Posts mit dem Label rasa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label rasa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Mittwoch, 20. Juni 2018

Magis

Cinta memang magis. Membicarakannya, ibarat mengecap gula-gula manis yang tak habis-habis. Tapi, jangan lupa, ia pedang bermata dua. Salah-salah, berakhir ceritamu menjadi derita.

Sonntag, 17. Juni 2018

Kehilangan Dua

Suatu hari, ayah seorang teman tutup usia. Sebagai penghormatan, saya berkunjung ke rumahnya. Ia sedang bersandar di sudut jendela. Dengan wajah yang biasa-biasa saja. Tapi, sebagai teman lama yang dulu bermain boneka bersama, saya tahu ia menahan duka. Saya bisikkan padanya, "Bersyukur, kehilangan ayah berarti kehilangan satu, ayahmu saja. Kalau ibu yang pergi, kamu kehilangan dua, ibu dan ayahmu sekaligus. Aku sudah merasakannya."

Freitag, 18. Mai 2018

Bapak-Bapak

Pekerjaan saya saat ini membuat saya banyak berinteraksi dengan bapak-bapak. Sudah banyak topik diskusi kami bahas, dari urusan pekerjaan hingga pengakuan kenakalan ketika istri tidak memberikan pengawasan. Khas laki-laki.

Tapi, baru setelah satu tahun lebih bekerja, saya sadar suatu hal. Pada setiap diskusi yang terjadi di antara kami, para bapak tidak pernah alfa bercerita tentang anak mereka. Dengan ketulusan sempurna. Dan antusiasme yang paripurna.

Mereka memuji. Mereka mengunggulkan. Mereka membandingkan anak mereka dengan anak tetangga, anak teman, anak bos atau anak siapa pun, yang pasti, entah rumus perbandingannya seperti apa, anak mereka selalu menjadi juaranya.

Di banyak kesempatan, saya tidak pernah ambil pusing akan cerita-cerita tersebut. Saya lebih sering mengiyakan dengan wajah template antusias. Bagi saya, human being lah ya, membanggakan kepemilikan dan capaian pribadi. Apalagi bagi seorang laki-laki yang hidup di negara patriarkis seperti Indonesia, mampu membina sebuah keluarga ideal dengan anak-anak yang layak dibanggakan adalah sebuah pencapaian. Dan patut dipublikasikan.

Tapi, saat kemarin diskusi serupa terjadi lagi, dengan rekan kerja yang merupakan bapak beranak dua, dengan dialog yang juga hampir serupa, saya menyadari sesuatu yang lebih dalam. Narasi tentang sang anak yang diceritakan berulang-ulang oleh para bapak, sepertinya bukan semata-mata upaya untuk menuntaskan dahaga mereka akan pengakuan orang lain, bahwa hidupnya ideal karena berhasil memiliki istri yang mampu beranak-pinak menciptakan keturunan kebanggaan. Bukan pula karena upaya menciptakan kontestasi remeh-temeh untuk menunjukkan anaknya lebih bernial jual dibanding anak orang lain.

At some point, i noticed their true love for their children lie behind each stories spoken. Sederhananya, semua bapak sayang anaknya. Segala cerita mereka tentang sang anak adalah representasi ketulusan cinta si bapak tentang anak-anak mereka. Yaa, walaupun kadang ceritanya agak hiperbola. Dimana, cerita tersebut, walau lancar dituturkan ke saya, belum tentu demikian di depan anaknya. Bisa jadi, di depan anak-anaknya, para bapak justru cuek. Atau galak. Atau ragu karena menjaga wibawa. Atau kelu karena memang tak pandai menyusun kata. Atau bahkan, sesederhana tak biasa mengekspresikan rasa cinta.

Menarik ya. Fathers always have their own way to show love. We just don't understand. Or not yet understand.

Beliau memang tidak seekspresif ibu, tapi percayalah, takaran cintanya, tak kurang barang setetes dari apa yang dimiliki ibu kita.

Montag, 14. Mai 2018

Mandi di Taman

Malam itu, aku mandi di pancuran taman.
Kamu menghampiri, melempar tatap heran.
Aku ketus.
Kusiapkan jawaban singkat-tapi-komprehensif untuk menjelaskan mengapa aku mandi di sana.
Tapi, kamu melempar tanya yang di luar duga.
"Kenapa mandinya masih dengan kaos dan celana?"
Idealnya, kamu bertanya kenapa aku mandi di taman, pikirku.
"Bukan urusanmu.", begitu yang keluar dari mulutku.
Kamu menjawab singkat dengan hanya satu kata 'oh'.
Lalu pergi.
Aku bingung.
Terasa menggantung.
Sial.
"Hei, belum selesai!"
Aku berteriak tidak terima.
"Apanya? Mandinya? Silakan diselesaikan!"
Jawabmu membelakangiku.
Lalu melenggang.
Sedetik kemudian menghilang.
Dalam titik buta kota.
Tanpa menambah sepatah kata.
Huh

***

Air menggenang di depan pintu kost-mu.
Aku dalangnya.
Kaus dan celana basah yang masih melekat di tubuhku penyebabnya.
Aku mengetuk pintu, kasar.
Tapi juga hati-hati.
Khawatir membangunkan ibu kost-mu.
Bukan apa-apa.
Kalau dia bangun, mati aku.
Bisa ditagihnya tunggakan kost-ku.
Kamu keluar.
Berantakan.
Kamu bertanya ada apa.
Aku menjawab dengan kalimat yang sebelumnya ada di pikirku.
"Idealnya, kamu bertanya kenapa aku mandi di taman."
Kamu menghela napas lambat-lambat.
Dan membuang residunya cepat-cepat.
"Karena aku bukan perempuan ideal seperti yang selama ini kamu pikirkan."

Montag, 7. Mai 2018

Things I Don't Tell People about My IELTS Journey [Bagian Kedua]

Selanjutnya, sekitar awal bulan April 2017, saya pindah penempatan ke Nganjuk. Kertas target yang sama masih saya bawa dan saya tempel di dinding kosan yang baru. Aktivitas belajar IELTS saya pun semakin rutin, walaupun belum ada jadwal khusus dan materi yang dipelajari masih dipilah sesuka hati, bukan berdasarkan kebutuhan.

Saat di Nganjuk, saya juga membuka kelas belajar bahasa Inggris gratis bagi anak-anak SMA di sekitar kosan. Well, saya meyakini bahwa mengajar adalah salah satu cara belajar paling efektif. Lagi pula, saya juga bosan belajar sendiri, jadi ini salah satu cara mencari teman seperjuangan belajar bahasa Inggris. Ehe.

Kelas diadakan seminggu dua kali di kosan saya, setiap hari Jumat sore dan Sabtu pagi. Seru sekali, kosan saya jadi selalu rame. Kenalan saya juga jadi banyak, anak SMA semua pula isinya. Saya merasa lebih muda dari usia sesungguhnya.

Sayangnya, waktu lagi seru-serunya dan deket-deketnya sama dedek-dedek gemesh di Nganjuk, saya harus pindah penempatan. Saat itu, saya kembali lagi ke Madiun. Fokus saya pun agak bergeser, bukan lagi memikirkan IELTS dan S2, tapi merintis SiMaggie. Tiap weekend pasti bolak-balik ke Surabaya untuk ikutan program 1000 Startup Digital.

Setelah satu bulan di Madiun, saya pindah penempatan lagi ke Kediri. Karena udah lama nggak mikir soal IELTS, saya pun mulai nggak pede lagi. Tapi, saat itu saya cukup excited karena daerah penempatan saya dekat dengan Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri. Jadilah saya mulai cari-cari info les bahasa Inggris di Kampung Inggris tersebut. Sayangnya, setelah banyak googling dan tanya sana-sini, saya dapat info kalau les bahasa Inggris di Pare cuma ada di weekdays. Saya nggak nemu sama sekali kelas yang bukanya setiap weekend. Nggak memungkinkan banget buat saya yang kerja full time saat weekdays. Jadilah saya patah hati karena lagi-lagi nggak bisa ikutan les persiapan IELTS. Apa boleh buat, satu-satunya pilihan adalah mempersiapkan IELTS secara mandiri. Tapi, tetep, penyakit nggak istiqomah-nya muncul. Kadang belajar, lebih sering nggak.

Lalu, Desember 2017 akhir, saya pindah penempatan ke Tulungagung. Duh, memasuki tahun baru, saya semakin panik dengan mimpi-mimpi saya. Di lain sisi, persiapan saya tidak kunjung menunjukkan progress. Sampai akhirnya, di Januari tahun 2018, saya malah nekat daftar tes IELTS di bulan yang sama, tepatnya tanggal 20 Januari 2018 di Surabaya. Tanpa pikir panjang, uang pendaftaran saya transfer dan yaks seketika saya tidak punya pilihan untuk mundur atau santai-santai lagi. Waktu yang saya punya tinggal 3 minggu menuju hari H tes.

Saya tidak paham mengapa saya bisa-bisanya nekat mempertaruhkan uang dengan nominal yang tidak sedikit tersebut untuk tes IELTS. Padahal, saya tidak pernah benar-benar belajar IELTS sebagai modal untuk memenangkan pertaruhan tersebut. Well, mungkin ini dipengaruhi oleh obsesi saya terhadap kisah heroik Thariq bin Ziyad yang terkenal itu. Ketika ia memutuskan membakar kapalnya untuk menghilangkan pilihan mundur dari peperangan saat menuju Andalusia. Agar tidak ada jalan lain selain menghadapi pertarungan yang terjadi di depan mata. Walaupun, beberapa ulama sejarah melemahkan kisah tersebut dan menyatakannya sebagai kisah fiktif, tapi kisah tersebut terlanjur membekas di kepala saya.

Di sisa waktu yang ada, saya kebut latihan soal-soal yang ada di print out ebook IELTS Cambridge yang sudah sejak dulu saya bawa kemana-mana. Saya banyak membaca blog-blog yang menjelaskan secara detil tentang hal-hal yang diujikan dalam IELTS. Saya juga rajin menonton channel-channel Youtube tentang IELTS, TEDTalks dan berbagai video lain yang berbahasa Inggris yang menjadi teman baik saya dalam mempersiapkan tes, utamanya untuk section writing, speaking dan yang pasti listening. Lebih jauh soal bagaimana trik berlatih saya akan dijelaskan pada tulisan terpisah ya!

Seminggu terakhir menjelang tes IELTS, saya sudah tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Saya sakit demam, pusing dan mules karena nervous. Setiap saya cerita ke Bapak tentang kondisi saya yang semakin mengkhawatirkan menjelang tes, beliau hanya menjawab enteng, "Udah biasa itu. Kalau Kakak mau tes, pasti sebelumnya Kakak sakit dulu." Tetot, bener juga sih kata Bapak. Ini udah kebiasaan saya sejak SD. Sebelum saya tes, ujian atau lomba, pasti saya sakit dulu. Huh, ternyata kebiasaan itu terbawa ya sampai saya sebesar sekarang.

Di hari Jumat tanggal 19 Januari 2018, saya masih masuk kantor. Sambil menunggu batas absen finger print sore pukul 17.00 WIB, saya beres-beres dan pamit ke teman-teman kantor cabang. Nggak lupa juga minta doa ke mereka supaya tes yang akan saya jalani diberikan kelancaran.

Tepat pukul 17.00 WIB, saya absen dan order Grab menuju ke perempatan jalan besar untuk menunggu Bus Harapan Jaya tujuan Surabaya. Perjalanan Surabaya - Tulungagung memakan waktu sekitar 5 jam. Di bus, saya sudah nggak bisa belajar karena mual dan ngantuk, tapi mau tidur nggak tenang rasanya.

