor Timor, setidaknya hidup beliau sedikit lebih terjamin. Salut.
Menurut saya, itulah rasa nasionalisme sebenarnya, tanpa imbalan atau iming-iming apapun. Hanya bermodalkan rasa cinta tanah air, si Ibu rela mengorbankan masa depannya, masa depan keluarganya.  Intinya, menurut saya, rasa nasionalisme adalah sesuatu yang hadir di luar common sense, tidak hanya keluar sebagai kata-kata, tetapi tindak nyata. Dan jangan pernah bilang bahwa dirimu bernasionalisme tinggi, jika belum pernah dihadapkan pada pilihan sekrusial itu. Jika Indonesia belum menjadi pertaruhan nyawa terakhirmu.

Lili Nur Indah Sari - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Peserta UI-Student Development Program 2012

Mittwoch, 15. September 2010

Masih Nasionalisme

Menyambung postingan gue sebelumnya, gue jadi mikir. Apa iya, kita udah bisa dibilang punya rasa nasionalisme ketika kita rajin ikut upacara bendera, selalu bisa ngangkat tangan dengan benar setiap kali si pemimpin upacara nyuruh kita hormat ke bendera dan selalu menundukkan kepala setiap lagu Mengheningkan Cipta dinyanyiin, atau ketika kita ikut ekskul Paskibra di sekolahan, ketika kita suka nonton film - film jaman dulu yang isinya tentang perang-perang ngelawan penjajah, ketika kita suka pake baju yang ada gambar Garuda-nya, atau baju yang made in Indonesia, apa dengan begitu kita udah bisa dibilang punya rasa nasionalisme??


Gue rasa nggak deh. Menurut gue, beberapa hal yang gue sebutin tadi itu, cuma contoh hal-hal yang dilakukan kita atau orang-orang di sekitar kita, baik secara sadar maupun gak sadar, untuk menimbulkan rasa nasionalisme. sedangkan ada nggaknya rasa nasionalisme itu sendiri, atau seberapa besar rasa nasionalisme itu, gak akan pernah bisa terukur sampai kita mengalami kejadian beresiko tinggi, dimana jika kita berfikir menggunakan akal sehat, Indonesia menjadi pilihan terakhir yan akan kita pilih, diantara alternatif lain. Nahlo, bingung deh lo. Gua juga bingung ini.

Hemmmmm, contohnya, kayak waktu gue nonton Kick Andy pas ngebahas soal lepasnya TimorTimor dari Indonesia. disana ada Ibu-ibu yang akhirnya tetap memilih untuk jadi bagian dari ratusan juta penduduk Indonesia, daripada pindah kewarganegaraan. Padahal dia tau kalo kehidupannya akan jauh lebih baik kalo dia pindah jadi warga Timortimor. Menurut gue, inilah rasa Nasionalisme yang sebenarnya. Tanpa imbalan atau iming-iming apapun. Cuma bermodalkan rasa cinta tanah air, si Ibu rela mengorbankan masadepannya dan anak-anaknya. Salut gue.

Mittwoch, 18. August 2010

17 Agustus yang ke Seratus

Selamat mengulang hari proklamasi Indonesiaku ;)

Jadi, buat kalian yang belum tau (ada gitu orang yang gak tahu hari lahir negaranya sediri?!), dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2010, Indonesia ulangtahun yang ke 65. Ternyata udah lansia yah negara kita ini. Berarti udah gak boleh capek-capek lagi, dan harusnya udah tinggal menikmati masa-masa tua nan indah. Tapi kayaknya, masih banyak masalah-masalah yang masih harus diurus sama negara setua negara kita ini ya (oke, kali ini gue lagi gak mau ngebahas masalah-masalah yang ada di Indonesia, ganti topik). Entah kenapa, gue ngerasa 17an taun ini tuh biasa banget. Nothing special. Bahkan gue sendiri lupa kalo kemaren itu tujuhbelasagustusan. Mungkin karena lagi bulan puasa kali ya, jadi gak dirayain heboh kayak biasa. Gak ada lomba makan kerupuk, gak ada lomba makan telor, gak ada lomba makan kelereng (?), gak ada pawai keliling kampung, gak ada panggung 'gembira' juga yang biasanya ada artis dangdut sok ngetop-nya, padahal mah orang se-RT juga belom tentu kenal dia semua.

Taaaapi, ditengah semua kehebohan yang ditinggalkan peminatnya itu, ada satu bentuk perayaan yang tetap dilakukan, yep. Upacara 17 Agustus. Gak cuma di Istana Negara, upacara 17an juga diadakan di kantor-kantor dan instansi pemerintah. Termasuk sekolah gue. Sayangnya, upacara di sekolah gue itu dadakan banget persiapannya. Latihan yang harusnya 2 minggu jadi 1 hari. Makanya gak berasa masa-masa latihannya. Gak ada rasa deg-degan karena udah H-sekian. Jadi gue gak nyadar deh kalo bentar lagi 17an. Untungnya, walaupun kita cuma latihan 1 hari, tapi (katanya) hasilnya gak kalah loh sama yang latihan berminggu-minggu.

Oke, karena pas hari H gue gak ikut upacara di sekolah karena ke kecamatan, gue jadi gak tau gimana suasana upacara di sekolah. Yang ternyata pas upacara pesertanya cuma setengah dari murid lebih dikit. Hal ini gue tau, pas besoknya bidang kesiswaan sekolah gue manggil murid-murid yang gak dateng upacara buat baris di lapangan. Dan pas dari balkon gue ngelongok dikit, ada banyak men yang gak dateng. Hampir penuh itu lapangan di sekolah gue. Terlepas dari semua alasan ketidakhadiran mereka yang beraneka ragam bunyinya, terlepas dari posisi gue sebagai anggota Paskibra 28, gue sedih ngeliatnya. Miris.

Masalahnya, ini ulangtahun negara kita gitu. Gak mau apa mereka jadi bagian dari perayaan kecil-kecilan itu?! Ulangtaun mereka aja maunya dirayain, masa ulangtaun negara kita sendiri mereka biarin gitu aja?!

Gue jadi inget, pas kemaren temen gue yang jelas-jelas bukan Paskib, bilang, "ih, apa banget sih mereka tuh pada gak dateng. Gak ada rasa nasionalismenya banget sih?!'' (temen gue loh yang ngomong, bukan gue)

heem, maaf ya kalo ada pihak yang merasa disinggung-singgung, tapi bener juga tuh kata temen gue. Dimana rasa nasionalisme kaliaaaaaaann? Belom juga 17 Agustus yang keseratus, tapi rasa nasionalisme udah hampir terhapus -___-

Mittwoch, 11. August 2010

Kadang kritik hanya menggelitik, bukan membuat bangkit



Hai guys! (tampang sok asik) So, it is my second writing. hahah yang sabar ya bacanya. Semoga gak bikin mual. Amiiiin
Oke, jadi beberapa minggu yang lalu, lebih tepatnya waktu gue ikut GCC YouthCamp, gue ketemu sama mas ADITYAYOGA GARJITO. Wuih, tampangnya seniman banget men. Rambutnya gondrong ampe pinggang, mukanya kejawa-jawaan (jogja banget gitu), badannya padat berisi tapi gak begitu gemuk, kulitnya sawo mateng, yaa gitulah pokoknya. Keliatan kan dari fotonya. Eheh, orangnya yang kedua dari kiri loh, entar salah liat lagi.


Disana (GCC YouthCamp makudnya), dia jadi pembicara pas sesi 'Be Inspired': Big Things can be achieved by starting small. Tuh kan gue masih inget nama sesinya hahaha. Heeem dari namanya aja udah ketauan kan kira-kira materi apa yang mau beliau (cailah) bawakan. Yah, intinya sih memotivasi kita untuk melakukan perubahan yang dimulai dari hal kecil.


