Posts mit dem Label questionmark werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label questionmark werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Mittwoch, 6. Juni 2018

Komodifikasi dalam Narasi Doa Anak Yatim

Berhubung sudah memasuki bulan Ramadhan, mari kita membicarakan sesuatu yang relijius-relijius.

Bulan Ramadhan memang identik dengan bulan berlimpah pahala. Dimana, setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, akan diganjar pahala dengan angka konversi yang jauh lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Begitu tumpah ruahnya pahala di bulan ini, sampai-sampai, beredar hadist di masyarakat yang mengatakan bahwa di bulan Ramadhan, sekalipun kamu tidur, pahala akan terus mengalir, karena tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Sayangnya, tidak banyak orang tahu jika hadist yang mereka gunakan untuk menjustifikasi aktivitas tidur berlebihan mereka di bulan puasa itu dhaif.

Usut punya usut, istimewanya bulan Ramadhan ternyata mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia, baik perilaku di dunia maya maupun di dunia nyata. Menurut Ariani Dwijayanti, Industry Analyst Google Indonesia, pada Ramadhan 2017, pertumbuhan pencarian aktivitas religi di Google naik hingga 34% (Tribunnews.com, 2018).

Itu baru aktivitas googling-googling di dunia maya. Bagaimana spending habit mereka selama Ramadhan di dunia nyata? Siapa tahu mereka cuma googling tanpa tindak lanjut atau googling untuk kebutuhan eksis edisi Ramadhan di social media. Siapa tahu yakan.

Ternyata, kalau manut dengan data yang dimiliki Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), saat Ramadhan, konsumsi masyarakat Indonesia naik 20 - 30%. Menurut Ibu Netty Heryawan, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, salah satu alasannya karena banyak orang menyetok kebutuhan untuk buka puasa bersama, santunan anak yatim dan aktivitas kebaikan lainnya (Republika.co.id, 2016). Btw, kenapa lu tiba-tiba mengutip pendapat istrinya Aher deh, Lil? Ya maklum, saya kan mengais data dari Republika. Ehe.

Data-data di atas menunjukkan bahwa tingkat relijiusitas masyarakat Indonesia masih terbilang tinggi. Terlihat dari adanya respon berupa perilaku positif yang signifikan saat datang bulan suci Ramadhan. Anyway, relijiusitas tidak selalu menandakan tingkat keshalihan seseorang ya. Relijius ya relijius, bersifat keagamaan. Kalau keshalihan lebih personal, menyangkut ketaatan antara kita kepada Rabb kita. Sotoy banget gue.

Selain itu, altruisme masyarakat kita juga tinggi, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya aktivitas 'berbagi' yang muncul selama Ramadhan, misalnya makin banyak orang berdonasi, ngadain acara bukber di panti, sahur on the road, dll. Salah satu aktivitas kebaikan yang juga lumrah dilakukan masyarakat Indonesia adalah sedekah ke lembaga-lembaga yatim dan dhuafa (mon maap saya belum punya data pendukungnya). Sayangnya, dorongan altruisme untuk berbagi tadi tidak dibarengi dengan pemikiran kritis tentang kepada siapa rizki kita disalurkan. Emang dasar orang Indonesia mudah merasa iba, kita pun sangat mudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas asal-usul dan pertanggungjawabannya, misalnya ke lembaga-lembaga yatim dan dhuafa tak berizin atau bersertifikat yang suka datang ke kantor-kantor atau rumah-rumah.

Sebenarnya, yang ingin saya garisbawahi disini bukan legalitas lembaga tersebut. Saya sendiri kurang paham, apakah ada dalil yang menyebutkan bahwa saat kita berzakat, infaq atau shadaqah, tanggung jawab kita sampai pada memastikan bahwa lembaga pengelola benar-benar terpercaya. Atau, apakah tanggung jawab kita selesai ketika kewajiban untuk menyisihkan sebagian rizki kita tertunaikan, tanpa perlu memastikan bagaimana lembaga penyalur tersebut mengelola dana kita.

Tapi, yang mau saya bahas adalah bagaimana biasanya jurus-jurus marketing dilancarkan oleh Mbak-Mbak peminta donasi. Entah kenapa, yang saya rasa, ketika menawarkan kesempatan untuk berdonasi, Mbak-Mbak tersebut lebih sering membicarakan tentang kemungkinan pahala-pahala yang akan kita dulang dari curahan doa anak panti yang kita bantu. Tapi, mereka sedikit sekali bicara untuk apa uang tersebut akan mereka gunakan, program apa yang akan dijalankan, bagaimana pertanggungjawabannya kepada kita, dan sebagainya.