Saya tiba di Terminal Bungurasih Surabaya sekitar jam 10 malam. Beruntungnya, Terminal Bungurasih adalah terminal besar, jadi masih ramai hingga larut malam. Saya pun segera order Go-Jek untuk mengantar saya ke kosan Hanum, karena saya akan menginap di sana. Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memudahkan urusan Hanum, sebagaimana ia memudahkan urusan hamba-Mu ini.

Saya tiba di kosan Hanum sekitar jam setengah 11 malam. Saya mandi, bersih-bersih, terus ngobrol sama Hanum sampai jam setengah 12 malam. Saya sempat buka Youtube untuk mengejar materi writing yang belum sempat saya tonton (tetep yes deadliner). Tapi, saya sudah nggak bisa fokus dan ngantuk. Jadi, saya bobok saja.

Peserta tes diminta untuk hadir di lokasi tes pukul 08.00 pagi. Tapi, Hanum mau pulang ke Kediri dan sudah dijemput temannya sekitar jam 06.00 pagi. Jadi lah saya ikutan cabut dari kosan Hanum dan cuss langsung ke IALF, lokasi tes IELTS di Surabaya. Sampai di sana, suasana masih sangat sepi. IALF masih tutup, tetapi satu dua peserta tes sudah ada yang menunggu di lobi. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu di pinggir jalan. Alhamdulillah, ada warung tenda yang menjual nasi bungkus di seberang IALF. Saya beli dua bungkus sekaligus, satu untuk sarapan, satu lagi untuk persiapan makan siang, agar saya nggak perlu repot-repot keluar cari makan lagi.

Sekitar jam 08.00, peserta tes diarahkan untuk antre menitipkan tas. Barang yang boleh dibawa hanya tempat minum dan ID Card. Setelah itu, satu demi satu peserta naik ke lantai dua untuk masuk ke ruang tes. Di depan ruangan, kami diminta untuk antre lagi, kali ini untuk pengambilan foto setengah badan, sidik jari dan pemeriksaan pakaian yang kami kenakan. Jadi, kalau masih ada barang-barang yang seharusnya tidak dibawa, harus langsung dititipkan. Termasuk alat tulis yang saya bawa juga harus dititipkan, karena setiap peserta akan dipinjamkan pensil serta penghapus di ruangan tes.

Tepat pukul 09.00, tes dimulai. Dibuka dengan listening, lalu reading, terakhir writing. Luar biasa jackpot, saya mendapatkan soal tes writing yang semalam belum sempat saya pelajari. Duh, Gusti. Saya mencoba mengerjakan sebisanya. Keseluruhan tes tertulis selesai sekitar pukul 12.00 WIB. Kami keluar ruangan untuk menanti jadwal speaking. Saya sendiri mendapat jadwal speaking pukul 17.00 dengan interviewer yang, dari namanya, sepertinya Chinese.

Sambil menunggu, saya makan nasi bungkus yang pagi tadi saya beli. Sambil makan, saya mengobrol dengan ibu-ibu yang sejak awal sudah saya tandai kehadirannya. Kerudungnya menjulur lebar, baju gamisnya longgar, wajahnya bareface tanpa make up sama sekali. Namanya Mba Listi. Seluruh praduga saya saat pertama kali melihat kehadirannya salah. Bahwa sepertinya kala itu adalah tes IELTS-nya yang pertama, bahwa sepertinya ia butuh IELTS score untuk melamar beasiswa master degree, bahwa toh kalau pun dia ingin melanjutkan S3, sepertinya S2-nya ia jalani di dalam negeri. Ternyata, itu salah semua. Faktanya, ia adalah seorang dosen di sebuah universitas yang ada di Kalimantan, alumni program master degree di Michigan State University. IELTS-nya kali itu bukan yang pertama, karena sekian tahun sebelumnya, ia pernah menjalani tes serupa untuk ikhtiarnya mendapatkan beasiswa kuliah S2 di luar negeri. Sampai akhirnya, Allah memuarakan takdirnya sebagai awardee Beasiswa Prestasi. Maasya Allah. Jangan pernah menilai orang dari penampilannya, Lil!

Setelah banyak mengobrol, Mba Listi pamit karena akan pulang sebentar ke rumah saudaranya di Surabaya. Makan siang saya pun sudah selesai dan saya lanjut ke musholla untuk bobok siang. Ya, kamu nggak salah baca, saya mau bobok siang. Ini serius. Saat itu, pusing kepala saya kampuh lagi, badan saya pun demam lagi. Setelah sholat dzuhur, saya pun merebahkan badan. Untung musholla-nya sepi.

Tidak lama setelah itu, datang seorang ibu yang juga peserta tes. Beliau adalah dosen FKG di salah satu universitas di Surabaya. Dengan memegang buku teks, dia melatih kemampuan speaking-nya. Kemudian, datang pula mbak-mbak yang baru saja menyelesaikan tes speaking-nya. Ia menceritakan pengalaman tes speaking-nya yang tidak begitu memuaskan. Interviewer-nya berwajah intimidatif, bicaranya tidak mudah dipahami, serta topik diskusinya terlalu spesifik dan tidak umum--tentang periode sejarah. Alamak, dia bikin saya tambah mules.

Alhamdulillah-nya, karena saya sudah tidak lagi memiliki energi untuk panik, saya hanya melempar senyum semangat kepadanya, sambil terus memberikan afirmasi positif kepada diri saya sendiri bahwa hal negatif yang terjadi padanya, bisa jadi sebaliknya pada saya.

Sekitar pukul 4 sore, saya menguat-nguatkan diri untuk berjalan keluar musholla. Dengan sedikit tertatih, asik dah drama dikit, saya naik tangga dan memasuki ruang tunggu tes. Di sana, saya sempatkan untuk sekali lagi berdoa, saya pasrahkan hasil dari segala ikhtiar yang saya lakukan. Allah yang paling tau apa yang terbaik bagi saya, kalau pun toh nilai saya kelak tidak mencukupi, Allah pasti memberikan rezeki lebih untuk saya mendaftar tes lagi.

Setelah itu, saya juga membaca-baca beberapa artikel tentang tips speaking, siapa tau ada high level vocab yang bisa saya gunakan saat tes nanti. Sekitar jam 16.40, saya dipanggil untuk masuk ke ruangan tes. Waktu tes saya lebih cepat dari jadwal. Saya masuk ruangan dengan kondisi tangan dingin. Sudah biasa, kalau lagi deg-degan, tangan saya pasti dingin. Ruangan tes juga dingin ternyata, lengkap sudah ketegangan saat itu.

Saya menyalami si mas-mas interviewer dengan gerakan tangan yang meberikan kesan bahwa saya sangat antusias. Ternyata benar, beliau Chinese. Dia menanyakan kondisi saya, saya jawab jujur kalau saya sedang tidak enak badan but still okay for an interview. Saya pasang muka excited dan senyum manis meyakinkan, seolah saya sangat menantikan momen interview tersebut.

Saat interview berjalan, berbagai kekonyolan dan keajaiban terjadi bersamaan. Si interviewer membuka sesi speaking dengan omongan super duper cepat. Semacam dia sudah jutaan kali ngomong kalimat yang sama, makanya sudah sangat hafal di luar kepala. Kalau boleh jujur, saya nggak paham apa yang dia omongin, saya cuma modal manggut-manggut dan senyum lebar saja.

Masuk ke sesi short question, si interviewer menanyakan pertanyaan yang cukup umum dan wajar. Jadi, Alhamdulillah saya bisa handle dengan baik. Setelah itu, masuk ke sesi pertanyaan yang agak lebih panjang. Lagi-lagi, karena dia ngomongnya cepet, saya nggak paham. Beberapa kali pertanyaan dari dia saya jawab dengan pertanyaan juga, "Pardon me?". Tepatnya sih sampai tiga kali untuk sebuah pertanyaan yang sama. Hingga akhirnya, karena saya tetap nggak paham, saya jawab dengan sekenanya. Wajah si babang menunjukkan ekspresi nggak puas dan kecewa dengan jawaban saya. Entahlah. Yang pasti, sesi 15 menit interview itu terasa sangat cepat sekali. Tau-tau udah selesai dan saya pun keluar ruangan. Jujur, saya tidak puas dengan hasil interview saya tersebut. Banyak pertanyaan yang tidak saya jawab dengan jawaban terbaik. Tapi, ya sudah lah, saya tidak dapat berbuat apa pun selain berdoa semoga Allah berikan hasil terbaik sesuai kebutuhan. Selanjutnya, mari move on ke urusan saya yang lain.

"Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain." (QS. Al-Insyirah: 7)

Hari itu, selesai tes IELTS, saya masih belum bisa pulang ke Tulungagung. Saya sudah janji dengan Deva, salah satu dedek gemesh yang dulu pernah ikut kelas belajar bahasa Inggris saya di Nganjuk, untuk mengisi acara English Day yang diadakan organisasi rohis di sana. Saat itu, saya benar-benar tidak paham, energi dari mana yang membuat saya tetap mampu melanjutkan perjalanan kurang lebih 4 - 5 jam dengan bus ke Nganjuk setelah lama perjalanan yang sama antara Tulungagung - Surabaya di malam sebelumnya dan tes IELTS di hari setelahnya dengan tubuh yang hampir tumbang. Pikir saya saat itu cuma satu, surat Muhammad ayat 7. Rumus sederhana yang dulu selalu diulang-ulang murabbi saya.

"Hai, orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Dengan niat tersebut, saya bulat-bulatkan tekad untuk berangkat ke Nganjuk, walau kala itu rasanya sudah ingin bilang ke Deva bahwa saya tidak jadi ke sana. Dengan energi yang tersisa, sekitar jam setengah 6 sore, saya bergegas ke Terminal Bungurasih dengan Go-Jek dan naik bus Mira jurusan Nganjuk - Yogyakarta. Sambil di jalan, saya terus merapalkan doa, biar Allah yang mampukan. Allah yang akan mampukan.

Sekitar jam 10 malam, saya tiba di rumah Deva. Karena sudah lama tidak bertemu, kami bertukar cerita hingga hari menjelang berganti. Maasya Allah, bangga sekali saya dengan adik-ketemu-besar saya satu ini. Di tengah kesibukannya mempersiapkan UN dan berbagai ujian masuk kampus, dia masih mau merepotkan dirinya untuk kegiatan rohis. Saya jadi malu dan belajar banyak sekali darinya. Insya Allah, apa yang ditanam di jalan Allah, balasannya langsung dari Allah ya, Dik :)

Setelah temu kangen, update kabar dan kenal-kenalan dengan keluarga Deva, kami bobok di kamar Deva yang mirip kamar-kamar di FTV. Lucu banget loh kamarnya Deva, posisinya di lantai mezzanine dan full dari kayu jati, berasa di film-film Korea gitu (Lah, kayak lo paham film Korea aja, Lil -___-).

Besoknya, pagi-pagi sekali, kami mempersiapkan materi English Day, mengatur tata letak venue acara yang berupa ruangan bekas cafe pinggir jalan milik orang tua Deva, mengangkut peralatan acara, dll. Duh, saya berasa jaman SMA dulu ngerjain proker, wkwk. Setelah itu, kami sarapan dengan menu yang sudah dibuatkan oleh mamah-nya Deva. Terima kasih, Tante!