Oke, balik lagi ke Mas Adit. If you have seen someone wearing a t-shirt with graphics "I (Garuda) RI", you have to know that the maker of that graphics design is Mas Adit. Beh gaul kaaaaaaaaaann??? Selain itu, dia juga punya gerakan namanya 'Hiduplah Indonesia Raya'. Kata 'Hiduplah Indonesia Raya' sendiri diambil dari potongan lirik lagu kebangsaan kita, lagu Indonesia Raya. Kenapa namanya ituuuuuuuuu?? simpel aja jawabannya. Karena menurutnya, dia udah terlalu pusing dengerin orang-orang di sekitarnya yang cuma bisa mengkritik keadaan Indonesia, bukan malah langsung action untuk mencari solusi. Makanya dia pengen membangkikan rasa nasionalisme rakyat Indonesia lagi, dengan cara yaa itu tadi. Bikin kaos-kaos sama gerakan-gerakan yang mengingatkan kita sama Indonesia.



Dari hasil ngobrol-ngobrol gue sama beliau, gue berkesimpulan bahwa dia sangat sangat sangat kreatif. Yaa, bisa diliat kan dari idenya dia untuk bikin kaos itu, terus gerakan 'Hiduplah Indonesia Raya'-nya, dan kata dia, dalam waktu deket ini, dia bakal bikin acara, dimana dia dan temen-temennya yang lain akan membuatkan foto keluarga buat keluarga-keluarga yang kurang mampu. Kedengerannya simpel dan agak-agak gak penting ya. But, hey! Dont you realize something?! seberapa besar bergunanya (inget, berguna. bukan seberapa penting) foto keluarga itu? Mungkin bagi kita yang tinggal di daerah 'aman-aman aja' kayak di Jakarta, foto keluarga cuma sebagai penghias ruang tamu. Tapi tidak bagi mereka, keluarga - keluarga yang tinggal di daerah konflik, atau keluarga-keluarga yang sangat 'taat' sama Tuhannya, bahkan saking taatnya sampe-sampe mereka rela 'puasa' 24 jam sehari. Sehingga kematian karena kelaparan terasa biasa terjadi. Setidaknya foto keluarga bisa menjadi pengobat rindu buat mereka yang terpisah dengan anggota keluarganya karena perang misalnya.


Itulah kenapa gue bilang dia sangat3x kreatip. Karena dia berpikir cerdas. Daripada buang-buang energi untuk protes dan demo-demo gak jelas, mending langsung action, udah ketauan ada hasilnya. Dan dia juga gak mau buang energi untuk mikirin hal BESAR apa yang bisa bikin perubahan. Cukup dengan liat lingkungan sekitar, lakukan apa yang MUNGKIN kita lakukan, and then, just do it! Keren yak. Dan hasilnya pun di luar dugaan. Coba aja, siapa orang yang gak tau atau at least gak penah liat kaos I (Garuda) RI' itu??


Hem, selain karena pemikirannya yang cerdas, ide-idenya itu loh. Haah, sempet kepikiran gak sih lo sama hal-hal yang dia lakukan itu. Kadang kita mikirnya itu semua terlalu sepele buat menciptakan perubahan besar. Atau, bener juga tuh kata Mas Adit. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu kita hanya untuk sekedar berkritik, protes, teriak-teriak gak jelas di depan gedung DPR, atau kalo udah bosen dan ngerasa aus, pindah ke Bundaran HI, yang banyak airnya jadi kalo aus tinggal mangap. Sehingga pikiran-pikiran kita selalu negatif. jadinya, kita gak bisa menciptakan hal-hal positif. Karena otak kita udah ketutup sama pikiran negatif kita tadi.


Oleh karena itu, hai teman-teman sejawat, seusia, segenerasi, sezaman, senegara, sebangsa, dan setanah air. Cukup sudah protes-protes dan demo-demo sana sini. itu semua cuma buang-buang energi dan duit. Kita udah tau kan kalo di negara kita kemiskinan dimana-mana, baik dari segi ilmu, moral, ekonomi, dll. Makanya, kita jangan ikut-ikutan nunjukkin kemiskinan kita sebagai rakyat Indonesia. Tunjukkan, bahwa dibalik segala kemiskinan kita, kita masih kaya. Kaya ide! Hidup Indonesia!
Posts mit dem Label nasionalisme werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label nasionalisme werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Montag, 25. Juni 2018

(Hampir) 2 Jam Di Pesawat Bersama Emil Dardak [Bukan Tulisan Berbayar]

Kejadian random satu ini berawal dari saya yang super deg-degan di Go-Jek karena harus ngejar flight ke SUB sekitar jam 8 malem, tapi jam 6 sore masih leyeh-leyeh di rumah. Padahal, hari itu adalah hari kerja, artinya kalau saya berangkat ke bandara mepet, saya harus berkompetisi di jalanan dengan manusia-manusia lain yang baru pulang kantor.

Betapa dudulnya saya, waktu itu tuh mikirnya, "Ah, cuma di Halim. Deket." Saya yg dulu sempat jadi anak gaul Kalibata Mall lupa kalau lampu merah Taman Makam Pahlawan Kalibata macetnya nggak ada obat.

Hal lain yang membuat adrenalin saya makin meningkat adalah driver Go-Jek yang nyangkut ke app saya ternyata ibuk-ibuk. Alamak, gimana saya mau minta beliau ngebut ini mah. Tapi ternyata, anggapan saya itu hanya bias gender belaka. Sambil ngobrol intimate ala ala perempuan, doi super ngebut krn khawatir saya ketinggalan pesawat. Makasi banyak, Buk!

Sampe Halim, saya lari-lari, ngos-ngosan, kumus-kumus. Tapi ah, ku tak peduli. Untung saya masih sempet nunggu sekitar 10 menit di boarding room. Anyway, pas berangkat dari rumah, i didnt put on make up at all. Bukan karena nggak sempet, tapi ya emang saya nggak mau aja hahaha. Siapa mau peduli juga sama muka saya di malam hari, lagipula bedak mahal cuy. Hemat lah.

Tiba waktu boarding, saya masuk pesawat. Semuanya terasa biasa saja sampai saya menemukan bahwa bangku saya didudukin bule yang lagi asik baca buku sambil dengerin musik. Tapi, bangku sebelahnya doi kosong. And i thought, that was his seat. Jadi, karena nggak mau ganggu doi, saya duduk di bangku kosong tersebut.

Nggak berapa lama, datanglah lelaki berparas rupawan pake kemeja putih polos dan celana bahan hitam, mengklaim bahwa bangku yang saya dudukin itu adalah bangku dia. Saya pun bingung, saya sampaikan bahwa saya pikir ini bangku si Om Bule sebelah saya. Si lelaki rupawan menunjukkan nomor kursinya dan langsung nanyain nomor kursi si bule.

Jujur, pada detik tersebut, saya udah nggak peduli lagi urusan perbangkuan ini. Ada hal lain yang lebih menarik untuk saya pikirin, ini orang kayak nggak asing ya wajahnya. Seperti wajah mantan saya, tapi, duh, Li, lo nggak punya mantan woy.

Akhirnya, si bule yang awalnya menempati kursi saya pindah ke depan karena ternyata doi salah liat seat number. Sambil masih mikir siapakah gerangan lelaki rupawan ini, saya pun nanya ke si lelaki, dia mau duduk di tengah (di bangku saya) atau di bangkunya di pinggir (yang sudah lebih dulu saya tempati). Dia pun tetep mau di pinggir, di bangkunya. Saya pun bergeser ke tengah.