"Ayo, Mbak, shodaqoh-nya, Mbak, untuk adek-adek yatim di panti. InsyaAllah doa mereka bisa membawa kita masuk sorga."
 

Well, nggak salah juga sih menggunakan jurus 'dahsyatnya doa anak yatim' untuk mengajak lebih banyak orang bersedekah. Kan memang faktanya doa mereka demikian luar biasa. Tapi, kalau terus-menerus narasi itu yang diulang, bisa-bisa disorientasi kita. Saya pernah baca, tapi lupa dimana maapkeun, bahwa zakat, infaq dan shadaqah yang ada di dalam Islam sebenarnya merupakan sebuah skema jaminan sosial bagi umat, agar, masyarakat yang terlahir dalam berbagai kelas ini, melalui zakat, infaq dan shadaqah bisa saling menjamin pemenuhan kebutuhan dasarnya. Semacam, yang kaya ikut menjamin hajat hidupnya si miskin melalui uang yang mereka sisihkan. Dengan begitu, jurang yang lebar antara si kaya dan si miskin, yang memicu kecemburuan sosial, bisa teratasi. Di sisi lain, martabat si miskin pun terjaga karena mereka tak perlu meminta-minta. Makanya, sayang sekali jika tujuan semulia itu dikerdilkan dengan dominasi narasi tentang keberkahan doa anak yatim. Walaupun, sekali lagi, nggak ada salahnya juga sih mengharap keberkahan.

Lebih jauh, menurut analisis ecek-ecek saya, dominannya penggunaan narasi doa anak yatim yang kerap digunakan lembaga-lembaga zakat, infaq dan shadaqah untuk menarik masyarakat merupakan gambaran bahwa 'doa anak yatim' telah menjadi komoditas, dengan kata lain mengalami proses komodifikasi. Seingat saya waktu masih kuliah, komodifikasi adalah sebuah proses ketika sesuatu hal yang tidak memiliki kaitan dengan pasar, tidak bernilai jual, menjadi sebuah komoditas atau barang dagangan. Kalau menurut Om Marx, Kapitalisme adalah makhluk yang paling bertanggung jawab atas fenomena komodifikasi ini. Kapitalisme membuat segalanya mungkin diperjualbelikan. Makanya, sesuatu yang awalnya tidak memiliki nilai tukar pun dipaksa untuk memiliki label harga.

Lalu, apa yang salah dari komodifikasi doa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga zakat, infaq dan shadaqah? Bukankah mengharap keberkahan dari doa yang mereka haturkan adalah sah-sah saja? Bukankah naif jika beribadah tanpa mengharap berkah? Nah, itu dia. Kalau di Islam kan memang kita dianjurkan untuk selalu beribadah dalam takut (khauf) dan harap (rajaa'). Tapi, harap yang gimana dulu nih?

Ketika banyak lembaga zakat, infaq dan shadaqah mengajak untuk berdonasi dengan mengiming-imingi doa anak yatim yang mereka bina, lalu kita memberikan respon dengan berdonasi karena doa tersebut, maka secara tidak langsung kita telah mengaminkan proses ini sebagai sesuatu yang transaksional, 'lu jual gue beli'. Ke depan, mereka akan melihat betapa doa anak yatim binaan mereka ampuh untuk mengajak orang berdonasi. Sehingga, bukan tidak mungkin, akan dibangun narasi-narasi lain tentang si anak yatim yang bisa menarik pasar. Akhirnya, tanpa disadari, ajakan untuk berzakat, infaq dan shadaqah menjadi ajang kontestasi anak yatim mana yang paling makbul doanya, bukan lagi soal program-program mana yang paling efektif untuk pengembangan skill mereka, fasilitas apa yang butuh dibangun untuk pengembangan kapasitas mereka, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, yang terjadi adalah objektifikasi anak yatim, dimana anak yatim menjadi objek, barang atau alat pemenuhan kebutuhan orang lain.

Terus, solusinya apa dongs? Di jaman seperti ini, kita sudah tidak bisa lagi menghindar dari paparan fenomena komodifikasi. Apalagi, komodifikasi yang berhubungan dengan isu agama, mengingat kita tinggal di negara mayoritas muslim yang rasa-rasanya cukup relijius (ingat, relijius tidak selalu berhubungan dengan keshalihan). Apapun yang berbau Islam, berlabel halal dan syariah menjadi industri, dari industri pakaian muslim, bank-bank syariah, acara reliji di televisi, sampai yang selalu membuat saya geli, detergen dengan label halal nan Islami.

Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam praktik komodifikasi, kita harus selalu meluruskan niat pada setiap aktivitas kebaikan yang kita lakukan, semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan karena tren, ikut-ikutan atau karena harapan mendapatkan balasan duniawi. Selain itu, selalu belajar untuk melihat bigger picture dari setiap hal, khususnya dalam hal beragama. Jangan lupa, agama bukan seperangkat ilmu praktis, yang ilmunya bisa dicomot sana-sini. Setiap ajaran dalam agama punya konteks, maka kita harus memahami konteks tersebut secara utuh agar tidak salah kaprah. Kalau kata Bang Akhyar, "Agama yang dipahami dan dijalani tanpa keutuhan hanya membuat kita melaju ke arah yang keliru".










Tulisan di awal Ramadhan yang baru sempat diselesaikan.
Selamat meresapi Ramadhan yang tinggal sisa-sisa. Semoga, semakin mendekati akhir, kita tidak hanya manis di bibir. Katanya rindu, tapi menyiakan waktu. Bismillah.


Referensi
http://www.tribunnews.com/techno/2018/05/04/lima-produk-paling-dicari-orang-indonesia-selama-ramadan-berdasar-hasil-survei-google
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/06/22/o95s43382-konsumsi-masyarakat-saat-ramadhan-naik-hingga-30-persen

Freitag, 18. Mai 2018

Bapak-Bapak

Pekerjaan saya saat ini membuat saya banyak berinteraksi dengan bapak-bapak. Sudah banyak topik diskusi kami bahas, dari urusan pekerjaan hingga pengakuan kenakalan ketika istri tidak memberikan pengawasan. Khas laki-laki.

Tapi, baru setelah satu tahun lebih bekerja, saya sadar suatu hal. Pada setiap diskusi yang terjadi di antara kami, para bapak tidak pernah alfa bercerita tentang anak mereka. Dengan ketulusan sempurna. Dan antusiasme yang paripurna.

Mereka memuji. Mereka mengunggulkan. Mereka membandingkan anak mereka dengan anak tetangga, anak teman, anak bos atau anak siapa pun, yang pasti, entah rumus perbandingannya seperti apa, anak mereka selalu menjadi juaranya.

Di banyak kesempatan, saya tidak pernah ambil pusing akan cerita-cerita tersebut. Saya lebih sering mengiyakan dengan wajah template antusias. Bagi saya, human being lah ya, membanggakan kepemilikan dan capaian pribadi. Apalagi bagi seorang laki-laki yang hidup di negara patriarkis seperti Indonesia, mampu membina sebuah keluarga ideal dengan anak-anak yang layak dibanggakan adalah sebuah pencapaian. Dan patut dipublikasikan.

Tapi, saat kemarin diskusi serupa terjadi lagi, dengan rekan kerja yang merupakan bapak beranak dua, dengan dialog yang juga hampir serupa, saya menyadari sesuatu yang lebih dalam. Narasi tentang sang anak yang diceritakan berulang-ulang oleh para bapak, sepertinya bukan semata-mata upaya untuk menuntaskan dahaga mereka akan pengakuan orang lain, bahwa hidupnya ideal karena berhasil memiliki istri yang mampu beranak-pinak menciptakan keturunan kebanggaan. Bukan pula karena upaya menciptakan kontestasi remeh-temeh untuk menunjukkan anaknya lebih bernial jual dibanding anak orang lain.

At some point, i noticed their true love for their children lie behind each stories spoken. Sederhananya, semua bapak sayang anaknya. Segala cerita mereka tentang sang anak adalah representasi ketulusan cinta si bapak tentang anak-anak mereka. Yaa, walaupun kadang ceritanya agak hiperbola. Dimana, cerita tersebut, walau lancar dituturkan ke saya, belum tentu demikian di depan anaknya. Bisa jadi, di depan anak-anaknya, para bapak justru cuek. Atau galak. Atau ragu karena menjaga wibawa. Atau kelu karena memang tak pandai menyusun kata. Atau bahkan, sesederhana tak biasa mengekspresikan rasa cinta.

Menarik ya. Fathers always have their own way to show love. We just don't understand. Or not yet understand.

Beliau memang tidak seekspresif ibu, tapi percayalah, takaran cintanya, tak kurang barang setetes dari apa yang dimiliki ibu kita.

Montag, 14. Mai 2018

Patah Hati

Kalau dipikir-pikir, selama 25 tahun hidup, saya belum pernah benar-benar patah hati. Setidaknya, dalam konteks sempit, patah hati dengan seorang laki-laki.

Tapi, kalau boleh jujur, suatu kali saya pernah patah hati dengan seorang sahabat perempuan. Err, it's not that i was falling in love with her ya (ku masih suka laki-laki). Or we fell in love with the same guy. Duh, that's too drama.