Sekitar jam 8 pagi, satu per satu peserta acara yang masih berusia SMP dan SMA berdatangan. Acara dimulai sekitar pukul 9 pagi. Kami bermain games, belajar listening dengan mengisi lirik lagu, belajar tenses, latihan wudhu dengan hanya segelas air, dll. Seru sekali! Saya berasa muda lagi ih gaulnya sama anak-anak SMP dan SMA. Kegiatan selesai sekitar pukul 5 sore dengan kondisi suara saya habis karena teriak-teriak. Maklum, mic-nya tidak bekerja sama dengan baik, padahal lokasi kegiatan tepat di pinggir jalan besar yang banyak dilewati truk dan bus antarkota, jadilah saya teriak dikit-dikit yaks.

Setelah kegiatan selesai dan segala peralatan telah kami rapikan, Deva mengantar saya untuk naik bus menuju Tulungagung. Tapi, sebelum itu, kami makan bakso kesukaan kami berdua dulu dongs. Perjalanan menuju Tulungagung terasa sangat-sangat lama dan melelahkan, padahal cuma 3 jam perjalanan. Mungkin karena saya harus ganti bus di Kediri dengan energi yang benar-benar tinggal sisa-sisa. Apalagi besok pagi saya harus bekerja. Duh, rasanya saya ingin cepat-cepat sampai kosan dan bobok cantik.

Hari ini, kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya saya nggak akan kuat lah mengulang perjalanan panjang Tulungagung - Surabaya - Nganjuk - Tulungagung hanya dalam waktu 3 hari. Dimana, Alhamdulillah-nya, saya selalu hanya hampir tumbang, tidak pernah benar-benar jatuh sakit yang mengharuskan saya hanya berbaring di kasur. Seolah, energi saya selalu hanya hampir habis. Tidak benar-benar habis. Allah benar-benar kuatkan.

Kini, ketika pada akhirnya saya tahu skor IELTS saya yang ajaib itu, saya hanya bisa tersenyum malu. Ah, Allah, budi baik apa yang telah hamba lakukan sehingga hamba berhak atas skor tersebut? Sungguh, betapa saya yakin, itu semua karena doa tulus orang-orang di sekitar saya sudah mengungguli doa saya yang terhalang dosa. Well, Allah memang selalu punya kejutan bagi hambanya yang tak putus berharap, tak payah berusaha dan tak hitung-menghitung dalam berbagi. Makanya, tips selanjutnya nih untuk teman-teman yang juga akan tes IELTS, yuk ah doanya dikencengin, belajarnya dibanyakin dan hasilnya dipasrahin. Allah sudah menyimpan rencana terbaik bagi hamba-Nya.


Seqyan.

Kebumen, 12 Mei 2018
akhirnya selesai juga tulisan iniiiiiiii. Huff. Semoga bermanfaat. Untuk tips yang lebih practical, tunggu aja yes.

Donnerstag, 1. Februar 2018

Lil's Movie Review: Belajar Parenting dari Film Wonder

Kemarin malam akhirnya saya menuntaskan film Wonder setelah berbagai drama internet kosan yang sungguh tidak mendukung. Mungkin karena saya nontonnya via jalur ilegal ya, jadi ada aja halangannya. Mon maap nih, soalnya saya sedang penempatan di Tulungagung dan Wonder nggak ditayangin di bioskop lokal sini. Walaupun itu bukan pembenaran sih ya. Ehe.

Oh ya, i'm a big fan of movie drama. Makanya, ketika baca review film Wonder dan menemukan bahwa film ini genre-nya drama keluarga, saya tertarik banget-banget. Walaupun, beberapa review film terlalu meng-highlight kondisi wajah Auggie- tokoh utama dari film ini, yang tidak sempurna dengan beberapa bekas luka operasi. Dimana introduksi tentang kondisi wajah dan penyakit yang diderita Auggie membuat saya agak males nonton hehe. Karena saya tidak terlalu tertarik menonton film drama yang ceritanya seputar struggling-nya si tokoh melawan penyakit. Bukan karena saya tidak empati dengan penderita penyakit tersebut, tetapi lebih karena jalan cerita yang pada akhirnya mudah tertebak aja.

Well, tapi, ketika saya nonton, praduga saya tersebut ternyata salah. Film ini sama sekali nggak ngebahas soal penyakit-nya si Auggie serta bagaimana ia melawan penyakitnya. Wonder menurut saya benar-benar sebuah film drama keluarga yang memberikan gambaran bagaimana sebuah keluarga berbesar hati dealing dengan Auggie dan tampilan fisiknya yang berbeda dengan anak kecil kebanyakan.

Cerita bermula ketika ibunya Auggie yang diperankan oleh Julia Roberts memutuskan untuk memasukkan Auggie ke sekolah umum setelah sekian lama Auggie diikutkan home schooling. Menurutnya, sudah saatnya bagi Auggie bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Auggie yang tadinya menolak ide tersebut pada akhirnya menerima keputusan ibunya. Hal yang sangat menarik bagi saya, yang merupakan early adult ini, adalah bagaimana orang tua Auggie membiasakan bernegosiasi dengan setiap anggota keluarga. 

Orang tua Auggie memperlakukan Auggie selayaknya orang dewasa, yang bisa diajak bertukar pikiran, yang punya pandangan personal, dan sebagainya. Scene favorite saya adalah ketika Auggie mengalami hari yang buruk di hari pertamanya pergi ke sekolah. Orang tua Auggie yang membiasakan kegiatan makan di meja makan sebagai momen untuk saling berbagi cerita, menanyakan Auggie bagaimana pengalaman sekolah hari pertamanya. Tetapi, Auggie justru meninggalkan meja makan setelah sebelumnya menjawab pertanyaan orang tuanya dengan nada yang agak tinggi. Lalu, ibu Auggie mendatangi Auggie ke kamar dan mengajaknya untuk bicara empat mata. Tidak memarahi, tidak menghakimi. Ia memperlakukan Auggie sebagai anak yang punya kontrol atas sikap yang dia tunjukkan.

Another favorite scene juga ketika Ibu Auggie bertengkar dengan kakak perempuan Auggie. Ayah Auggie yang saat itu kebetulan ada di sana diminta untuk membiarkan mereka menyelesaikan urusannya berdua saja. Keren! Dan masih banyak adegan-adegan lain di film Wonder yang menurut saya ilmu parenting banget. Sangat bisa untuk coba diterapkan di keluarga kita kelak. Hasyik.

Terlepas dari itu, alur cerita Wonder ini maju mundur dari beberapa sudut pandang orang-orang yang involved secara signifikan di kehidupannya Auggie. Misalnya, Via- kakaknya Auggie, yang digambarkan merasa kecewa karena keluarganya terlalu fokus memperhatikan Auggie dan lupa dengannya yang, bagaimana pun juga, masih 'anak-anak'. Ah ya, part ini saya juga suka sekali, karena awalnya saya mengira bahwa Via akan digambarkan berkonflik dengan Auggie. Tapi ternyata, Via digambarkan tidak meluapkan itu ke Auggie dan justru lagi-lagi mengajak Auggie untuk bernegosiasi dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan di hidup mereka berdua.

Sudut pandang lain juga digambarkan berasal dari Jack Will yang merupakan teman baik Auggie di sekolah, seperti tentang bagaimana awal mula ia bisa dekat dengan Auggie sampai terjadi konflik di antara mereka. Saya juga suka ketika Jack Will bertengkar dengan teman Auggie lain (saya lupa namanya) dan Jack Will di-skors dari sekolahnya. Tetapi, kepala sekolahnya menyebutkan bahwa ia menghargai Jack Will yang berkelahi untuk membela Auggie. 

Tapi, yang kurang dari Wonder ini, menurut saya, adalah ending-nya ketika Auggie mendapatkan penghargaan dari sekolah. I just don't get the reason why he deserves the award. Bahwa, setelah ada dia, teman-teman sekolahnya belajar how to deal with differences, iya sih. Tapi kan bukan berarti dia yang membuat mereka semua belajar. He just do the way he is supposed to do. Hem gitu nggak sih? menurut ku sih gitu wk. Karena penghargaan itu terlalu maksa ehe.

Intinya, Wonder ini recommended banget untuk jadi tontonan keluarga. Film ini banyak mengajarkan kita tentang empati, penerimaan, persahabatan dan yang paling utama, nilai-nilai keluarga sebagai pondasi paling utama kehidupan manusia. 


Rating: 4.5/5
After Taste: Pengen banyak-banyak self talk untuk kurang-kurangin berprasangka sama orang.

Mittwoch, 31. Januar 2018

Lil's Movie Review: Nonton Coco Bikin Pengen Peluk Keluarga

Saya selalu suka film-film besutan Pixar. Tapi, biasanya, saya mulai dari liat visualnya. Yaa namanya juga film animasi, kalau bagus penampakan tokoh-tokohnya, ya lanjut nonton, kalau nggak menarik ya saya skip. ehe.

Untuk Coco sendiri, impresi pertama saya saat lihat visual tokoh-tokohnya, saya nggak terlalu tertarik. Hahaha. Bukan karena jelek, cuma not my typical movie animation aja. Tipikal animasi saya itu macam Up (wkwk, mainstream banget yes) dan Despicable Me, yang tokohnya agak rounded (hem, piye maksute ya).

Tapi, karena menurut sebagian orang alur cerita Coco bagus, saya tetep lanjut nonton. Walaupun, ketika awal orang bilang kalau Coco cerita tentang anak kecil yang masuk ke alam kubur, saya udah agak males. Takutnya ceritanya jadi ala ala mistis versi kartun gitu. Tapi, ternyata nggak kok, kata orang-orang, ini film keluarga.

Secara umum, Coco bercerita tentang seorang anak kecil bernama Miguel yang terlahir dari keluarga besar pembuat sepatu. Bisnis sepatu keluarganya sudah dijalankan secara turun temurun, sehingga, tidak mungkin bagi Miguel untuk tidak ikut melanggengkan bisnis tersebut. Di sisi lain, Miguel cilik punya ketertarikan yang besar dengan musik. Dia sangat terobsesi dengan legenda musik De La Cruz, sampai-sampai dia menghafal setiap dialog pada potongan film yang diperankan De La Cruz. Padahal, keluarga besar Miguel sangat-sangat membenci musik. Mereka tidak menoleransi setiap anggota keluarga yang ketahuan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan musik, termasuk Miguel. 

Pada film, alasan mengapa keluarga tersebut membenci musik dijelaskan secara eksplisit di awal cerita. Bahwa Mama Imelda, yang merupakan mamanya mama buyut Miguel, ditinggalkan oleh suaminya yang ingin mengejar mimpi bermusiknya. Sehingga, Mama Imelda harus membesarkan Coco- anak semata wayangnya yang merupakan mama buyut Miguel, seorang diri. Mama Imelda lalu mulai membuat sepatu untuk bertahan diri. Hingga bisnisnya menurun ke generasi orang tua Miguel. Alasan kepergian suami Mama Imelda itu pula yang membuat keluarga besar tersebut begitu membenci musik. Bahkan, sosok suami Mama Imelda sendiri berusaha untuk dilupakan oleh keluarga tersebut. 

Drama selanjutnya berlanjut seputar cerita Miguel yang berusaha untuk mencapai mimpi bermusiknya. Nah, untuk tau kelanjutannya bagaimana, kalian bisa nonton sendiri ya. Nggak asik kalau saya ceritakan. Hehe

Pokoknya, jalan cerita Coco ini cukup worth it untuk dinikmati. Semacam mengingatkan kita kembali tentang betapa berharganya keluarga yang kita punya saat ini. Buat teman-teman yang suka film musikal, Coco ini cukup recommended juga. Walaupun bukan tergolong film musikal, tapi terdapat beberapa scene nyanyi dengan petikan gitar yang ciamik. Tapi, bagi saya sendiri, favorite scene-nya saat Miguel terdampar bersama lelaki homeless yang saya lupa namanya (wkwk, padahal dia salah satu tokoh utamanya). Di sana ada plot twist menjelang ending cerita yang nggak ketebak banget. Super keren buat penulis filmnya!