Kalau di pesawat, saya adalah orang yang sangat disiplin yg sudah pasti memasang setting Flight Mode tanpa harus menunggu peringatan Mba-Mba Pramugari. Tapi oh tapi, ini lelaki rupawan sebelah saya masih buka Youtube. "Oh, mungkin itu offline mode ya Youtube-nya", husnudzan saya begitu. Lha tapi kok, videonya tersendat-sendat macam susah sinyal. Adudu.

Menjelang take off, saya yang biasanya bubuk cantik kalau flight malem (walau saat itu saya bawa buku (yang niatnya) mau dibaca di pesawat sih), menyempatkan diri untuk ngintip-ngintip wajah si lelaki rupawan sebelah saya lewat pantulan bayangan di hp saya. Saya masih penasaran. Fixed, ini orang kayaknya saya kenal. Tapi dimana ya hem.

Entah kenapa, saya lalu teringat baliho Pilkada yang biasa saya lewati setiap kali berkunjung ke Jombang. Ada foto pasangan Cagub-Cawagub Jawa Timur disana. Wah, Emil Dardak kayaknya nih.

Saya berusaha mengingat seperti apa persisnya wajah Emil Dardak. Duh, yang saya ingat, dia ganteng. Tapi gantengnya macam apa, saya kurang paham. Saya sama Bapak di rumah sebenernya sering diskusi tentang beliau dan landscape perpolitikan Jawa Timur, tapi diskusi kami jarang menyoal rupa wajah. Wkwk.

Saya lalu aktifin internet HP, mumpung belum take off. Ehe. Ampun Om Pilot. Saya searching wajah Emil Dardak cepat-cepat. Saya bandingkan dengan sosok yang ada di sebelah saya. Hem, mayan mirip sih. Tapi, saya masih belum yakin.

Saya intip video yang lagi serius banget dia tonton. Di Youtube. Dan pake internet HP. Sesekali buffering pulak. Video yang bikin dia didatengin Mba-Mba Pramugari berkali-kali untuk ngingetin HP yang harus mati. Tapi, dia tetep aja hajar bleh.

Oh, ternyata video debat Pilgub Jatim, ada Khofifah dan Emil Dardak-nya. Bajunya Emil Dardak di video itu mirip dengan apa yang dipake lelaki rupawan sebelah saya.

Aaakk, sebelah saya Emil Dardak nih. Fix fix. Rasanya saya pengen lompat dari bangku. Pengen nengok langsung depan mukanya sambil menjajarkan HP saya yang memuat foto beliau hasil kulik-kulik Google tepat di sebelah wajahnya. Biar shahih aja gitu kalau sebelah saya memang Emil Dardak. Capek kali ngintip-ngintip dari pantulan HP dan mengandalkan kelihaian bola mata terus.

Tapi, ah, sedetik kemudian keyakinan saya pupus. Saya ragu, yakali ah Emil Dardak nggak paham fitur Download Video dan nonton Offline di Youtube. Saya senyum-senyum sendiri. Mayan nih, kalau laki-laki sebelah saya ini beneran Emil Dardak, saya bisa keliatan pinter dikit dengan ngajarin beliau cara hasyiks main Youtube. Tapi eh tapi, seriusan nih Emil Dardak naik pesawat ekonomi? Tanpa pengawal atau ajudan macam orang-orang penting gitu? ihwaw.

Saya mencoba mengumpul-ngumpulkan keyakinan. Emil Dardak juga manusia biasa. Hidupnya sibuk memikirkan kemaslahatan ummat, wajar kalau beliau tak paham fitur Youtube. Jangan kau bandingkan dengan dirimu yang surplus waktu luang, Lil.

Saat saya sudah sepenuhnya yakin bahwa lelaki rupawan yang duduknya tepat sebelah saya adalah Emil Dardak, saya riset dikit-dikit visi misi beliau. Ini masih belum take off, kok. Pesawatnya masih nyentuh tanah. Saya skimming visi misi beliau, berusaha mengingat beberapa keyword. Si pesawat akhirnya benar-benar akan take off. Tap, saya mengaktifkan Flight Mode. Saya tidak sempat mencari bahan obrolan lain.

Ealah, lelaki 'terduga Emil Dardak' sebelah saya ini masih sibuk nonton Youtube wakakak. Pramugari sampai-sampai mendatangi beliau dan benar-benar menunggu di sampingnya hingga beliau mematikan HP-nya. Beliau nggak mengelak dari kesalahannya tersebut dan nurut apa kata Mbak Pramugari. Yes, sekarang beliau tanpa distraksi.

Saya yang tidak mampu menahan senyum mencoba bertanya dengan sopan, "Pak Emil, ya?"

Gesture tubuh beliau dalam menanggapi pertanyaan saya cukup mengesankan saya. Beliau langsung mengubah arah tubuhnya ke arah saya dan menjawab dengan wajah ramah tanpa kesan dibuat-buat, "Iya."

Bahasa tubuh yang sederhana itu cukup memberikan impresi pertama yang positif bagi saya, bahwa beliau adalah pribadi yang terbuka.

Selanjutnya, saya membuka topik dengan membahas visi misi beliau yang akan dibawa dalam pertarungan pilgub mendatang. Jangan bayangkan saya menyebut secara rinci visi misi beliau yang saya baca sebelum take off ya. Saya hanya mengingat keyword, lalu saya kembangkan sendiri sekenanya. Deg-degan takut salah euy.

Dari sana berbagai obrolan mengalir. Kami membahas berbagai hal, dari kebijakan hingga pekerjaan saya. Apa yang beliau rencanakan jika terpilih nanti, target pembangunan, fokus anggaran, dll (ini semi kampanye sih, tapi gapapa, itu hak dia untuk meyakinkan saya bahwa dia adalah kandidat yang tepat). Saya juga sempat menanyakan beberapa pertanyaan filosofis dan mendasar tentang pilihan-pilihan hidup beliau. Sayangnya, saya sudah tidak terlalu ingat detil jawaban beliau. Saya menyesal karena saat sampai kosan tidak langsung menuliskannya. Selama dua jam (kurang dikit sih) kami di pesawat, selama itu pula kami berdiskusi. Tidak ada momen dimana kami kehabisan topik, beliau banyak sharing pengalaman dan gagasan. Yang pasti, saat itu saya belajar banyak. Banyak sekali.

Dari obrolan intensif hampir 2 jam kami selama di udara itu, saya mendapatkan gambaran karakter beliau yang mungkin bisa menjadi pertimbangan teman-teman dalam menentukan Cagub-Cawagub pilihan pada Pilgub serentak 27 Juni besok. Ohya, disclaimer ya, ini murni opini saya. Saya juga tidak terafiliasi dengan pihak mana pun, jadi maaf kalau tulisan ini dinilai menaikkan atau justru menjatuhkan Pak Emil atau pihak lain yang terkait. Saya hanya membagikan apa yang saya rasakan selama bersebelahan dengan beliau (dipengaruhi sedikit dengan opini setelah nonton debat Cagub-Cawagub Jawa Timur deng). Hehe.

Pertama, Emil Dardak adalah benar-benar seorang yang cerdas. Beliau kaya dengan data, jadi kalau ngomong selalu ada dasar datanya. Kemampuan beliau dalam menganalisis dan menarik kesimpulan dari data-data tersebut juga keren. Ini saya rasain waktu ngobrol dengan beliau dan saya lihat di acara debat sih. Setiap beliau memaparkan gagasan, beliau selalu membawa alasan karena datanya begini, maka harus begini, karena kalau begitu, blablabla dan seterusnya.