Jadi begini ceritanya.

Bagi orang-orang yang pertama mengenal saya, mereka mungkin akan berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat mudah mingle dengan orang baru. Atau saya sangat mudah mencari teman. Atau teman saya banyak. Atau saya tidak pernah kesepian.

Sayangnya, walaupun saya mengakui bahwa saya memiliki kecenderungan ekstrovert ekstrim, asumsi-asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahwa saya sangat mudah bergaul dengan orang baru, ya. Bcz, well, i have to say, i'm so good in cari-cari topik pembicaraan. Jadi, orang seringkali merasa 'nyambung' ngobrol dengan saya. Tapi, duh, mau sampai kapan terus-terusan struggling nyari bahan obrolan? It's so exhausting.

At the end, you have to admit that you cant get along with all of your friends. Semacam seleksi alam. Pada akhirnya, mereka yang bertahan untuk menjadi temanmu, yang komunikasinya masih berlanjut walau kalian sudah jarang bertemu, adalah mereka yang memang satu frekuensi denganmu. They who by nature share the same thoughts with you. Dan susah banget men ketemu orang yang kayak gitu. Itulah kenapa, saya yang ekstrovert ini tumbuh sebagai orang yang tertutup dan tidak punya banyak teman dekat.

Tapi, kalau sekarang kamu tanya saya, apa saya punya teman dekat, i definitely can mention one. Dia adalah teman bimbel saya waktu SMA, perempuan lho. Kami berasal dari sekolah yang berbeda. Pada masa-masa awal kami berkenalan, saya dekat dengan sahabatnya yang juga mengikuti kelas bimbel yang sama. Seiring dengan berjalannya waktu, dia justru semakin jauh dengan sahabatnya dan saya semakin dekat dengannya.

Persahabatan kami berlanjut hingga kami kuliah. Kebetulan kami masuk ke universitas yang sama, tapi fakultas berbeda. Saya sering main ke fakultasnya, begitu pula sebaliknya. Apalagi, salah satu teman jurusan saya juga merupakan teman dekatnya saat SMA. Intinya, kami bersahabat dekat. Walaupun kami tidak setiap hari berkomunikasi, tapi tidak pernah ada hal penting yang lupa kami bagi. Dia bahkan menjadi satu-satunya teman di Jakarta yang saya kabari ketika ibu saya meninggal dunia.

Seiring dengan fase hidup yang kami jalani, persahabatan kami pun mendewasa. Beberapa ketidakcocokan mulai terasa. Keributan-keributan kecil sering terjadi. Jujur, saya sempat melewati momen-momen dimana saya tidak ingin posisi saya sebagai sahabatnya digantikan oleh orang lain. Ya, seposesif itu. Tapi, dari sana saya belajar untuk menurunkan ego. Saya belajar untuk menghormati wilayah personal seseorang yang tidak bisa saya intervensi. Saya yang cenderung cuek, belajar untuk bertanya kabar lebih dulu. Saya yang cerewet dan banyak omong, belajar untuk mendengar tanpa terdistrak sedikit pun. Aih, berasa pacaran yes. Tapi, begitu lah, selayaknya hubungan pacaran, persahabatan juga harus di-maintain agar tetap terjaga sampai jannah-Nya. Aamiin.  Lagipula, lumayan lah ini untuk modal saya menjalani hubungan dengan pasangan saat berumah tangga kelak. Wkwk.

Kini, kami tidak lagi intens berkomunikasi seperti dulu, apalagi dengan kondisi long distance friendship seperti sekarang. Tapi, kami masih sering terlibat dalam diskusi-diskusi kecil ala ala orang dewasa, kalau nggak via telfon, via whastapp, via instagram, via LINE atau saluran lain yang memungkinkan kami berkomunikasi.

Sebelum akhirnya saya pindah domisili ke Jawa Timur, dia memberikan saya kejutan perpisahan yang terasa sangat getir. Dia didiagnosis dokter dengan sebuah penyakit yang membuat imunnya tidak mampu mengenal mana teman mana lawan di dalam tubuhnya. Sehingga, ia harus menjalani sebuah operasi untuk mengangkat organ yang memproduksi imun tersebut. Akibatnya, kini dia tidak bisa terlalu lelah, tidak bisa terpapar debu dan segala hal lain yang membutuhkan imunnya bekerja.

Sepanjang perjalanan sakitnya, saya hanya dua kali menemani dia di rumah sakit. Pertama, saat kepulangan saya dari Sumba. Dia masih di-opname setelah operasinya dan saya harus menuntaskan rindu dengan air mata yang saya bendung kuat-kuat. Kedua, saat dia kontrol rutin. Saya menemani dia menunggu antrian. Selebihnya, karena keputusan untuk pindah ke Jawa Timur ini, saya jadi tidak pernah ada di sisinya ketika dia harus menghadapi rumah sakit, dokter dan segala diagnosis-diagnosis intimidatif itu.