Rating: 4/5
After Taste: Pengen peluk bapak sama adek yang lama tak jumpa karena saling merantau :(

Dienstag, 22. Juli 2014

Susi dan Santi

Mungkin malam itu akan menjadi sehancur-hancurnya malam bagi Susi. Cerita dari temannya yang baru saja ia dengar meluluhlantakkan hatinya. Gedung-gedung gagah disekitarnya, yang memagari liarnya angkutan ibukota, seolah runtuh bersama dengan indah bayangan yang selama ini ia bangun. Digantikan kelam malam yang terasa sayu di hatinya kini-- mungkin juga nanti, atau bahkan selamanya. Tidak, tidak, ini bukan soal Susi yang di-putus hubungan kerja. Bukan soal Susi dan keluarga yang kehilangan adik nan manja. Tapi ini tentang rasa sakit di hati kehilangan seseorang yang dipuja.

Adalah ia, laki-laki yang tiba-tiba datang merangsuk masuk ke hati Susi. Mengisi ruang yang selama ini kosong tak berpenghuni. Dengan muka bersahabat, bercerita panjang lebar, membuat Susi merasa ada, nyata dan paling penting--dibutuhkan. Saling menunggu, berbagi waktu, hingga berpisah lalu merindu. Bahkan secercah cahaya sendu yang menggelayuti malam itu bersedia menjadi saksi sebuah pagelaran syahdu kala itu.

Adalah ia, laki-laki yang membuat hari-hari setelahnya terasa menyiksa diri. Susi merasa dirinya mati suri. Menanti momen itu terulang lagi. Tapi si laki-laki tak kunjung kembali. Setidaknya, bukan dalam bentuk eksistensi fisiologis, namun kehangatan batin yang dulu menyesakkan dada. Dan dari sanalah, cerita klasik cinta berujung derita versi Susi bermula.

Adalah ia, laki-laki yang ternyata juga menyesakkan hati teman Santi, teman terbaiknya selama ini, dengan rasa yang sama yang ia juga rasakan. Adalah ia, laki-laki yang juga selama ini selalu disebut-sebut Santi dalam ceritanya tentang laki-laki gagah perebut hatinya. Adalah ia, laki-laki yang selama ini disebut Santi kepada Susi, seseorang yang membuatnya merasa ada, merasa nyata, dan merasa dirinya dibutuhkan.

Susi menelan ludah dalam mati surinya. Dirinya dan sahabatnya telah berlabuh pada dermaga yang sama. Telah terkagum pada matahari yang sama. Hanya dengan senja yang berbeda. Maka biarkan dulu Susi tenggelam pada kelam malam yang sayu itu. Biar malam membawa rasa itu menenggelam. Agar Santi, dapat kembali melanjutkan takdir alam yang selama ini buram.

Donnerstag, 17. Juli 2014

cerita cinta bau kaos kaki

pada kisah kita yang hanya kita yang tahu. pada masa abai yang terlalu lama menggantung di langit-langit. pada kepastian yang kamu paksa untuk diminta. pada kenyataan bahwa aku sudah berkali-kali meyakinkan, aku tak punya kepastian yang kamu harapkan.

demi cerita cinta berbau kaos kaki yang kamu agungkan. ketat mengikat. menjaga tetap hangat. tapi kian lama, timbul bau yang amat menyengat. pada tiap momen yang kita belum sepakat. kamu mendominasi pada posisi memikat. membiarkanku pada posisi subordinat. lalu menagih janji timbal balik seperti halnya para birokrat.

demi cinta berbau kaos kaki. percayalah, cinta dengan subordinasi, tidak akan pernah berjalan hakiki.

Samstag, 29. März 2014

Apa kabarmu, Bu?

Maka biarkan semua ceracau burung di luar sana menggema. Aku, kamu, kita, tak perlu ambil pusing karenanya. Anggap saja nyanyian rindu, karena lama mengadu, tapi tak di dengar barang satu waktu. Bicara soal rindu, apa kabarmu, Bu?

Freitag, 20. Dezember 2013

#3 Kontemplasi

Pernah nggak sih lo berada pada masa berat yang sangat super duper berat? Masa dimana rasa-rasanya lo ingin menegasikan semua ketentuan Tuhan, anjuran Tuhan, atau bahkan eksistensitas-Nya. Lo menentang apa yang selama ini lo terima dan lo yakini sebagai sesuatu yang benar. Pikiran lo lepas, menyelidik, menalar hingga ke akar setiap hal. Ketika rasa yang sama-sama kita sebut iman, semacam berguncang, berontak dari tempatnya semula, jatuh pada titik paling lumpuh.

Tapi kemudian, Tuhan dengan segala kuasa-Nya, menyembuhkan luka itu. Meniadakan takaran berat itu. Kita pun semacam terlahir kembali. Dengan semangat berkali lipat. Dengan pundak yang kian siap dengan segala kehendak. Lalu, lo pun semakin sadar, betapa Tuhan begitu menyayangi lo. Betapa kemudian, euforia akan manisnya keimanan kembali membuncah di dada. Namun dengan energi yang bertambah besar dan bertambah besar.

Mungkin memang seperti itu ya hidup. Bersiklus. Sedih senang, susah gampang, suka duka. Termasuk juga keimanan yang kadang naik, sebentar kemudian turun.


Sonntag, 25. August 2013

Realita

Agak kaget juga sih ketika pipi ini tiba-tiba basah dengan air yang keluar dari mata. Haha sementara pikir masih bersikeras menentang segala realita.
Andai saja kejadian dua-tiga tahun itu tidak pernah menjadi cerita. Maka mungkin, tak akan begini jadinya.

00.00 wib
Jakarta, 26 Agustus 2013

Montag, 12. August 2013

Cerita Sepanjang Pantura #2

Ini cerita tentang Sumini yang gundah hatinya.
Ditemani dangdut koplo, memikirkan hutang yang sudah jatuh tempo.
Tentang Bapak dan jaminan yang beliau janjikan, jika tak ada uang 'datang' untuk membayar hutang.
Tentang Bapak dan solusi permasalahannya, yang ternyata melibatkan ia, anak perawannya.
Tentang Bapak yang memberikan pandangan, 'Apa kamu tega menolak padahal kita tiga hari tidak makan?'
Tentang lagi-lagi Bapak, yang mengingatkan, bahwa anak harus patuh pada orangtua, bukan?
Tentang, sayangnya, ah, ia ingin berkelit. Permintaan Bapak terlalu sulit.
Tapi, ah, keharusan birrul walidain, membuat kepalanya sakit.
Maka tentang permintaan, 'temani ia hingga tuntas, maka hutangku lunas'.
Mana jawab yang tak sulit? Apalagi dalam kondisi hutang membelit.

---
Satu keprihatinan bagi konsep yang semakin kabur tentang orang tua, durhaka atau patuh pada mereka.
Lebaran 1434 H

Cerita Sepanjang Pantura #1

Hati ini getir, bukan karena pandang segala nyinyir.
Apalagi  karena bos-kantung-tebal yang tersenyum pandir.
Berita penggusuran kafe pinggir jalan, sumber penghasilan,
itu sebabnya.
Katanya, kata bapak-bapak berjenggot kambing, gamis putih bening-bening itu,
bisnis ini tidak halal. Merusak moral.

Halah, tau apa mereka soal haram-halal? Hanya karena bisnis ini mengandalkan perempuan bergincu tebal, bergaya nakal, lantas dibilang tak bermoral?!
Mereka yang kekayaannya kurang ajar, rumah dimana-mana tersebar, lagaknya berandal, seolah lupa bahwa dari rakyat uangnya berasal, baru namanya nggak bermoral!

---
Berdasarkan apa yang ditangkap mata, dilihat hati, dan diinterpretasi pikiran.
Maka maaf jika Anda kurang berkenan.
Lebaran 1434 H

Freitag, 2. August 2013

Merpati Kecil

Maka biarkan merpati kecil itu terbang menghidupi dirinya
Jangan melulu dikungkung, jangan tunggu ia hingga mati dimakan belatung
Alih-alih menjaga-merawat, percayalah, bahwa itu tidak lebih baik dari penggerogotan kebebasan teman sejawat
Percayakan pada semesta, biar ia belajar tentang dusta
Pada alam kita titipkan, biar dirasakannya pengkhianatan
Kenalkan pada Yang Maha Besar, agar ia belajar.
Bahwa pada setiap hal, ada harga yang harus dibayar.



Sonntag, 21. April 2013

terjadi baru kemarin


Mungkin mereka tidak pernah tahu bahwa saya menyimpan baik-baik foto itu. Sebaik saya menyimpan segala memori yang menjadikan foto itu selalu terasa terjadi baru kemarin. Selalu hidup, tak pernah redup.


*Gilaak, pasti mereka bakal mesem-mesem kuda dan ketawa-ketawa rese liat gue posting ginian bahahah*

Montag, 18. März 2013

terakhir, tentangmu.

Kadang, mencintai seseorang sudah cukup dengan memastikan bahwa dirimu sibuk berada dalam kebaikan. Dibandingkan dia selalu ada di pikiranmu, kemudian kamu mencari segala hal tentangnya, lalu tanpa sadar dirimu makin tergeser dalam keburukan.
- Anonim




Dikutip dari tumblr seseorang, dengan beberapa perubahan.
Aku janji, ini postingan terakhirku dengan nuansa dirimu di kepala.

Mittwoch, 13. März 2013

celebek alias Cinta Lama Bersemi Kembali

Judulnya yeye banget yak haha but actually, that's what I do feel now. huooh
To be honest, I dont want to be involved in any love circle in any place with anyone. Tapi gimana dooong, you know that 4 quality days really terngiang-ngiang in my head haha
But why I named it as celebek? because yaah about one year ago, I also fell in love with him. but the feeling just flew away fast. I dont know why, but maybe because of the rarely meeting.

Hem, sorry I cant tell you more about the specific story, because you know my blog's not private at all.
oke selesai. Haha

Maaf karena tulisan ini sangat tidak berkualitas -..-

Montag, 11. Februar 2013

remuk seperti kerupuk

remuk seperti kerupuk. yang kita makan bersama kala hujan sore-sore.
remuk seperti kerupuk. hatiku.
remuk seperti kerupuk. hatimu.
remuk seperti kerupuk. (hati) balerina di dalam kotak kaca yang kamu berikan padaku sebagai hadiah ketidakterlambatanku pada kencan kesekian kita karena kamu mendudukinya.
remuk seperti kerupuk. yang dijual di warteg sebelah, tempat kita bertemu kali pertama.
remuk seperti kerupuk. jangan takut ditimpuk.
remuk seperti kerupuk. bapuk dimakan rayap kapuk.
remuk seperti kerupuk. ambruk sekelilingku.
remuk seperti kerupuk. ketika matahari di ufuk.
remuk seperti kerupuk. kamu tepuk hatinya. hap lalu tertangkap.
remuk seperti kerupuk. aku mengamuk.
remuk seperti kerupuk. bagian ini lapuk. yang berwarna merah gelap yang punya fungsi mengubah provitamin A menjadi vitamin A. haha taulah kamu. puk puk.
remuk seperti kerupuk. ya, hatiku remuk seperti kerupuk.
Posts mit dem Label rasa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label rasa werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Mittwoch, 20. Juni 2018

Magis

Cinta memang magis. Membicarakannya, ibarat mengecap gula-gula manis yang tak habis-habis. Tapi, jangan lupa, ia pedang bermata dua. Salah-salah, berakhir ceritamu menjadi derita.