Beliau punya latar belakang pendidikan yang (seingat saya) berhubungan dengan economic development. Maafkan saya kalau kurang tepat, Pak. Yang jelas, saya melihat bahwa apa yang beliau coba aplikasikan pada setiap kebijakan-kebijakan beliau berakar dari teori yang beliau baca dan pelajari waktu masih sekolah. Saya masih ingat sekali, saat kami mengobrol, beliau beberapa kali bilang, "Menurut X dalam buku....." atau "Kalau kamu tahu dalam teori lalala......." Intinya sih, setiap keputusan yang dia ambil nggak pake pertimbangan commonsense lah. Sedikit banyak beliau (kelihatan) punya ilmunya.

Kedua, beliau sungguh well-experienced di sektor tata kelola kota, pembangunan, ekonomi dan sektor lain yang berhubungan. Beliau sempat bercerita tentang pengalamannya bekerja di World Bank sampai akhirnya mengambil risiko untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Trenggalek. Bahkan, waktu saya bercerita tentang pekerjaan saya yang related dengan sektor community development, beliau dengan cepat langsung menangkap apa yang menjadi tantangan kami di lapangan. Padahal, saya cuma cerita sedikit saja. Tentunya itu bukan karena beliau punya kemampuan cenayang ala ala ya. Tapi, karena pengalaman dia di bidang development sudah luas, jadi ya dia paham betul.

Ketiga, saya senang karena beliau masih muda. Eits, ini bukan berarti 'dia muda maka dia ganteng'  yang bikin saya suka (ala cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. hahaha lucu nggak?). Tapi, menurut saya, idealisme beliau juga merefleksikan jiwa mudanya. Pemikirannya juga segar. Beliau cukup terbuka dengan diskusi dan nggak gampang mutung. Waktu itu sempet saya pancing dengan pertanyaan yang agak sensitif, misalnya pertanyaan tentang alasan dia meninggalkan Trenggalek, padahal masa kepemimpinannya belum selesai, atau pertanyaan tentang kenapa majunya sama Khofifah yang udah berkali-kali mencalonkan diri tapi nggak kepilih-kepilih. Pertanyaan-pertanyaan saya itu beliau jawab tanpa rasa keberatan.

Keempat, beliau sungguh humble, praktis dan dinamis. Percaya nggak, beliau ke bandara naik Go-Jek (Go-Ride lebih spesifiknya) karena takut macet. Tanpa pengawal satu orang pun. Di pesawat juga doi sendirian. Pesawatnya kelas ekonomi pula. Padahal kursi bisnisnya kosong melompong. Bagi beliau, dalam melakukan sesuatu ya pertimbangannya kepraktisan. Bukan semata-mata merakyat atau bahkan pencitraan. Jadi, kalau praktisnya naik motor, ya naik motor aja. Tapi kalau praktisnya naik mobil karena hujan, ya naik mobil. Nggak usah ngotot naik motor biar dianggap merakyat.

Kelima, dan sepertinya menjadi yang terakhir, walaupun Pak Emil Dardak ini menurut saya cukup perfek tipikal kandidat idaman, tapi beliau tetaplah manusia biasa. Ada beberapa sikap beliau yang membuat saya sedikit berkomentar dalam hati, "Hem, gini ya ternyata."

Misalnya, setiap saya mencoba menyampaikan aspirasi saya dan menanyakan berbagai pertanyaan kenapa gini kenapa gitu. Beliau memang tidak mutung, beliau memang tidak tersinggung, tapi beliau langsung meluncurkan jawaban-jawaban untuk meng-counter omongan saya tersebut. Padahal, kalau saya jadi Pak Emil dan kebetulan ketemu rakyat butiran jasjus macam saya, maka saya akan cenderung sedikit bicara dan membuka telinga lebar-lebar. Terlepas dari omongan si rakyat benar atau salah, saya akan coba tampung sebanyak-banyaknya. Bagi saya, kesempatan untuk mendengar perspektif yang berbeda, apalagi dari rakyat biasa macam saya, kan jarang sekali terjadi. Sedangkan, beliau, dengan segala power yang dipunya, apalagi beliau juga sedang mencalonkan diri sebagai Cawagub, beliau punya panggung yang lebih luas dan banyak. Mudah bagi beliau untuk meng-counter atau menjawab argumen apapun. Tapi, nyatanya beliau cukup mendominasi obrolan dan bukan banyak mendengarkan. Entah karena by nature beliau adalah orang yang dominan atau itu hanya kebetulan. Saya kurang paham.

Hal lain, sepanjang obrolan, beliau juga banyak menyebutkan teori-teori atau istilah yang saya kurang paham. Hehe. Entah karena beliau merasa bahwa saya anak muda 'berpendidikan' jadi sudah semestinya paham (kalau iya, berarti saya harus baca lebih banyak buku lagi nih, wawasan saya masih belum mumpuni hiks), atau memang beliau memiliki kecenderungan demikian, membawa sophisticated words ke dalam obrolan dengan orang awam di bidang tersebut. Padahal ya, orang-orang yang well-educated tidak berarti dia menguasai semua bidang lho. Jadi, menurutku sih, toleransi terhadap manusia berbeda bidang itu tetep butuh. Misalnya, kamu yang lulusan S3 Kriminologi belum tentu paham sama istilah-istilahnya anak S1 Planologi. Walaupun, jenjang stratanya lebih tinggi. Atau nama ilmunya mirip pakek logi-logian.

Nah, kurang lebih gitu deh. Mon maap kalau sungguh subjektif, ini kan blog saya, jadi tidak ada tuntutan untuk menyuguhkan tulisan yang netral hahaha. Terlepas dari itu, saya cukup merekomendasikan Khofifah-Emil untuk menjadi pilihan kawan-kawan di hari pencoblosan besok. Pertama, jelas alasannya karena impresi yang saya dapat ketika bersebelahan tempat duduk di pesawat dengan beliau. Walaupun, tidak semua impresinya positif hahahaha. Kedua, saya sempat mengikuti beberapa kali debat Cagub-Cawagub Jawa Timur. Lumayan keliatan sih, Khofifah-Emil memang 'siap memimpin', baik secara data, ide dan gagasan, dibandingkan pasangan lain yang mengandalkan takaran ketidakpastian, seperti "Kalau dari pengalaman saya dulu, blablabla...", atau "Sepertinya ada kurang lebih blablabla...".

Tapi, segalanya tetap kembali lagi kepada kalian wahai kaum yang akan memilih. Kalau kalian memiliki pertimbangan lain, sepenuhnya itu hak kalian. Asal jangan golput aja, kusedih karena harga yang harus dibayar untuk sebuah hak pilih dari seorang warga negara terlalu mahal untuk selembar kertas kosong tanpa lubang coblosan. So, selamat nyoblos! Anyway, saya nggak ikutan nyoblos, karena KTP Jakarta. ehehe.



P.s. we happened to take some good pictures- with my very own barefaced.
Ahya, sawrry, i wouldn't ask for your pardon bcz of my barefaced just like other women did outside.
Cz, ya know, im not that typical woman in the majority haha.


Montag, 4. November 2013

Pahlawan Di Tahun Digit 2000-an

Halo November!
Menapaki bulan November, rasa-rasanya memang tidak lepas dari keriaan hari pahlawan yang akan kita sambut tanggal 10 nanti. Tentunya, sebagai kaum muda, kita memang dituntut untuk lebih dalam memaknai keriaan tersebut. Karena, siap atau tidak, tanggung jawab sebagai pembawa perubahan bagi bangsa itu ada di pundak kita, kawan! Maka, mari berefleksi, sudah sejauh mana sumbangsih kaum muda masa kini dalam upaya membangun bumi pertiwi? Atau, sebenarnya kita masih bertanya-tanya, apa iya bangsa kita masih membutuhkan sosok pahlawan? Lalu, sosok pahlawan seperti apa sebenarnya yang dibutuhkan Indonesia masa kini?