Kemarin, sebelum saya pulang ke Jakarta, saya kabari dia. Berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama seperti yang dulu-dulu barang sebentar. Entah dengan numpang makan nasi padang di rumahnya, copy film sebanyak-banyaknya atau sekadar leyeh-leyeh sambil bergosip di sofa rumahnya.

Tapi, jawaban darinya sungguh membuat hati pilu. Dia bilang, siang sebelumnya dia sesak napas di kantor, lalu dibawa ke rumah sakit dan tidak boleh pulang oleh dokter. Saya sedih sekaligus sebal. Dia tahu saya trauma dengan rumah sakit, tapi kenapa kami harus sering-sering bertemu di sana? Jawaban darinya sungguh membuat saya tersentak, bahwa ini semua adalah ketentuan-Nya. Kali ini, saya tidak membendung tangis saya. Toh, dia nggak bisa liat juga. Saya tanyakan padanya, dia mau apa untuk saya bawakan ke rumah sakit. Dia menyebutkan beberapa hal.

Sampai di Jakarta, saya atur rencana untuk mengunjunginya di hari kedua saya disana. Pagi sebelum berangkat, saya tanyakan nomor kamarnya. Tapi, tidak ada jawaban. Saya sungguh-sungguh menyesal karena saat itu saya hanya menanti chat dibalas. Tidak ada upaya untuk menelfon dirinya atau mengontak keluarganya. Dengan alasan yang sangat nonsense--takutnya dia sudah pulang ke rumah, saya tidak beranjak ke rumah sakit. Sampai akhirnya, dia membalas pesan saya pukul 17.15. Tidak mungkin lagi kesana. Jakarta macet parah karena libur nasional, sementara saya harus mengejar kereta ke Kebumen pukul 19.00.

Akhirnya, saya pun meninggalkan Jakarta. Tanpa rasa bersalah, tanpa pamit. Sekitar tengah malam, teman dekat kami berdua, Putu namanya, menghubungi saya, mengabarkan saya bahwa sahabat saya itu masuk rumah sakit. Ia kini menginap di rumah sakit menunggui sahabat saya itu. Saya jawab bahwa saya mengetahuinya dan saya sudah berjanji akan mengunjunginya, tetapi tidak jadi karena dia tidak membalas pesan saya.

Teman saya mengatakan bahwa dia baru saja menjalani Plasmapheresis. Mungkin itu yang membuat dia tidak pegang HP seharian. Seketika perut saya langsung nyeri. Saya mengutuki diri saya yang dengan bodohnya mengharap balasan pesan dari orang sakit. Bodoh, bodoh bodoh. Kenapa saya begitu bodoh dengan tidak jadi pergi ke rumah sakit cuma karena dia tidak membalas pesan saya? Kenapa saya tidak nekat pergi ke rumah sakit saja? Toh, kalau ternyata dia sudah pulang, saya bisa menyusul ke rumahnya. Bodoh.

Detik itu saya merasa patah hati. Entah ini definisi patah hati yang lazim diucapkan kebanyakan orang atau tidak. Yang pasti, saya merasa saya tidak lagi pantas menjadi sahabatnya. Saya terlalu egois dengan pemikiran-pemikiran saya sendiri. Saya terlalu sibuk dengan ambisi-ambisi pribadi. Agak lebay ya. Tapi, kalau boleh jujur, ini bukan kali pertama saya berlaku demikian. Dia sering bertanya atas hal-hal penting yang tidak saya ceritakan padanya, saya menjawab seolah kesibukannya lah yang membuat saya berlaku demikian. Padahal, di banyak kesempatan, saya yang tidak menyempatkan waktu, saya yang sibuk sendiri. Saya tidak pernah benar-benar ada di sampingnya ketika dia butuh saya, tapi saya menuntut sebaliknya.

Kini, yang bisa saya lakukan hanya melangitkan doa. Semoga sakit yang dideritanya menjadi penggugur dosa.



Saya, Dia dan Putu


Montag, 30. April 2018

Perempuan yang Main ke Kosan

Akhir pekan lalu, seorang teman perempuan yang baru saya kenal setelah kepindahan saya ke daerah penempatan baru, main ke kosan. Dia datang dua hari berturut-turut, di Sabtu sore dan Minggu siang. Dan di dua hari itu pula, saya cukup syok dibuatnya.