Sonntag, 17. Juni 2018

Kehilangan Dua

Suatu hari, ayah seorang teman tutup usia. Sebagai penghormatan, saya berkunjung ke rumahnya. Ia sedang bersandar di sudut jendela. Dengan wajah yang biasa-biasa saja. Tapi, sebagai teman lama yang dulu bermain boneka bersama, saya tahu ia menahan duka. Saya bisikkan padanya, "Bersyukur, kehilangan ayah berarti kehilangan satu, ayahmu saja. Kalau ibu yang pergi, kamu kehilangan dua, ibu dan ayahmu sekaligus. Aku sudah merasakannya."

Freitag, 18. Mai 2018

Bapak-Bapak

Pekerjaan saya saat ini membuat saya banyak berinteraksi dengan bapak-bapak. Sudah banyak topik diskusi kami bahas, dari urusan pekerjaan hingga pengakuan kenakalan ketika istri tidak memberikan pengawasan. Khas laki-laki.

Tapi, baru setelah satu tahun lebih bekerja, saya sadar suatu hal. Pada setiap diskusi yang terjadi di antara kami, para bapak tidak pernah alfa bercerita tentang anak mereka. Dengan ketulusan sempurna. Dan antusiasme yang paripurna.

Mereka memuji. Mereka mengunggulkan. Mereka membandingkan anak mereka dengan anak tetangga, anak teman, anak bos atau anak siapa pun, yang pasti, entah rumus perbandingannya seperti apa, anak mereka selalu menjadi juaranya.

Di banyak kesempatan, saya tidak pernah ambil pusing akan cerita-cerita tersebut. Saya lebih sering mengiyakan dengan wajah template antusias. Bagi saya, human being lah ya, membanggakan kepemilikan dan capaian pribadi. Apalagi bagi seorang laki-laki yang hidup di negara patriarkis seperti Indonesia, mampu membina sebuah keluarga ideal dengan anak-anak yang layak dibanggakan adalah sebuah pencapaian. Dan patut dipublikasikan.

Tapi, saat kemarin diskusi serupa terjadi lagi, dengan rekan kerja yang merupakan bapak beranak dua, dengan dialog yang juga hampir serupa, saya menyadari sesuatu yang lebih dalam. Narasi tentang sang anak yang diceritakan berulang-ulang oleh para bapak, sepertinya bukan semata-mata upaya untuk menuntaskan dahaga mereka akan pengakuan orang lain, bahwa hidupnya ideal karena berhasil memiliki istri yang mampu beranak-pinak menciptakan keturunan kebanggaan. Bukan pula karena upaya menciptakan kontestasi remeh-temeh untuk menunjukkan anaknya lebih bernial jual dibanding anak orang lain.

At some point, i noticed their true love for their children lie behind each stories spoken. Sederhananya, semua bapak sayang anaknya. Segala cerita mereka tentang sang anak adalah representasi ketulusan cinta si bapak tentang anak-anak mereka. Yaa, walaupun kadang ceritanya agak hiperbola. Dimana, cerita tersebut, walau lancar dituturkan ke saya, belum tentu demikian di depan anaknya. Bisa jadi, di depan anak-anaknya, para bapak justru cuek. Atau galak. Atau ragu karena menjaga wibawa. Atau kelu karena memang tak pandai menyusun kata. Atau bahkan, sesederhana tak biasa mengekspresikan rasa cinta.

Menarik ya. Fathers always have their own way to show love. We just don't understand. Or not yet understand.

Beliau memang tidak seekspresif ibu, tapi percayalah, takaran cintanya, tak kurang barang setetes dari apa yang dimiliki ibu kita.

Montag, 14. Mai 2018

Mandi di Taman

Malam itu, aku mandi di pancuran taman.
Kamu menghampiri, melempar tatap heran.
Aku ketus.
Kusiapkan jawaban singkat-tapi-komprehensif untuk menjelaskan mengapa aku mandi di sana.
Tapi, kamu melempar tanya yang di luar duga.
"Kenapa mandinya masih dengan kaos dan celana?"
Idealnya, kamu bertanya kenapa aku mandi di taman, pikirku.
"Bukan urusanmu.", begitu yang keluar dari mulutku.
Kamu menjawab singkat dengan hanya satu kata 'oh'.
Lalu pergi.
Aku bingung.
Terasa menggantung.
Sial.
"Hei, belum selesai!"
Aku berteriak tidak terima.
"Apanya? Mandinya? Silakan diselesaikan!"
Jawabmu membelakangiku.
Lalu melenggang.
Sedetik kemudian menghilang.
Dalam titik buta kota.
Tanpa menambah sepatah kata.
Huh

***

Air menggenang di depan pintu kost-mu.
Aku dalangnya.
Kaus dan celana basah yang masih melekat di tubuhku penyebabnya.
Aku mengetuk pintu, kasar.
Tapi juga hati-hati.
Khawatir membangunkan ibu kost-mu.
Bukan apa-apa.
Kalau dia bangun, mati aku.
Bisa ditagihnya tunggakan kost-ku.
Kamu keluar.
Berantakan.
Kamu bertanya ada apa.
Aku menjawab dengan kalimat yang sebelumnya ada di pikirku.
"Idealnya, kamu bertanya kenapa aku mandi di taman."
Kamu menghela napas lambat-lambat.
Dan membuang residunya cepat-cepat.
"Karena aku bukan perempuan ideal seperti yang selama ini kamu pikirkan."

Montag, 7. Mai 2018

Things I Don't Tell People about My IELTS Journey [Bagian Kedua]

Selanjutnya, sekitar awal bulan April 2017, saya pindah penempatan ke Nganjuk. Kertas target yang sama masih saya bawa dan saya tempel di dinding kosan yang baru. Aktivitas belajar IELTS saya pun semakin rutin, walaupun belum ada jadwal khusus dan materi yang dipelajari masih dipilah sesuka hati, bukan berdasarkan kebutuhan.

Saat di Nganjuk, saya juga membuka kelas belajar bahasa Inggris gratis bagi anak-anak SMA di sekitar kosan. Well, saya meyakini bahwa mengajar adalah salah satu cara belajar paling efektif. Lagi pula, saya juga bosan belajar sendiri, jadi ini salah satu cara mencari teman seperjuangan belajar bahasa Inggris. Ehe.

Kelas diadakan seminggu dua kali di kosan saya, setiap hari Jumat sore dan Sabtu pagi. Seru sekali, kosan saya jadi selalu rame. Kenalan saya juga jadi banyak, anak SMA semua pula isinya. Saya merasa lebih muda dari usia sesungguhnya.

Sayangnya, waktu lagi seru-serunya dan deket-deketnya sama dedek-dedek gemesh di Nganjuk, saya harus pindah penempatan. Saat itu, saya kembali lagi ke Madiun. Fokus saya pun agak bergeser, bukan lagi memikirkan IELTS dan S2, tapi merintis SiMaggie. Tiap weekend pasti bolak-balik ke Surabaya untuk ikutan program 1000 Startup Digital.

Setelah satu bulan di Madiun, saya pindah penempatan lagi ke Kediri. Karena udah lama nggak mikir soal IELTS, saya pun mulai nggak pede lagi. Tapi, saat itu saya cukup excited karena daerah penempatan saya dekat dengan Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri. Jadilah saya mulai cari-cari info les bahasa Inggris di Kampung Inggris tersebut. Sayangnya, setelah banyak googling dan tanya sana-sini, saya dapat info kalau les bahasa Inggris di Pare cuma ada di weekdays. Saya nggak nemu sama sekali kelas yang bukanya setiap weekend. Nggak memungkinkan banget buat saya yang kerja full time saat weekdays. Jadilah saya patah hati karena lagi-lagi nggak bisa ikutan les persiapan IELTS. Apa boleh buat, satu-satunya pilihan adalah mempersiapkan IELTS secara mandiri. Tapi, tetep, penyakit nggak istiqomah-nya muncul. Kadang belajar, lebih sering nggak.

Lalu, Desember 2017 akhir, saya pindah penempatan ke Tulungagung. Duh, memasuki tahun baru, saya semakin panik dengan mimpi-mimpi saya. Di lain sisi, persiapan saya tidak kunjung menunjukkan progress. Sampai akhirnya, di Januari tahun 2018, saya malah nekat daftar tes IELTS di bulan yang sama, tepatnya tanggal 20 Januari 2018 di Surabaya. Tanpa pikir panjang, uang pendaftaran saya transfer dan yaks seketika saya tidak punya pilihan untuk mundur atau santai-santai lagi. Waktu yang saya punya tinggal 3 minggu menuju hari H tes.

Saya tidak paham mengapa saya bisa-bisanya nekat mempertaruhkan uang dengan nominal yang tidak sedikit tersebut untuk tes IELTS. Padahal, saya tidak pernah benar-benar belajar IELTS sebagai modal untuk memenangkan pertaruhan tersebut. Well, mungkin ini dipengaruhi oleh obsesi saya terhadap kisah heroik Thariq bin Ziyad yang terkenal itu. Ketika ia memutuskan membakar kapalnya untuk menghilangkan pilihan mundur dari peperangan saat menuju Andalusia. Agar tidak ada jalan lain selain menghadapi pertarungan yang terjadi di depan mata. Walaupun, beberapa ulama sejarah melemahkan kisah tersebut dan menyatakannya sebagai kisah fiktif, tapi kisah tersebut terlanjur membekas di kepala saya.

Di sisa waktu yang ada, saya kebut latihan soal-soal yang ada di print out ebook IELTS Cambridge yang sudah sejak dulu saya bawa kemana-mana. Saya banyak membaca blog-blog yang menjelaskan secara detil tentang hal-hal yang diujikan dalam IELTS. Saya juga rajin menonton channel-channel Youtube tentang IELTS, TEDTalks dan berbagai video lain yang berbahasa Inggris yang menjadi teman baik saya dalam mempersiapkan tes, utamanya untuk section writing, speaking dan yang pasti listening. Lebih jauh soal bagaimana trik berlatih saya akan dijelaskan pada tulisan terpisah ya!

Seminggu terakhir menjelang tes IELTS, saya sudah tidak bisa konsentrasi dalam belajar. Saya sakit demam, pusing dan mules karena nervous. Setiap saya cerita ke Bapak tentang kondisi saya yang semakin mengkhawatirkan menjelang tes, beliau hanya menjawab enteng, "Udah biasa itu. Kalau Kakak mau tes, pasti sebelumnya Kakak sakit dulu." Tetot, bener juga sih kata Bapak. Ini udah kebiasaan saya sejak SD. Sebelum saya tes, ujian atau lomba, pasti saya sakit dulu. Huh, ternyata kebiasaan itu terbawa ya sampai saya sebesar sekarang.

Di hari Jumat tanggal 19 Januari 2018, saya masih masuk kantor. Sambil menunggu batas absen finger print sore pukul 17.00 WIB, saya beres-beres dan pamit ke teman-teman kantor cabang. Nggak lupa juga minta doa ke mereka supaya tes yang akan saya jalani diberikan kelancaran.

Tepat pukul 17.00 WIB, saya absen dan order Grab menuju ke perempatan jalan besar untuk menunggu Bus Harapan Jaya tujuan Surabaya. Perjalanan Surabaya - Tulungagung memakan waktu sekitar 5 jam. Di bus, saya sudah nggak bisa belajar karena mual dan ngantuk, tapi mau tidur nggak tenang rasanya.