Pada dasarnya, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas sederhana. Sesederhana satu-dua sampah yang berterbangan di pojok lampu merah, atau bunyi klakson yang menggema di langit Jakarta karena kemacetan yang tak tertahankan. Jika dalam keseharian kita masih dapat menemukan hal-hal sederhana tersebut, maka jelas jawabannya, Indonesia masih butuh pahlawan! Indonesia masih butuh mereka yang mau bersama menyebarkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Indonesia masih butuh mereka yang mau membuka mata orang-orang di sekitarnya, bahwa kemacetan sebenarnya buah dari ulah kita sendiri yang enggan berpindah ke transportasi publik karena terlalu nyaman dengan kendaraan pribadi.

Pastinya, di tahun digit 2000-an ini, dengan melihat perkembangan zaman yang luar biasa pesat sekarang, tidak relevan bagi kita untuk tetap berpikir bahwa pahlawan adalah mereka yang gagah membunuh penjajah, bertaruh jiwa dan raga di medan perang, tanpa lupa dengan bambu runcingnya. Hal ini karena musuh yang kita hadapi saat ini bukan lagi musuh-musuh yang bisa mati dengan tembakan peluru atau pun terjangan bambu runcing. Di jaman serba mudah ini, bisa jadi musuh kita adalah diri kita sendiri--dengan rasa malasnya, ketidakpekaannya, dan atribut lain yang membuat kaum muda tidak produktif dan solutif.

Oleh karena itu, kenyataan bahwa Indonesia masih membutuhkan sosok pahlawan, memang telah sama-sama kita sepakati. Namun, jangan lupa juga, bahwa makna pahlawan tersebut juga telah bergeser. Mungkin, ketika jaman dulu ibu-bapak kita bangga bercerita tentang para pahlawan yang gagah di medan perang, kita bisa tunjukkan bahwa berlaga membawa nama Indonesia pada kompetisi internasional adalah juga gagah gaya baru. Ketika pahlawan jaman dulu tak pernah lupa membawa bambu runcingnya, pahlawan masa kini tidak pernah lupa membawa pensilnya yang sudah diraut sampai runcing. Sehingga, akan selalu produktif menulis! Haha.

Intinya, mari berhenti berpikir bahwa isu kepahlawanan macam ini tidak cukup kece untuk dibahas. Juga mari berhenti berimajinasi bahwa pahlawan adalah cerita masa lalu--toh, jika pun ada gambaran pahlawan masa kini, yang muncul adalah tokoh-tokoh manusia (yang menjadi) super karena digigit laba-laba, atau menjadi titisan kelelawar. Karena faktanya, di tahun digit 2000-an ini, Indonesia masih butuh pahlawan-pahlawan muda dengan ide segar dan jiwa besar yang siap bersatu membangun bangsa. Walaupun begitu, jangan dulu berpikir bahwa ini berarti, kita harus membuat suatu terobosan hebat penuh manfaat. Mulai saja dari hal sederhana, karena percayalah, setiap bentuk kecil kebaikan yang kita lakukan, telah menjadikan kita seorang pahlawan--paling tidak bagi lingkungan sekitar.


**Tulisan juga dimuat disini. Waktu IF masih nge-wordpress dan sekarang kita dotcom-ers doong, inspiratorfreak.com

Mittwoch, 5. Juni 2013

Indonesia Movement Conference 2013 #1

Halo, teman-teman! So, It's been about 3 weeks since the IMC 2013 be held. But too bad, I am getting forget every single detailed events happened there whereas I haven't written anything about it here. So, before all the moments fly away from my head, I'm now starting to make it everlasting hahaha

So, Indonesia Movement Conference 2013, or IMC 2013 for short, is a conference for Indonesian youth, organized by the students board of Prasetiya Mulya Business School and held in May 17-19, 2013. In this event, every province was represented by one youth delegate, and maybe because it was their first debut, the province participants are only 26 provinces. And I'm the delegate representing DKI Jakarta yeaaaaay

Anyway, ini kenapa gue jadi speaking english gini? Oke, haha so, in IMC 2013 we discussed much about things to do to make a better Indonesia. Besides, we shared knowledge, ideas, and spirit to be the driver of change in our own province! haha

To specify our focus, the committee divided us (the 26 delegates) into 5 clusters (education, environment, entrepreneurship, youth & leadership, culture) based on our social project. Ahya, before chosen to be delegates, we have to take the selection process which included short essay writing, application form filling, social project paper submission, and so on. Social project I submitted is my Trash me, it works! Movement hahah that's why it was grouped into the environment cluster. Then, in those clusters, we presented our sospro in front of the judges who are experts in every cluster. The 5 best social projects will get an amount of grants to realize their project. So, let's guess then did I become the best 5 social projects? *drumroll* the answer is NOOOOOOOO hahaha

so, are you eager enough to know why I wasn't chosen to be the 5 best projects? to be continued yaak guys, my mom is calling. asking me to nyuci piring. haha
fixed, postingan ini ditutup dengan sangat tidak elit haha


Sonntag, 5. Mai 2013

Jadi ceritanya

Jadi ceritanya saya luar biasa bosen dari tadi subuh mantengin laptop buat nyelesain proposal sospro terbaru saya untuk dikirim ke panitia IMC. Makanya sekarang boleh dong, ya, mampir kesini curhat-curhat dikit. haha

Oke, kebetulan saya memang sudah lama memendam keinginan untuk berbagi tentang project terbaru saya ini, namanya Trash me, it works! Movement haha Project ini berawal dari kurang lebih satu tahun yang lalu ketika harga tiket kereta api melonjak bombastis dan kereta ekonomi semakin sulit ditemukan. Then, I decided to be done with my train-life haha apadeh. Intinya, saya memutuskan untuk berpindah ke lain angkutan umum, yaitu angkot! Nah, rumah saya kan di Pejaten Barat, which means saya harus naik angkot dua kali, karena gak ada angkot yang langsung ke Depok dari sana. Maka jadilah setiap pagi saya transit di Pasar Minggu untuk nyambung angkot ke Depok.

Pas awal-awal lewat Pasar Minggu, saya kagum dibuatnya. Sejak saat itu saya sadar bahwa 'salah' kalo orang-orang bilang di Jakarta gak ada gunung. Buktinya, di Pasar Minggu ada banyak banget gunung, bedanya gunung ini tuh gunung sampah -.- Beberapa kali lewat, saya cukup maklum, saat itu saya pikir, Pasar Minggu kan aktifnya dari tengah malam sampe subuh, jadi wajar aja kalo jam segini itu sampah masih bertumpuk. Problema klasik lah, yang jualan gak mau buang sampah di tempatnya karena ngerasa udah bayar uang kebersihan. Tapi kemudian beberapa hari berikutnya siang-siang lewat Pasar Minggu karena kelas siang, gunungan sampah tersebut tetap ada, padahal sampah 'pagi'-nya udah diangkut ke Bantar Gebang. (fyi, di Pasar Minggu itu ada tempat penampungan sampah sementara gitu, sumber sampahnya selain dari Pasar Minggu, juga dari warga se-kecamatan Pasar Minggu. Dan setiap hari, sampah sekitaran pasar dikumpulin dalam dua gelombang, gelombang pagi dan malam, untuk kemudian dikirimlah itu sampah ke TPA Bantar Gebang) jadi ternyata Pasar Minggu yang saya pikir bersih di siang hari itu salah. Karena sesungguhnya Pasar Minggu memang tidak pernah bebas dari sampah. Hahaha *tawa miris* Eh tapi pernah deng satu kali Pasar Minggu bersih dari sampah, waktu menjelang penganugerahan Piala Adipura. Beh, itu yang namanya pasar yang super duper kotor, berubah jadi bersih tidak hanya sampahnya, tapi juga bersih pedagang kaki limanya, lho!