Entah hal apa yang membuat dia begitu percaya pada saya, sampai-sampai dia membuka sebagian besar kisah romansanya pada saya--yang terlarang sekalipun. Duh, gimana ya, saya memang tumbuh di kota metropolitan Jakarta yang terkenal sangat-sangat 'liar'. Tapi, saya sangat-sangat lugu soal cinta. Pacaran pun saya tak pernah. Eh tapi, pernah sih dulu waktu SMP. Jadi, saya punya teman dekat laki-laki. Suatu hari, dia bilang suka kepada saya di koridor depan kelas. Dia menanyakan, apa saya mau jadi pacarnya, lalu saya mengangguk malu. Itu artinya kami sudah jadian ya? Tapi, anehnya, justru setelah hari itu, kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama lagi. Hubungan kami malah semakin renggang. Sampai suatu hari, dia mengajak saya untuk mengakhiri hubungan tersebut. Well, mungkin itu cara Allah menyelamatkan saya ya.

Lebih dari itu, selama SMA, kuliah dan bekerja seperti saat ini, saya tidak pernah benar-benar menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Urusan project, pekerjaan atau organisasi membuat saya sempat dekat dengan beberapa teman laki-laki. Tapi, setiap saya merasa ada sesuatu yang berbeda di antara kita, asiks, entah dia yang mulai memberikan perhatian lebih atau saya yang mulai berdebar di dekatnya, pasti saya memilih untuk menghindar dari hubungan tersebut. Saya masih meyakini bahwa pacaran melanggar SOP hubungan antar lawan jenis yang bukan mahram. Hehe. Jadi, sebisa mungkin, saya menahan diri untuk itu, demi izzah dan iffah saya sebagai seorang perempuan.

Eh tapi, bukan berarti saya melabel 'salah' semua orang yang berpacaran ya. Saya masih minim ilmu, mungkin teman-teman yang berpacaran punya interpretasi sendiri tentang hubungan semacam itu, Wallahu a'lam. Saya tidak ingin membawa tulisan ini ke perdebatan tersebut.

Mari kembali lagi ke perempuan yang main ke kosan. Dia masih sangat muda, satu tahun di bawah adik saya yang saat ini berumur 20 tahun. Tumbuh di kota kecil dari keluarga sederhana. Tapi, berdasarkan cerita pengalaman pacarannya, saya merasa gaya berpacarannya sudah terlampau dewasa. Fantasi seksualnya juga sedikit tidak wajar untuk ukuran anak seusianya. Saya jadi takut sendiri, apa memang demikian potret anak muda jaman sekarang? Apa kabar adik saya ya? :(

Itu baru cerita di hari Sabtu. Pada hari Minggu, saat dia kembali main ke kosan saya, dia membawa cerita yang semakin membuat saya gelisah sendiri. Walaupun, saat itu, saya sebisa mungkin untuk memasang wajah tidak terkejut, biasa saja. Dia bilang, dia pernah dekat dengan seorang pria beristri. Dia sodorkan kepada saya berbagai screenshot chat mereka. Sejujurnya, perkara ini saya sudah tahu sejak lama. Berita tentang dia dan si pria beristri sudah menjadi rahasia umum. Dia melanjutkan dengan menceritakan sejauh apa hubungan mereka. Nah, yang ini saya belum pernah dengar. Saya pun kaget dibuatnya, walaupun ekspresi yang saya tampilkan tetap ekspresi datar. Menurut pengakuan si perempuan yang main ke kosan, ia dan pria beristri sudah sering pergi bersama, menyepi berdua atau bahkan ke kamar hotel yang mereka sewa.

Saya mual. Saya tidak paham apakah yang barusan itu pengakuan jujur atau hiperbolis bercampur fantasi remaja tanggung yang hanya hampir berkepala dua. Saya tidak mampu membendung naluri judgmental saya untuk membandingkan perilaku si pria beristri dengan wajahnya yang polos (bahkan cenderung kekanakkan karena usianya yang memang hanya satu tahun di atas saya), shalatnya yang rajin (mayanlah, kalau denger adzan, doi langsung sholat), serta sikapnya yang pendiam, tak banyak bicara, tak banyak flirting seperti kebanyakan lelaki genit pada umumnya.

Saat ini, si perempuan yang main ke kosan mengaku jika hubungannya dengan pria beristri itu sudah merenggang. Hal tersebut dikarenakan beberapa chat dari pria beristri yang menyinggung perasaannya. Misalnya, ketika pria beristri sejak dirinya bukan apa-apa. Sedangkan, si perempuan yang main ke kosan baru mengenal si pria beristri ketika ia sudah ada di posisi sekarang.