Saya tiba di Terminal Bungurasih Surabaya sekitar jam 10 malam. Beruntungnya, Terminal Bungurasih adalah terminal besar, jadi masih ramai hingga larut malam. Saya pun segera order Go-Jek untuk mengantar saya ke kosan Hanum, karena saya akan menginap di sana. Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memudahkan urusan Hanum, sebagaimana ia memudahkan urusan hamba-Mu ini.

Saya tiba di kosan Hanum sekitar jam setengah 11 malam. Saya mandi, bersih-bersih, terus ngobrol sama Hanum sampai jam setengah 12 malam. Saya sempat buka Youtube untuk mengejar materi writing yang belum sempat saya tonton (tetep yes deadliner). Tapi, saya sudah nggak bisa fokus dan ngantuk. Jadi, saya bobok saja.

Peserta tes diminta untuk hadir di lokasi tes pukul 08.00 pagi. Tapi, Hanum mau pulang ke Kediri dan sudah dijemput temannya sekitar jam 06.00 pagi. Jadi lah saya ikutan cabut dari kosan Hanum dan cuss langsung ke IALF, lokasi tes IELTS di Surabaya. Sampai di sana, suasana masih sangat sepi. IALF masih tutup, tetapi satu dua peserta tes sudah ada yang menunggu di lobi. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari sarapan terlebih dahulu di pinggir jalan. Alhamdulillah, ada warung tenda yang menjual nasi bungkus di seberang IALF. Saya beli dua bungkus sekaligus, satu untuk sarapan, satu lagi untuk persiapan makan siang, agar saya nggak perlu repot-repot keluar cari makan lagi.

Sekitar jam 08.00, peserta tes diarahkan untuk antre menitipkan tas. Barang yang boleh dibawa hanya tempat minum dan ID Card. Setelah itu, satu demi satu peserta naik ke lantai dua untuk masuk ke ruang tes. Di depan ruangan, kami diminta untuk antre lagi, kali ini untuk pengambilan foto setengah badan, sidik jari dan pemeriksaan pakaian yang kami kenakan. Jadi, kalau masih ada barang-barang yang seharusnya tidak dibawa, harus langsung dititipkan. Termasuk alat tulis yang saya bawa juga harus dititipkan, karena setiap peserta akan dipinjamkan pensil serta penghapus di ruangan tes.

Tepat pukul 09.00, tes dimulai. Dibuka dengan listening, lalu reading, terakhir writing. Luar biasa jackpot, saya mendapatkan soal tes writing yang semalam belum sempat saya pelajari. Duh, Gusti. Saya mencoba mengerjakan sebisanya. Keseluruhan tes tertulis selesai sekitar pukul 12.00 WIB. Kami keluar ruangan untuk menanti jadwal speaking. Saya sendiri mendapat jadwal speaking pukul 17.00 dengan interviewer yang, dari namanya, sepertinya Chinese.

Sambil menunggu, saya makan nasi bungkus yang pagi tadi saya beli. Sambil makan, saya mengobrol dengan ibu-ibu yang sejak awal sudah saya tandai kehadirannya. Kerudungnya menjulur lebar, baju gamisnya longgar, wajahnya bareface tanpa make up sama sekali. Namanya Mba Listi. Seluruh praduga saya saat pertama kali melihat kehadirannya salah. Bahwa sepertinya kala itu adalah tes IELTS-nya yang pertama, bahwa sepertinya ia butuh IELTS score untuk melamar beasiswa master degree, bahwa toh kalau pun dia ingin melanjutkan S3, sepertinya S2-nya ia jalani di dalam negeri. Ternyata, itu salah semua. Faktanya, ia adalah seorang dosen di sebuah universitas yang ada di Kalimantan, alumni program master degree di Michigan State University. IELTS-nya kali itu bukan yang pertama, karena sekian tahun sebelumnya, ia pernah menjalani tes serupa untuk ikhtiarnya mendapatkan beasiswa kuliah S2 di luar negeri. Sampai akhirnya, Allah memuarakan takdirnya sebagai awardee Beasiswa Prestasi. Maasya Allah. Jangan pernah menilai orang dari penampilannya, Lil!

Setelah banyak mengobrol, Mba Listi pamit karena akan pulang sebentar ke rumah saudaranya di Surabaya. Makan siang saya pun sudah selesai dan saya lanjut ke musholla untuk bobok siang. Ya, kamu nggak salah baca, saya mau bobok siang. Ini serius. Saat itu, pusing kepala saya kampuh lagi, badan saya pun demam lagi. Setelah sholat dzuhur, saya pun merebahkan badan. Untung musholla-nya sepi.

Tidak lama setelah itu, datang seorang ibu yang juga peserta tes. Beliau adalah dosen FKG di salah satu universitas di Surabaya. Dengan memegang buku teks, dia melatih kemampuan speaking-nya. Kemudian, datang pula mbak-mbak yang baru saja menyelesaikan tes speaking-nya. Ia menceritakan pengalaman tes speaking-nya yang tidak begitu memuaskan. Interviewer-nya berwajah intimidatif, bicaranya tidak mudah dipahami, serta topik diskusinya terlalu spesifik dan tidak umum--tentang periode sejarah. Alamak, dia bikin saya tambah mules.

Alhamdulillah-nya, karena saya sudah tidak lagi memiliki energi untuk panik, saya hanya melempar senyum semangat kepadanya, sambil terus memberikan afirmasi positif kepada diri saya sendiri bahwa hal negatif yang terjadi padanya, bisa jadi sebaliknya pada saya.

Sekitar pukul 4 sore, saya menguat-nguatkan diri untuk berjalan keluar musholla. Dengan sedikit tertatih, asik dah drama dikit, saya naik tangga dan memasuki ruang tunggu tes. Di sana, saya sempatkan untuk sekali lagi berdoa, saya pasrahkan hasil dari segala ikhtiar yang saya lakukan. Allah yang paling tau apa yang terbaik bagi saya, kalau pun toh nilai saya kelak tidak mencukupi, Allah pasti memberikan rezeki lebih untuk saya mendaftar tes lagi.

Setelah itu, saya juga membaca-baca beberapa artikel tentang tips speaking, siapa tau ada high level vocab yang bisa saya gunakan saat tes nanti. Sekitar jam 16.40, saya dipanggil untuk masuk ke ruangan tes. Waktu tes saya lebih cepat dari jadwal. Saya masuk ruangan dengan kondisi tangan dingin. Sudah biasa, kalau lagi deg-degan, tangan saya pasti dingin. Ruangan tes juga dingin ternyata, lengkap sudah ketegangan saat itu.

Saya menyalami si mas-mas interviewer dengan gerakan tangan yang meberikan kesan bahwa saya sangat antusias. Ternyata benar, beliau Chinese. Dia menanyakan kondisi saya, saya jawab jujur kalau saya sedang tidak enak badan but still okay for an interview. Saya pasang muka excited dan senyum manis meyakinkan, seolah saya sangat menantikan momen interview tersebut.

Saat interview berjalan, berbagai kekonyolan dan keajaiban terjadi bersamaan. Si interviewer membuka sesi speaking dengan omongan super duper cepat. Semacam dia sudah jutaan kali ngomong kalimat yang sama, makanya sudah sangat hafal di luar kepala. Kalau boleh jujur, saya nggak paham apa yang dia omongin, saya cuma modal manggut-manggut dan senyum lebar saja.

Masuk ke sesi short question, si interviewer menanyakan pertanyaan yang cukup umum dan wajar. Jadi, Alhamdulillah saya bisa handle dengan baik. Setelah itu, masuk ke sesi pertanyaan yang agak lebih panjang. Lagi-lagi, karena dia ngomongnya cepet, saya nggak paham. Beberapa kali pertanyaan dari dia saya jawab dengan pertanyaan juga, "Pardon me?". Tepatnya sih sampai tiga kali untuk sebuah pertanyaan yang sama. Hingga akhirnya, karena saya tetap nggak paham, saya jawab dengan sekenanya. Wajah si babang menunjukkan ekspresi nggak puas dan kecewa dengan jawaban saya. Entahlah. Yang pasti, sesi 15 menit interview itu terasa sangat cepat sekali. Tau-tau udah selesai dan saya pun keluar ruangan. Jujur, saya tidak puas dengan hasil interview saya tersebut. Banyak pertanyaan yang tidak saya jawab dengan jawaban terbaik. Tapi, ya sudah lah, saya tidak dapat berbuat apa pun selain berdoa semoga Allah berikan hasil terbaik sesuai kebutuhan. Selanjutnya, mari move on ke urusan saya yang lain.

"Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain." (QS. Al-Insyirah: 7)

Hari itu, selesai tes IELTS, saya masih belum bisa pulang ke Tulungagung. Saya sudah janji dengan Deva, salah satu dedek gemesh yang dulu pernah ikut kelas belajar bahasa Inggris saya di Nganjuk, untuk mengisi acara English Day yang diadakan organisasi rohis di sana. Saat itu, saya benar-benar tidak paham, energi dari mana yang membuat saya tetap mampu melanjutkan perjalanan kurang lebih 4 - 5 jam dengan bus ke Nganjuk setelah lama perjalanan yang sama antara Tulungagung - Surabaya di malam sebelumnya dan tes IELTS di hari setelahnya dengan tubuh yang hampir tumbang. Pikir saya saat itu cuma satu, surat Muhammad ayat 7. Rumus sederhana yang dulu selalu diulang-ulang murabbi saya.

"Hai, orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7)

Dengan niat tersebut, saya bulat-bulatkan tekad untuk berangkat ke Nganjuk, walau kala itu rasanya sudah ingin bilang ke Deva bahwa saya tidak jadi ke sana. Dengan energi yang tersisa, sekitar jam setengah 6 sore, saya bergegas ke Terminal Bungurasih dengan Go-Jek dan naik bus Mira jurusan Nganjuk - Yogyakarta. Sambil di jalan, saya terus merapalkan doa, biar Allah yang mampukan. Allah yang akan mampukan.

Sekitar jam 10 malam, saya tiba di rumah Deva. Karena sudah lama tidak bertemu, kami bertukar cerita hingga hari menjelang berganti. Maasya Allah, bangga sekali saya dengan adik-ketemu-besar saya satu ini. Di tengah kesibukannya mempersiapkan UN dan berbagai ujian masuk kampus, dia masih mau merepotkan dirinya untuk kegiatan rohis. Saya jadi malu dan belajar banyak sekali darinya. Insya Allah, apa yang ditanam di jalan Allah, balasannya langsung dari Allah ya, Dik :)

Setelah temu kangen, update kabar dan kenal-kenalan dengan keluarga Deva, kami bobok di kamar Deva yang mirip kamar-kamar di FTV. Lucu banget loh kamarnya Deva, posisinya di lantai mezzanine dan full dari kayu jati, berasa di film-film Korea gitu (Lah, kayak lo paham film Korea aja, Lil -___-).

Besoknya, pagi-pagi sekali, kami mempersiapkan materi English Day, mengatur tata letak venue acara yang berupa ruangan bekas cafe pinggir jalan milik orang tua Deva, mengangkut peralatan acara, dll. Duh, saya berasa jaman SMA dulu ngerjain proker, wkwk. Setelah itu, kami sarapan dengan menu yang sudah dibuatkan oleh mamah-nya Deva. Terima kasih, Tante!