Maaf, kalo pemilihan diksi saya tidak bagus dan pengorganisasian kalimatnya tidak baik, ya, hehe udah ngantuk nih. Intinya pesannya tersampaikan lah yaa haha *excuse

Lanjut. Nah, karena liat pasar minggu yang luar biasa kaya akan sampah itu, dan pedagang-pedagangya yang sangat terbiasa buang sampah dimanapun mereka berada itu, saya sebagai GCC Leader #cailah tergerak untuk membuat perubahan hahaha jengjengjeng saya bikin komunitas pengolahan sampah disitu, yang SDMnya dari masyarakat lokal yang diberdayakan. Tujuannya ya untuk mengurangi volume sampah, karena temen-temen tau gak dari hasil ngobrol panjang lebar saya sama senior TekLing UI, silakan di-follow twitternya @evabeatrix, dia bilang masalah sampah itu bukan lagi soal mudah atau tidaknya terurai, bukan lagi pada dikotomi organik dan nonorganik, karena sebenernya ada konsep yang lebih baru dari itu, yaitu degradable dan nondegradable. But beyond of those conception, the problem of trashes is its volume. Ketika sampah lama belum terolah atau terurai secara alamiah, sampah baru muncul, hingga volumenya sudah tidak terkendalikan. Nah, saya tuh pengen orang-orang, setidaknya dalam skala pasar minggu dulu lah, sadar bahwa lifestyle memproduksi banyak sampah yang mereka biasakan itu merupakan sebuah masalah besar, lho. nah makanya, tujuan saya buat bikin komunitas pengolahan sampah itu bukan sekadar ikut-ikutan gaya hidup go green yang sekarang lagi giat dicanangkan, atau sekadar biar warga ngarti cara ngolah sampah bukan. It's not as simple as that. Lebih dari itu, saya mau konsepsi mereka terhadap sampah itu berubah. saya ingin merubah paradigma mereka tentang tanggung jawab pengelolaan sampah. Nah berhubung based on assessment saya kebanyakan pedagang disana memiliki latar belakang pendidikan yang tidak cukup memadai, saya melihat merubah paradigma itu tidak hanya cukup dengan sosialisasi ke pedagang, diskusi, dan sebagainya. Tapi harus ada sesuatu yang menarik mereka untuk berbuat demikian.

Akhirnya, saya memutuskan bahwa untuk merubah konsepsi masyarakat tentang sampah, mereka harus kita perkenalkan dulu dengan sampah dan kita perlihatkan 'keuntungan nyata' yang akan mereka dapatkan. Karena saya pernah baca di buku intervensi komunitas-nya Prof. Isbandi, katanya masyarakat akan cenederung tertarik dengan sesuatu yang terlihat jelas keuntungannya di mata mereka. Maka jadilah saya memilih untuk mendirikan komunitas pengolahan sampah, dengan harapan dari sana masyarakat akan paham bahwa sampah jika diberi nilai tambah akan bernilai jual tinggi. sehingga harapannya mereka akan lebih menghargai sampah dan gak buang sampah sembarangan.

Fiuh, finally I'm finish telling you about the background of my project. Sorry it is maybe a lil bit irritating your eyes because you'll find so many typos, bahasa amburadul dan acakadul or everything yang adul adul. haha

Anyway, project ini yang mengantarkan saya terpilih sebagai delegasi DKI Jakarta untuk Indonesia Movement Conference. (haha, you know I am so happy for it, although it's neither an international, famous, nor prestigious event, but having been accepted as one of the delegate there means I still have the opportunies to make this project be funded haha which in a broader meaning means my path in realizing this project has been soooo close!) Yeay, because on the D-day I will presentate my proposal about this project di depan dewan juri untuk kemudian dipilih 5 terbaik yang akan dibiayai. Ah bismillah ya. Bismillah.

Oke segitu dulu yaaa, aaaaak maaf tulisannya berantakan haha dadah!

Montag, 8. Oktober 2012

Terdidik bukan Terdikte #EssayGUIM


Ibarat sebuah perang, maka pendidikan merupakan sebuah dapur tempat mencetak prajurit-prajurit baru untuk diterjunkan ke medan perang. Pada dapur tersebut, prajurit-prajurit dididik dengan sebaik – baiknya tentang strategi perang, cara menggunakan senjata dan segala hal lain yang nantinya dapat membuat para prajurit siap menghadapi musuh. Dengan demikian, dapat dilihat betapa pentingnya arti pendidikan bagi keberlangsungan suatu negara. Namun, bagaimana jika ternyata dapur tersebut tidak berfungsi dengan baik? Mungkinkah akan tetap ada prajurit - prajurit unggul yang akan mampu berjuang di medan perang? Masihkan optimisme kemenangan ada di tangan?
Celakanya, menurut pengamatan saya, Indonesia berada pada kondisi dimana 'dapur'-nya tidak berfungsi dengan baik. Walaupun mungkin pemahaman saya tentang sistem pendidikan yang baik masih terlalu dangkal untuk digunakan menilai pendidikan Indonesia. Tetapi, bukankah lebih baik demikian karena itu berarti Anda terlepas dari indikator - indikator teoretis yang terkadang utopis?
Pendidikan, harus mampu mendampingi siswanya dalam menjalani masa tumbuh kembang serta menemani mereka menghadapi dunia. Ketika kita berbicara tentang masa tumbuh kembang dan dunia yang dihadapi, maka kita tidak lagi berbicara dalam konteks siswa dan kepintaran dirinya. Namun, disini kita dipaksa untuk bermain-main pada area kehidupan yang lebih luas, yang memaksa siswa untuk dapat respek terhadap orang di sekitarnya, peduli terhadap lingkungannya, siap menerima caci dan puji yang datang selalu tanpa undangan.
Menyadari hal tersebut, jelaslah disini terlihat bahwa pendidikan tidak bermain pada hanya satu aspek dalam kehidupan siswanya. Tidak bermain di pinggir pantai dengan ombak – ombak rendah tenaga. Tidak bermain pada api lilin dengan goyang temaram. Ya, karena pendidikan bermain pada seluruh aspek kehidupan, tidak pada pantai namun pada laut itu sendiri, tidak pada api lilin namun pada merahnya bara yang mengapi. Sehingga pintar saja dirasa tidak cukup untuk menghadapi dunia, butuh kecerdasan baik secara akademis, spiritual maupun emosional. Oleh karena itu disinilah pentingnya pendidikan berkarakter. Dimana pendidikan bukan hanya sebagai ajang tanam nilai-nilai akademis, namun juga nilai-nilai kehidupan. Karena itu lah yang membedakan manusia dengan hewan sirkus yang ada di pentas-pentas. Karena melalui pendidikan, kita terdidik bukan terdikte.