Sialan, saya ikut mengumpat. Kenapa dia menghubungkan skandal tersebut dengan jabatannya? Seolah tidak akan pernah ada cinta utuh dan murni yang diberikan perempuan kepada seorang laki-laki. Seolah semua cinta perempuan transaksional. Cinta tidak sedangkal itu, Bung!

Di waktu yang lain, perkataan si suami beristri tidak kalah membuat nyeri hati. Ia mengajak si perempuan yang main ke kosan untuk tidur bersama, dengan sebelumnya memberikan disclaimer: "Tapi, kalau terjadi apa-apa, kamu tidak bisa menuntut apa-apa ke saya ya!" Cuy, lo belum pernah ke toko pecah belah kali ya? Pecah berarti membeli, woy! Lu pegang barang dagangan, dan itu pecah aja lu disuruh tanggung jawab bayar, apalagi ini lo buka segel anak orang.

Yang lucu, komentar perempuan yang main ke kosan ini tidak kalah membuat hati teriris. Dia bilang, dia sakit hati dengan perkataan pria beristri itu. "Masa dia nggak mau tanggung jawab coba, Mba! Kan kurang ajar, nggak terima aku." Saya mencoba mencerna, lalu mengklarifikasi, "Bentar-bentar, jadi kamu nggak terimanya karena apa nih? Karena dia ngajakin kamu tidur atau karena dia nggak mau tanggung jawab?" Dengan santainya, si perempuan yang main ke kosan jawab, "Yaa, karena dia nggak mau tanggung jawab lah. Emang aku cewek apaan............"

Dia meneruskan ceracaunya. Dan saya tertawa miris. Kamu sakit hati untuk hal yang salah, dek. Bahkan untuk menyentuhmu saja, sungguh dia tidak berhak, apalagi menidurimu. Perkataan pria beristri itu, sebetulnya tidak perlu diucapkan. Atau justru tidak pantas keluar dari mulutnya.

Menjelang kepulangannya, perempuan yang main ke kosan menanyakan pendapat saya. Apakah perbuatan mereka itu salah, siapa yang patut dipersalahkan, apakah sebaiknya ia menghentikan itu semua, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Saya tersenyum tipis. Ringan, saya menjawab, "Kamu sendiri yang paling tahu jawabannya."



Bojonegoro, 30 April 2018

Donnerstag, 1. Februar 2018

Lil's Movie Review: Belajar Parenting dari Film Wonder

Kemarin malam akhirnya saya menuntaskan film Wonder setelah berbagai drama internet kosan yang sungguh tidak mendukung. Mungkin karena saya nontonnya via jalur ilegal ya, jadi ada aja halangannya. Mon maap nih, soalnya saya sedang penempatan di Tulungagung dan Wonder nggak ditayangin di bioskop lokal sini. Walaupun itu bukan pembenaran sih ya. Ehe.

Oh ya, i'm a big fan of movie drama. Makanya, ketika baca review film Wonder dan menemukan bahwa film ini genre-nya drama keluarga, saya tertarik banget-banget. Walaupun, beberapa review film terlalu meng-highlight kondisi wajah Auggie- tokoh utama dari film ini, yang tidak sempurna dengan beberapa bekas luka operasi. Dimana introduksi tentang kondisi wajah dan penyakit yang diderita Auggie membuat saya agak males nonton hehe. Karena saya tidak terlalu tertarik menonton film drama yang ceritanya seputar struggling-nya si tokoh melawan penyakit. Bukan karena saya tidak empati dengan penderita penyakit tersebut, tetapi lebih karena jalan cerita yang pada akhirnya mudah tertebak aja.

Well, tapi, ketika saya nonton, praduga saya tersebut ternyata salah. Film ini sama sekali nggak ngebahas soal penyakit-nya si Auggie serta bagaimana ia melawan penyakitnya. Wonder menurut saya benar-benar sebuah film drama keluarga yang memberikan gambaran bagaimana sebuah keluarga berbesar hati dealing dengan Auggie dan tampilan fisiknya yang berbeda dengan anak kecil kebanyakan.

Cerita bermula ketika ibunya Auggie yang diperankan oleh Julia Roberts memutuskan untuk memasukkan Auggie ke sekolah umum setelah sekian lama Auggie diikutkan home schooling. Menurutnya, sudah saatnya bagi Auggie bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Auggie yang tadinya menolak ide tersebut pada akhirnya menerima keputusan ibunya. Hal yang sangat menarik bagi saya, yang merupakan early adult ini, adalah bagaimana orang tua Auggie membiasakan bernegosiasi dengan setiap anggota keluarga. 