Sekitar jam 8 pagi, satu per satu peserta acara yang masih berusia SMP dan SMA berdatangan. Acara dimulai sekitar pukul 9 pagi. Kami bermain games, belajar listening dengan mengisi lirik lagu, belajar tenses, latihan wudhu dengan hanya segelas air, dll. Seru sekali! Saya berasa muda lagi ih gaulnya sama anak-anak SMP dan SMA. Kegiatan selesai sekitar pukul 5 sore dengan kondisi suara saya habis karena teriak-teriak. Maklum, mic-nya tidak bekerja sama dengan baik, padahal lokasi kegiatan tepat di pinggir jalan besar yang banyak dilewati truk dan bus antarkota, jadilah saya teriak dikit-dikit yaks.

Setelah kegiatan selesai dan segala peralatan telah kami rapikan, Deva mengantar saya untuk naik bus menuju Tulungagung. Tapi, sebelum itu, kami makan bakso kesukaan kami berdua dulu dongs. Perjalanan menuju Tulungagung terasa sangat-sangat lama dan melelahkan, padahal cuma 3 jam perjalanan. Mungkin karena saya harus ganti bus di Kediri dengan energi yang benar-benar tinggal sisa-sisa. Apalagi besok pagi saya harus bekerja. Duh, rasanya saya ingin cepat-cepat sampai kosan dan bobok cantik.

Hari ini, kalau saya pikir-pikir lagi, sepertinya saya nggak akan kuat lah mengulang perjalanan panjang Tulungagung - Surabaya - Nganjuk - Tulungagung hanya dalam waktu 3 hari. Dimana, Alhamdulillah-nya, saya selalu hanya hampir tumbang, tidak pernah benar-benar jatuh sakit yang mengharuskan saya hanya berbaring di kasur. Seolah, energi saya selalu hanya hampir habis. Tidak benar-benar habis. Allah benar-benar kuatkan.

Kini, ketika pada akhirnya saya tahu skor IELTS saya yang ajaib itu, saya hanya bisa tersenyum malu. Ah, Allah, budi baik apa yang telah hamba lakukan sehingga hamba berhak atas skor tersebut? Sungguh, betapa saya yakin, itu semua karena doa tulus orang-orang di sekitar saya sudah mengungguli doa saya yang terhalang dosa. Well, Allah memang selalu punya kejutan bagi hambanya yang tak putus berharap, tak payah berusaha dan tak hitung-menghitung dalam berbagi. Makanya, tips selanjutnya nih untuk teman-teman yang juga akan tes IELTS, yuk ah doanya dikencengin, belajarnya dibanyakin dan hasilnya dipasrahin. Allah sudah menyimpan rencana terbaik bagi hamba-Nya.


Seqyan.

Kebumen, 12 Mei 2018
akhirnya selesai juga tulisan iniiiiiiii. Huff. Semoga bermanfaat. Untuk tips yang lebih practical, tunggu aja yes.

Donnerstag, 1. Februar 2018

Lil's Movie Review: Belajar Parenting dari Film Wonder

Kemarin malam akhirnya saya menuntaskan film Wonder setelah berbagai drama internet kosan yang sungguh tidak mendukung. Mungkin karena saya nontonnya via jalur ilegal ya, jadi ada aja halangannya. Mon maap nih, soalnya saya sedang penempatan di Tulungagung dan Wonder nggak ditayangin di bioskop lokal sini. Walaupun itu bukan pembenaran sih ya. Ehe.

Oh ya, i'm a big fan of movie drama. Makanya, ketika baca review film Wonder dan menemukan bahwa film ini genre-nya drama keluarga, saya tertarik banget-banget. Walaupun, beberapa review film terlalu meng-highlight kondisi wajah Auggie- tokoh utama dari film ini, yang tidak sempurna dengan beberapa bekas luka operasi. Dimana introduksi tentang kondisi wajah dan penyakit yang diderita Auggie membuat saya agak males nonton hehe. Karena saya tidak terlalu tertarik menonton film drama yang ceritanya seputar struggling-nya si tokoh melawan penyakit. Bukan karena saya tidak empati dengan penderita penyakit tersebut, tetapi lebih karena jalan cerita yang pada akhirnya mudah tertebak aja.

Well, tapi, ketika saya nonton, praduga saya tersebut ternyata salah. Film ini sama sekali nggak ngebahas soal penyakit-nya si Auggie serta bagaimana ia melawan penyakitnya. Wonder menurut saya benar-benar sebuah film drama keluarga yang memberikan gambaran bagaimana sebuah keluarga berbesar hati dealing dengan Auggie dan tampilan fisiknya yang berbeda dengan anak kecil kebanyakan.

Cerita bermula ketika ibunya Auggie yang diperankan oleh Julia Roberts memutuskan untuk memasukkan Auggie ke sekolah umum setelah sekian lama Auggie diikutkan home schooling. Menurutnya, sudah saatnya bagi Auggie bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Auggie yang tadinya menolak ide tersebut pada akhirnya menerima keputusan ibunya. Hal yang sangat menarik bagi saya, yang merupakan early adult ini, adalah bagaimana orang tua Auggie membiasakan bernegosiasi dengan setiap anggota keluarga. 

Orang tua Auggie memperlakukan Auggie selayaknya orang dewasa, yang bisa diajak bertukar pikiran, yang punya pandangan personal, dan sebagainya. Scene favorite saya adalah ketika Auggie mengalami hari yang buruk di hari pertamanya pergi ke sekolah. Orang tua Auggie yang membiasakan kegiatan makan di meja makan sebagai momen untuk saling berbagi cerita, menanyakan Auggie bagaimana pengalaman sekolah hari pertamanya. Tetapi, Auggie justru meninggalkan meja makan setelah sebelumnya menjawab pertanyaan orang tuanya dengan nada yang agak tinggi. Lalu, ibu Auggie mendatangi Auggie ke kamar dan mengajaknya untuk bicara empat mata. Tidak memarahi, tidak menghakimi. Ia memperlakukan Auggie sebagai anak yang punya kontrol atas sikap yang dia tunjukkan.

Another favorite scene juga ketika Ibu Auggie bertengkar dengan kakak perempuan Auggie. Ayah Auggie yang saat itu kebetulan ada di sana diminta untuk membiarkan mereka menyelesaikan urusannya berdua saja. Keren! Dan masih banyak adegan-adegan lain di film Wonder yang menurut saya ilmu parenting banget. Sangat bisa untuk coba diterapkan di keluarga kita kelak. Hasyik.

Terlepas dari itu, alur cerita Wonder ini maju mundur dari beberapa sudut pandang orang-orang yang involved secara signifikan di kehidupannya Auggie. Misalnya, Via- kakaknya Auggie, yang digambarkan merasa kecewa karena keluarganya terlalu fokus memperhatikan Auggie dan lupa dengannya yang, bagaimana pun juga, masih 'anak-anak'. Ah ya, part ini saya juga suka sekali, karena awalnya saya mengira bahwa Via akan digambarkan berkonflik dengan Auggie. Tapi ternyata, Via digambarkan tidak meluapkan itu ke Auggie dan justru lagi-lagi mengajak Auggie untuk bernegosiasi dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan di hidup mereka berdua.

Sudut pandang lain juga digambarkan berasal dari Jack Will yang merupakan teman baik Auggie di sekolah, seperti tentang bagaimana awal mula ia bisa dekat dengan Auggie sampai terjadi konflik di antara mereka. Saya juga suka ketika Jack Will bertengkar dengan teman Auggie lain (saya lupa namanya) dan Jack Will di-skors dari sekolahnya. Tetapi, kepala sekolahnya menyebutkan bahwa ia menghargai Jack Will yang berkelahi untuk membela Auggie. 

Tapi, yang kurang dari Wonder ini, menurut saya, adalah ending-nya ketika Auggie mendapatkan penghargaan dari sekolah. I just don't get the reason why he deserves the award. Bahwa, setelah ada dia, teman-teman sekolahnya belajar how to deal with differences, iya sih. Tapi kan bukan berarti dia yang membuat mereka semua belajar. He just do the way he is supposed to do. Hem gitu nggak sih? menurut ku sih gitu wk. Karena penghargaan itu terlalu maksa ehe.

Intinya, Wonder ini recommended banget untuk jadi tontonan keluarga. Film ini banyak mengajarkan kita tentang empati, penerimaan, persahabatan dan yang paling utama, nilai-nilai keluarga sebagai pondasi paling utama kehidupan manusia. 


Rating: 4.5/5
After Taste: Pengen banyak-banyak self talk untuk kurang-kurangin berprasangka sama orang.

Mittwoch, 31. Januar 2018

Lil's Movie Review: Nonton Coco Bikin Pengen Peluk Keluarga

Saya selalu suka film-film besutan Pixar. Tapi, biasanya, saya mulai dari liat visualnya. Yaa namanya juga film animasi, kalau bagus penampakan tokoh-tokohnya, ya lanjut nonton, kalau nggak menarik ya saya skip. ehe.

Untuk Coco sendiri, impresi pertama saya saat lihat visual tokoh-tokohnya, saya nggak terlalu tertarik. Hahaha. Bukan karena jelek, cuma not my typical movie animation aja. Tipikal animasi saya itu macam Up (wkwk, mainstream banget yes) dan Despicable Me, yang tokohnya agak rounded (hem, piye maksute ya).

Tapi, karena menurut sebagian orang alur cerita Coco bagus, saya tetep lanjut nonton. Walaupun, ketika awal orang bilang kalau Coco cerita tentang anak kecil yang masuk ke alam kubur, saya udah agak males. Takutnya ceritanya jadi ala ala mistis versi kartun gitu. Tapi, ternyata nggak kok, kata orang-orang, ini film keluarga.

Secara umum, Coco bercerita tentang seorang anak kecil bernama Miguel yang terlahir dari keluarga besar pembuat sepatu. Bisnis sepatu keluarganya sudah dijalankan secara turun temurun, sehingga, tidak mungkin bagi Miguel untuk tidak ikut melanggengkan bisnis tersebut. Di sisi lain, Miguel cilik punya ketertarikan yang besar dengan musik. Dia sangat terobsesi dengan legenda musik De La Cruz, sampai-sampai dia menghafal setiap dialog pada potongan film yang diperankan De La Cruz. Padahal, keluarga besar Miguel sangat-sangat membenci musik. Mereka tidak menoleransi setiap anggota keluarga yang ketahuan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan musik, termasuk Miguel. 

Pada film, alasan mengapa keluarga tersebut membenci musik dijelaskan secara eksplisit di awal cerita. Bahwa Mama Imelda, yang merupakan mamanya mama buyut Miguel, ditinggalkan oleh suaminya yang ingin mengejar mimpi bermusiknya. Sehingga, Mama Imelda harus membesarkan Coco- anak semata wayangnya yang merupakan mama buyut Miguel, seorang diri. Mama Imelda lalu mulai membuat sepatu untuk bertahan diri. Hingga bisnisnya menurun ke generasi orang tua Miguel. Alasan kepergian suami Mama Imelda itu pula yang membuat keluarga besar tersebut begitu membenci musik. Bahkan, sosok suami Mama Imelda sendiri berusaha untuk dilupakan oleh keluarga tersebut. 

Drama selanjutnya berlanjut seputar cerita Miguel yang berusaha untuk mencapai mimpi bermusiknya. Nah, untuk tau kelanjutannya bagaimana, kalian bisa nonton sendiri ya. Nggak asik kalau saya ceritakan. Hehe

Pokoknya, jalan cerita Coco ini cukup worth it untuk dinikmati. Semacam mengingatkan kita kembali tentang betapa berharganya keluarga yang kita punya saat ini. Buat teman-teman yang suka film musikal, Coco ini cukup recommended juga. Walaupun bukan tergolong film musikal, tapi terdapat beberapa scene nyanyi dengan petikan gitar yang ciamik. Tapi, bagi saya sendiri, favorite scene-nya saat Miguel terdampar bersama lelaki homeless yang saya lupa namanya (wkwk, padahal dia salah satu tokoh utamanya). Di sana ada plot twist menjelang ending cerita yang nggak ketebak banget. Super keren buat penulis filmnya!