--
tanpa editan apapun, dibuat untuk memenuhi salah satu rangkaian seleksi pengajar GUIM.
sangat-sangat tidak maksimal essay-nya. substansi dan konklusinya kabur.
maklum baru ngerjain 20 menitan sebelum deadline. ini juga dengan memodifikasi
essay yang udah ada. hahaha *tawamiris
walaupun begitu tapi semoga ya. #semoga

Freitag, 4. Mai 2012

Indonesia, Pertaruhan Nyawa Terakhirmu

Berbicara tentang nasionalisme, maka kadang pikiran kita akan langsung tertuju pada segala hal yang berkaitan dengan rasa cinta tanah air, rasa kebangsaan, atau segala hal yang berhubungan dengan kenegaraan. Ssecara garis besar pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Berkaitan dengan konsep Indonesia sebagai sebuah nation-state, rasa nasionalisme lebih sering diartikan sebagai sebuah ‘ideologi’ rasa kebangsaan, dimana kata nation menjadi national (ajektifa) ditambah dengan imbuhan -isme sebagai sufiks. Maka jadilah nasionalisme sebagai sebuah ideologi kebangsaan, yang juga banyak diartikan sebagai sebuah rasa cinta bangsa. Namun itu kan hanya secara teoretis, yang menjadi pertanyaan disini adalah bagaimana sebenarnya bentuk konkret dari nasionalisme itu sendiri? Apa iya, kita sudah dapat dikatakan memiliki rasa nasionalisme ketika kita rajin mengikuti upacara bendera di sekolah? Atau ketika kita selalu bisa mengangkat tangan dengan benar setiap kali si pemimpin upacara memerintahkan kita untuk hormat pada bendera? Atau ketika kita selalu tertib menundukkan kepala setiap lagu Mengheningkan Cipta dinyanyikan? Atau ketika kita mengikuti ekstrakurikuler Paskibra di sekolah? Atau ketika kita suka menonton film - film berbau perang kemerdekaan? Atau ketika kita selalu menggunakan baju made in Indonesia, sepatu made in Indonesia, serta tas juga made in Indonesia? Saya rasa tidak demikian.
Menurut saya, beberapa hal yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah contoh hal - hal yang dilakukan kita atau orang-orang di sekitar kita, baik secara sadar maupun tidak sadar, untuk menimbulkan rasa nasionalisme. Sedangkan ada tidaknya rasa nasionalisme itu sendiri, atau seberapa besar rasa nasionalisme itu ada dalam dirir kita, tidak akan pernah bisa terukur hingga kita mengalami kejadian berisiko tinggi (Loh, apa nih maksudnya?). Jadi, kejadian berisiko tinggi disini adalah dengan kondisi kita sebagai warga negara Indonesia dan kita dihadapkan kepada beberapa pilihan, yang salah satu pilihannya adalah terus menjadi bagian dari Indonesia atau memisahkan diri dari Indonesia. Kemudian, jika kita berfikir menggunakan akal sehat, terus menjadi bagian dari Indonesia adalah pilihan terakhir atau bisa dibilang sebagai kemungkinan terburuk yang akan kita pilih diantara alternatif lain. Nah, bingung deh, maksudnya apa ya?
Mungkin in-my-opinion-nya saya tentang nasionalisme ini bisa dimengerti dengan contoh berikut ini. Saat itu saya sedang menikmati salah satu acara di stasiun TV yang berlogo burung, kurang tahu burung apa, yang jelas nama stasiun TV-nya Metro TV (ups sebut merek). Sekalian sebut aja kali ya kalo acara TV-nya itu Kick Andy hahaha. Oke, jadi saat itu saya lupa topik utamanya tentang apa, yang jelas saat itu, si Andy (sok akrab) membahas tentang lepasnya TimorTimor dari Indonesia. Salah satu bintang tamunya adalah seorang ibu berusia sekitar 30 tahunan yang akhirnya tetap memilih untuk menjadi bagian dari ratusan juta penduduk Indonesia yang jangankan bisa menjanjikan kesuksesan, menjanjikan kehidupan yang layak sebatas kebutuhan dasar terpenuhi pun pemerintah Indonesia mungkin akan berpikir ulang sekian ratus kali untuk memberikannya, apalagi tempat tinggal mereka jauh di beranda Indonesia sana. Tak terpikir sedikit pun bagi si Ibu itu untuk pindah kewarganegaraan karena sebegitu kuatnya rasa cintanya pada tanah air, sekalipun jika beliau pindah menjadi warga Timor Timor, setidaknya hidup beliau sedikit lebih terjamin. Salut.
Menurut saya, itulah rasa nasionalisme sebenarnya, tanpa imbalan atau iming-iming apapun. Hanya bermodalkan rasa cinta tanah air, si Ibu rela mengorbankan masa depannya, masa depan keluarganya.  Intinya, menurut saya, rasa nasionalisme adalah sesuatu yang hadir di luar common sense, tidak hanya keluar sebagai kata-kata, tetapi tindak nyata. Dan jangan pernah bilang bahwa dirimu bernasionalisme tinggi, jika belum pernah dihadapkan pada pilihan sekrusial itu. Jika Indonesia belum menjadi pertaruhan nyawa terakhirmu.

Lili Nur Indah Sari - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Peserta UI-Student Development Program 2012

Mittwoch, 15. September 2010

Masih Nasionalisme

Menyambung postingan gue sebelumnya, gue jadi mikir. Apa iya, kita udah bisa dibilang punya rasa nasionalisme ketika kita rajin ikut upacara bendera, selalu bisa ngangkat tangan dengan benar setiap kali si pemimpin upacara nyuruh kita hormat ke bendera dan selalu menundukkan kepala setiap lagu Mengheningkan Cipta dinyanyiin, atau ketika kita ikut ekskul Paskibra di sekolahan, ketika kita suka nonton film - film jaman dulu yang isinya tentang perang-perang ngelawan penjajah, ketika kita suka pake baju yang ada gambar Garuda-nya, atau baju yang made in Indonesia, apa dengan begitu kita udah bisa dibilang punya rasa nasionalisme??


Gue rasa nggak deh. Menurut gue, beberapa hal yang gue sebutin tadi itu, cuma contoh hal-hal yang dilakukan kita atau orang-orang di sekitar kita, baik secara sadar maupun gak sadar, untuk menimbulkan rasa nasionalisme. sedangkan ada nggaknya rasa nasionalisme itu sendiri, atau seberapa besar rasa nasionalisme itu, gak akan pernah bisa terukur sampai kita mengalami kejadian beresiko tinggi, dimana jika kita berfikir menggunakan akal sehat, Indonesia menjadi pilihan terakhir yan akan kita pilih, diantara alternatif lain. Nahlo, bingung deh lo. Gua juga bingung ini.

Hemmmmm, contohnya, kayak waktu gue nonton Kick Andy pas ngebahas soal lepasnya TimorTimor dari Indonesia. disana ada Ibu-ibu yang akhirnya tetap memilih untuk jadi bagian dari ratusan juta penduduk Indonesia, daripada pindah kewarganegaraan. Padahal dia tau kalo kehidupannya akan jauh lebih baik kalo dia pindah jadi warga Timortimor. Menurut gue, inilah rasa Nasionalisme yang sebenarnya. Tanpa imbalan atau iming-iming apapun. Cuma bermodalkan rasa cinta tanah air, si Ibu rela mengorbankan masadepannya dan anak-anaknya. Salut gue.

Mittwoch, 18. August 2010

17 Agustus yang ke Seratus

Selamat mengulang hari proklamasi Indonesiaku ;)

Jadi, buat kalian yang belum tau (ada gitu orang yang gak tahu hari lahir negaranya sediri?!), dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2010, Indonesia ulangtahun yang ke 65. Ternyata udah lansia yah negara kita ini. Berarti udah gak boleh capek-capek lagi, dan harusnya udah tinggal menikmati masa-masa tua nan indah. Tapi kayaknya, masih banyak masalah-masalah yang masih harus diurus sama negara setua negara kita ini ya (oke, kali ini gue lagi gak mau ngebahas masalah-masalah yang ada di Indonesia, ganti topik). Entah kenapa, gue ngerasa 17an taun ini tuh biasa banget. Nothing special. Bahkan gue sendiri lupa kalo kemaren itu tujuhbelasagustusan. Mungkin karena lagi bulan puasa kali ya, jadi gak dirayain heboh kayak biasa. Gak ada lomba makan kerupuk, gak ada lomba makan telor, gak ada lomba makan kelereng (?), gak ada pawai keliling kampung, gak ada panggung 'gembira' juga yang biasanya ada artis dangdut sok ngetop-nya, padahal mah orang se-RT juga belom tentu kenal dia semua.