Rating: 4/5
After Taste: Pengen peluk bapak sama adek yang lama tak jumpa karena saling merantau :(

Dienstag, 22. Juli 2014

Susi dan Santi

Mungkin malam itu akan menjadi sehancur-hancurnya malam bagi Susi. Cerita dari temannya yang baru saja ia dengar meluluhlantakkan hatinya. Gedung-gedung gagah disekitarnya, yang memagari liarnya angkutan ibukota, seolah runtuh bersama dengan indah bayangan yang selama ini ia bangun. Digantikan kelam malam yang terasa sayu di hatinya kini-- mungkin juga nanti, atau bahkan selamanya. Tidak, tidak, ini bukan soal Susi yang di-putus hubungan kerja. Bukan soal Susi dan keluarga yang kehilangan adik nan manja. Tapi ini tentang rasa sakit di hati kehilangan seseorang yang dipuja.

Adalah ia, laki-laki yang tiba-tiba datang merangsuk masuk ke hati Susi. Mengisi ruang yang selama ini kosong tak berpenghuni. Dengan muka bersahabat, bercerita panjang lebar, membuat Susi merasa ada, nyata dan paling penting--dibutuhkan. Saling menunggu, berbagi waktu, hingga berpisah lalu merindu. Bahkan secercah cahaya sendu yang menggelayuti malam itu bersedia menjadi saksi sebuah pagelaran syahdu kala itu.

Adalah ia, laki-laki yang membuat hari-hari setelahnya terasa menyiksa diri. Susi merasa dirinya mati suri. Menanti momen itu terulang lagi. Tapi si laki-laki tak kunjung kembali. Setidaknya, bukan dalam bentuk eksistensi fisiologis, namun kehangatan batin yang dulu menyesakkan dada. Dan dari sanalah, cerita klasik cinta berujung derita versi Susi bermula.

Adalah ia, laki-laki yang ternyata juga menyesakkan hati teman Santi, teman terbaiknya selama ini, dengan rasa yang sama yang ia juga rasakan. Adalah ia, laki-laki yang juga selama ini selalu disebut-sebut Santi dalam ceritanya tentang laki-laki gagah perebut hatinya. Adalah ia, laki-laki yang selama ini disebut Santi kepada Susi, seseorang yang membuatnya merasa ada, merasa nyata, dan merasa dirinya dibutuhkan.

Susi menelan ludah dalam mati surinya. Dirinya dan sahabatnya telah berlabuh pada dermaga yang sama. Telah terkagum pada matahari yang sama. Hanya dengan senja yang berbeda. Maka biarkan dulu Susi tenggelam pada kelam malam yang sayu itu. Biar malam membawa rasa itu menenggelam. Agar Santi, dapat kembali melanjutkan takdir alam yang selama ini buram.

Donnerstag, 17. Juli 2014

cerita cinta bau kaos kaki

pada kisah kita yang hanya kita yang tahu. pada masa abai yang terlalu lama menggantung di langit-langit. pada kepastian yang kamu paksa untuk diminta. pada kenyataan bahwa aku sudah berkali-kali meyakinkan, aku tak punya kepastian yang kamu harapkan.

demi cerita cinta berbau kaos kaki yang kamu agungkan. ketat mengikat. menjaga tetap hangat. tapi kian lama, timbul bau yang amat menyengat. pada tiap momen yang kita belum sepakat. kamu mendominasi pada posisi memikat. membiarkanku pada posisi subordinat. lalu menagih janji timbal balik seperti halnya para birokrat.

demi cinta berbau kaos kaki. percayalah, cinta dengan subordinasi, tidak akan pernah berjalan hakiki.

Samstag, 29. März 2014

Apa kabarmu, Bu?

Maka biarkan semua ceracau burung di luar sana menggema. Aku, kamu, kita, tak perlu ambil pusing karenanya. Anggap saja nyanyian rindu, karena lama mengadu, tapi tak di dengar barang satu waktu. Bicara soal rindu, apa kabarmu, Bu?

Freitag, 20. Dezember 2013

#3 Kontemplasi

Pernah nggak sih lo berada pada masa berat yang sangat super duper berat? Masa dimana rasa-rasanya lo ingin menegasikan semua ketentuan Tuhan, anjuran Tuhan, atau bahkan eksistensitas-Nya. Lo menentang apa yang selama ini lo terima dan lo yakini sebagai sesuatu yang benar. Pikiran lo lepas, menyelidik, menalar hingga ke akar setiap hal. Ketika rasa yang sama-sama kita sebut iman, semacam berguncang, berontak dari tempatnya semula, jatuh pada titik paling lumpuh.

Tapi kemudian, Tuhan dengan segala kuasa-Nya, menyembuhkan luka itu. Meniadakan takaran berat itu. Kita pun semacam terlahir kembali. Dengan semangat berkali lipat. Dengan pundak yang kian siap dengan segala kehendak. Lalu, lo pun semakin sadar, betapa Tuhan begitu menyayangi lo. Betapa kemudian, euforia akan manisnya keimanan kembali membuncah di dada. Namun dengan energi yang bertambah besar dan bertambah besar.

Mungkin memang seperti itu ya hidup. Bersiklus. Sedih senang, susah gampang, suka duka. Termasuk juga keimanan yang kadang naik, sebentar kemudian turun.


Sonntag, 25. August 2013

Realita

Agak kaget juga sih ketika pipi ini tiba-tiba basah dengan air yang keluar dari mata. Haha sementara pikir masih bersikeras menentang segala realita.
Andai saja kejadian dua-tiga tahun itu tidak pernah menjadi cerita. Maka mungkin, tak akan begini jadinya.

00.00 wib
Jakarta, 26 Agustus 2013

Montag, 12. August 2013

Cerita Sepanjang Pantura #2

Ini cerita tentang Sumini yang gundah hatinya.
Ditemani dangdut koplo, memikirkan hutang yang sudah jatuh tempo.
Tentang Bapak dan jaminan yang beliau janjikan, jika tak ada uang 'datang' untuk membayar hutang.
Tentang Bapak dan solusi permasalahannya, yang ternyata melibatkan ia, anak perawannya.
Tentang Bapak yang memberikan pandangan, 'Apa kamu tega menolak padahal kita tiga hari tidak makan?'
Tentang lagi-lagi Bapak, yang mengingatkan, bahwa anak harus patuh pada orangtua, bukan?
Tentang, sayangnya, ah, ia ingin berkelit. Permintaan Bapak terlalu sulit.
Tapi, ah, keharusan birrul walidain, membuat kepalanya sakit.
Maka tentang permintaan, 'temani ia hingga tuntas, maka hutangku lunas'.
Mana jawab yang tak sulit? Apalagi dalam kondisi hutang membelit.

---
Satu keprihatinan bagi konsep yang semakin kabur tentang orang tua, durhaka atau patuh pada mereka.
Lebaran 1434 H

Cerita Sepanjang Pantura #1

Hati ini getir, bukan karena pandang segala nyinyir.
Apalagi  karena bos-kantung-tebal yang tersenyum pandir.
Berita penggusuran kafe pinggir jalan, sumber penghasilan,
itu sebabnya.
Katanya, kata bapak-bapak berjenggot kambing, gamis putih bening-bening itu,
bisnis ini tidak halal. Merusak moral.

Halah, tau apa mereka soal haram-halal? Hanya karena bisnis ini mengandalkan perempuan bergincu tebal, bergaya nakal, lantas dibilang tak bermoral?!
Mereka yang kekayaannya kurang ajar, rumah dimana-mana tersebar, lagaknya berandal, seolah lupa bahwa dari rakyat uangnya berasal, baru namanya nggak bermoral!

---
Berdasarkan apa yang ditangkap mata, dilihat hati, dan diinterpretasi pikiran.
Maka maaf jika Anda kurang berkenan.
Lebaran 1434 H

Freitag, 2. August 2013

Merpati Kecil

Maka biarkan merpati kecil itu terbang menghidupi dirinya
Jangan melulu dikungkung, jangan tunggu ia hingga mati dimakan belatung
Alih-alih menjaga-merawat, percayalah, bahwa itu tidak lebih baik dari penggerogotan kebebasan teman sejawat
Percayakan pada semesta, biar ia belajar tentang dusta
Pada alam kita titipkan, biar dirasakannya pengkhianatan
Kenalkan pada Yang Maha Besar, agar ia belajar.
Bahwa pada setiap hal, ada harga yang harus dibayar.



Dienstag, 18. Juni 2013

after-meeting-you taste

After meeting you, i can exactly define the criteria of the one I love.

Sonntag, 21. April 2013

terjadi baru kemarin


Mungkin mereka tidak pernah tahu bahwa saya menyimpan baik-baik foto itu. Sebaik saya menyimpan segala memori yang menjadikan foto itu selalu terasa terjadi baru kemarin. Selalu hidup, tak pernah redup.


*Gilaak, pasti mereka bakal mesem-mesem kuda dan ketawa-ketawa rese liat gue posting ginian bahahah*

Montag, 18. März 2013

terakhir, tentangmu.

Kadang, mencintai seseorang sudah cukup dengan memastikan bahwa dirimu sibuk berada dalam kebaikan. Dibandingkan dia selalu ada di pikiranmu, kemudian kamu mencari segala hal tentangnya, lalu tanpa sadar dirimu makin tergeser dalam keburukan.
- Anonim




Dikutip dari tumblr seseorang, dengan beberapa perubahan.
Aku janji, ini postingan terakhirku dengan nuansa dirimu di kepala.

Mittwoch, 13. März 2013

celebek alias Cinta Lama Bersemi Kembali

Judulnya yeye banget yak haha but actually, that's what I do feel now. huooh
To be honest, I dont want to be involved in any love circle in any place with anyone. Tapi gimana dooong, you know that 4 quality days really terngiang-ngiang in my head haha
But why I named it as celebek? because yaah about one year ago, I also fell in love with him. but the feeling just flew away fast. I dont know why, but maybe because of the rarely meeting.

Hem, sorry I cant tell you more about the specific story, because you know my blog's not private at all.
oke selesai. Haha

Maaf karena tulisan ini sangat tidak berkualitas -..-

Montag, 11. Februar 2013

remuk seperti kerupuk

remuk seperti kerupuk. yang kita makan bersama kala hujan sore-sore.
remuk seperti kerupuk. hatiku.
remuk seperti kerupuk. hatimu.
remuk seperti kerupuk. (hati) balerina di dalam kotak kaca yang kamu berikan padaku sebagai hadiah ketidakterlambatanku pada kencan kesekian kita karena kamu mendudukinya.
remuk seperti kerupuk. yang dijual di warteg sebelah, tempat kita bertemu kali pertama.
remuk seperti kerupuk. jangan takut ditimpuk.
remuk seperti kerupuk. bapuk dimakan rayap kapuk.
remuk seperti kerupuk. ambruk sekelilingku.
remuk seperti kerupuk. ketika matahari di ufuk.
remuk seperti kerupuk. kamu tepuk hatinya. hap lalu tertangkap.
remuk seperti kerupuk. aku mengamuk.
remuk seperti kerupuk. bagian ini lapuk. yang berwarna merah gelap yang punya fungsi mengubah provitamin A menjadi vitamin A. haha taulah kamu. puk puk.
remuk seperti kerupuk. ya, hatiku remuk seperti kerupuk.

Popular posts