Taaaapi, ditengah semua kehebohan yang ditinggalkan peminatnya itu, ada satu bentuk perayaan yang tetap dilakukan, yep. Upacara 17 Agustus. Gak cuma di Istana Negara, upacara 17an juga diadakan di kantor-kantor dan instansi pemerintah. Termasuk sekolah gue. Sayangnya, upacara di sekolah gue itu dadakan banget persiapannya. Latihan yang harusnya 2 minggu jadi 1 hari. Makanya gak berasa masa-masa latihannya. Gak ada rasa deg-degan karena udah H-sekian. Jadi gue gak nyadar deh kalo bentar lagi 17an. Untungnya, walaupun kita cuma latihan 1 hari, tapi (katanya) hasilnya gak kalah loh sama yang latihan berminggu-minggu.

Oke, karena pas hari H gue gak ikut upacara di sekolah karena ke kecamatan, gue jadi gak tau gimana suasana upacara di sekolah. Yang ternyata pas upacara pesertanya cuma setengah dari murid lebih dikit. Hal ini gue tau, pas besoknya bidang kesiswaan sekolah gue manggil murid-murid yang gak dateng upacara buat baris di lapangan. Dan pas dari balkon gue ngelongok dikit, ada banyak men yang gak dateng. Hampir penuh itu lapangan di sekolah gue. Terlepas dari semua alasan ketidakhadiran mereka yang beraneka ragam bunyinya, terlepas dari posisi gue sebagai anggota Paskibra 28, gue sedih ngeliatnya. Miris.

Masalahnya, ini ulangtahun negara kita gitu. Gak mau apa mereka jadi bagian dari perayaan kecil-kecilan itu?! Ulangtaun mereka aja maunya dirayain, masa ulangtaun negara kita sendiri mereka biarin gitu aja?!

Gue jadi inget, pas kemaren temen gue yang jelas-jelas bukan Paskib, bilang, "ih, apa banget sih mereka tuh pada gak dateng. Gak ada rasa nasionalismenya banget sih?!'' (temen gue loh yang ngomong, bukan gue)

heem, maaf ya kalo ada pihak yang merasa disinggung-singgung, tapi bener juga tuh kata temen gue. Dimana rasa nasionalisme kaliaaaaaaann? Belom juga 17 Agustus yang keseratus, tapi rasa nasionalisme udah hampir terhapus -___-

Mittwoch, 11. August 2010

Kadang kritik hanya menggelitik, bukan membuat bangkit



Hai guys! (tampang sok asik) So, it is my second writing. hahah yang sabar ya bacanya. Semoga gak bikin mual. Amiiiin
Oke, jadi beberapa minggu yang lalu, lebih tepatnya waktu gue ikut GCC YouthCamp, gue ketemu sama mas ADITYAYOGA GARJITO. Wuih, tampangnya seniman banget men. Rambutnya gondrong ampe pinggang, mukanya kejawa-jawaan (jogja banget gitu), badannya padat berisi tapi gak begitu gemuk, kulitnya sawo mateng, yaa gitulah pokoknya. Keliatan kan dari fotonya. Eheh, orangnya yang kedua dari kiri loh, entar salah liat lagi.


Disana (GCC YouthCamp makudnya), dia jadi pembicara pas sesi 'Be Inspired': Big Things can be achieved by starting small. Tuh kan gue masih inget nama sesinya hahaha. Heeem dari namanya aja udah ketauan kan kira-kira materi apa yang mau beliau (cailah) bawakan. Yah, intinya sih memotivasi kita untuk melakukan perubahan yang dimulai dari hal kecil.


Oke, balik lagi ke Mas Adit. If you have seen someone wearing a t-shirt with graphics "I (Garuda) RI", you have to know that the maker of that graphics design is Mas Adit. Beh gaul kaaaaaaaaaann??? Selain itu, dia juga punya gerakan namanya 'Hiduplah Indonesia Raya'. Kata 'Hiduplah Indonesia Raya' sendiri diambil dari potongan lirik lagu kebangsaan kita, lagu Indonesia Raya. Kenapa namanya ituuuuuuuuu?? simpel aja jawabannya. Karena menurutnya, dia udah terlalu pusing dengerin orang-orang di sekitarnya yang cuma bisa mengkritik keadaan Indonesia, bukan malah langsung action untuk mencari solusi. Makanya dia pengen membangkikan rasa nasionalisme rakyat Indonesia lagi, dengan cara yaa itu tadi. Bikin kaos-kaos sama gerakan-gerakan yang mengingatkan kita sama Indonesia.



Dari hasil ngobrol-ngobrol gue sama beliau, gue berkesimpulan bahwa dia sangat sangat sangat kreatif. Yaa, bisa diliat kan dari idenya dia untuk bikin kaos itu, terus gerakan 'Hiduplah Indonesia Raya'-nya, dan kata dia, dalam waktu deket ini, dia bakal bikin acara, dimana dia dan temen-temennya yang lain akan membuatkan foto keluarga buat keluarga-keluarga yang kurang mampu. Kedengerannya simpel dan agak-agak gak penting ya. But, hey! Dont you realize something?! seberapa besar bergunanya (inget, berguna. bukan seberapa penting) foto keluarga itu? Mungkin bagi kita yang tinggal di daerah 'aman-aman aja' kayak di Jakarta, foto keluarga cuma sebagai penghias ruang tamu. Tapi tidak bagi mereka, keluarga - keluarga yang tinggal di daerah konflik, atau keluarga-keluarga yang sangat 'taat' sama Tuhannya, bahkan saking taatnya sampe-sampe mereka rela 'puasa' 24 jam sehari. Sehingga kematian karena kelaparan terasa biasa terjadi. Setidaknya foto keluarga bisa menjadi pengobat rindu buat mereka yang terpisah dengan anggota keluarganya karena perang misalnya.


Itulah kenapa gue bilang dia sangat3x kreatip. Karena dia berpikir cerdas. Daripada buang-buang energi untuk protes dan demo-demo gak jelas, mending langsung action, udah ketauan ada hasilnya. Dan dia juga gak mau buang energi untuk mikirin hal BESAR apa yang bisa bikin perubahan. Cukup dengan liat lingkungan sekitar, lakukan apa yang MUNGKIN kita lakukan, and then, just do it! Keren yak. Dan hasilnya pun di luar dugaan. Coba aja, siapa orang yang gak tau atau at least gak penah liat kaos I (Garuda) RI' itu??


Hem, selain karena pemikirannya yang cerdas, ide-idenya itu loh. Haah, sempet kepikiran gak sih lo sama hal-hal yang dia lakukan itu. Kadang kita mikirnya itu semua terlalu sepele buat menciptakan perubahan besar. Atau, bener juga tuh kata Mas Adit. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu kita hanya untuk sekedar berkritik, protes, teriak-teriak gak jelas di depan gedung DPR, atau kalo udah bosen dan ngerasa aus, pindah ke Bundaran HI, yang banyak airnya jadi kalo aus tinggal mangap. Sehingga pikiran-pikiran kita selalu negatif. jadinya, kita gak bisa menciptakan hal-hal positif. Karena otak kita udah ketutup sama pikiran negatif kita tadi.


Oleh karena itu, hai teman-teman sejawat, seusia, segenerasi, sezaman, senegara, sebangsa, dan setanah air. Cukup sudah protes-protes dan demo-demo sana sini. itu semua cuma buang-buang energi dan duit. Kita udah tau kan kalo di negara kita kemiskinan dimana-mana, baik dari segi ilmu, moral, ekonomi, dll. Makanya, kita jangan ikut-ikutan nunjukkin kemiskinan kita sebagai rakyat Indonesia. Tunjukkan, bahwa dibalik segala kemiskinan kita, kita masih kaya. Kaya ide! Hidup Indonesia!

Popular posts