Orang tua Auggie memperlakukan Auggie selayaknya orang dewasa, yang bisa diajak bertukar pikiran, yang punya pandangan personal, dan sebagainya. Scene favorite saya adalah ketika Auggie mengalami hari yang buruk di hari pertamanya pergi ke sekolah. Orang tua Auggie yang membiasakan kegiatan makan di meja makan sebagai momen untuk saling berbagi cerita, menanyakan Auggie bagaimana pengalaman sekolah hari pertamanya. Tetapi, Auggie justru meninggalkan meja makan setelah sebelumnya menjawab pertanyaan orang tuanya dengan nada yang agak tinggi. Lalu, ibu Auggie mendatangi Auggie ke kamar dan mengajaknya untuk bicara empat mata. Tidak memarahi, tidak menghakimi. Ia memperlakukan Auggie sebagai anak yang punya kontrol atas sikap yang dia tunjukkan.

Another favorite scene juga ketika Ibu Auggie bertengkar dengan kakak perempuan Auggie. Ayah Auggie yang saat itu kebetulan ada di sana diminta untuk membiarkan mereka menyelesaikan urusannya berdua saja. Keren! Dan masih banyak adegan-adegan lain di film Wonder yang menurut saya ilmu parenting banget. Sangat bisa untuk coba diterapkan di keluarga kita kelak. Hasyik.

Terlepas dari itu, alur cerita Wonder ini maju mundur dari beberapa sudut pandang orang-orang yang involved secara signifikan di kehidupannya Auggie. Misalnya, Via- kakaknya Auggie, yang digambarkan merasa kecewa karena keluarganya terlalu fokus memperhatikan Auggie dan lupa dengannya yang, bagaimana pun juga, masih 'anak-anak'. Ah ya, part ini saya juga suka sekali, karena awalnya saya mengira bahwa Via akan digambarkan berkonflik dengan Auggie. Tapi ternyata, Via digambarkan tidak meluapkan itu ke Auggie dan justru lagi-lagi mengajak Auggie untuk bernegosiasi dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan di hidup mereka berdua.

Sudut pandang lain juga digambarkan berasal dari Jack Will yang merupakan teman baik Auggie di sekolah, seperti tentang bagaimana awal mula ia bisa dekat dengan Auggie sampai terjadi konflik di antara mereka. Saya juga suka ketika Jack Will bertengkar dengan teman Auggie lain (saya lupa namanya) dan Jack Will di-skors dari sekolahnya. Tetapi, kepala sekolahnya menyebutkan bahwa ia menghargai Jack Will yang berkelahi untuk membela Auggie. 

Tapi, yang kurang dari Wonder ini, menurut saya, adalah ending-nya ketika Auggie mendapatkan penghargaan dari sekolah. I just don't get the reason why he deserves the award. Bahwa, setelah ada dia, teman-teman sekolahnya belajar how to deal with differences, iya sih. Tapi kan bukan berarti dia yang membuat mereka semua belajar. He just do the way he is supposed to do. Hem gitu nggak sih? menurut ku sih gitu wk. Karena penghargaan itu terlalu maksa ehe.

Intinya, Wonder ini recommended banget untuk jadi tontonan keluarga. Film ini banyak mengajarkan kita tentang empati, penerimaan, persahabatan dan yang paling utama, nilai-nilai keluarga sebagai pondasi paling utama kehidupan manusia. 


Rating: 4.5/5
After Taste: Pengen banyak-banyak self talk untuk kurang-kurangin berprasangka sama orang.

Sonntag, 25. August 2013

Realita

Agak kaget juga sih ketika pipi ini tiba-tiba basah dengan air yang keluar dari mata. Haha sementara pikir masih bersikeras menentang segala realita.
Andai saja kejadian dua-tiga tahun itu tidak pernah menjadi cerita. Maka mungkin, tak akan begini jadinya.

00.00 wib
Jakarta, 26 Agustus 2013

Montag, 12. August 2013

Cerita Sepanjang Pantura #1

Hati ini getir, bukan karena pandang segala nyinyir.
Apalagi  karena bos-kantung-tebal yang tersenyum pandir.
Berita penggusuran kafe pinggir jalan, sumber penghasilan,
itu sebabnya.
Katanya, kata bapak-bapak berjenggot kambing, gamis putih bening-bening itu,
bisnis ini tidak halal. Merusak moral.

Halah, tau apa mereka soal haram-halal? Hanya karena bisnis ini mengandalkan perempuan bergincu tebal, bergaya nakal, lantas dibilang tak bermoral?!
Mereka yang kekayaannya kurang ajar, rumah dimana-mana tersebar, lagaknya berandal, seolah lupa bahwa dari rakyat uangnya berasal, baru namanya nggak bermoral!

---
Berdasarkan apa yang ditangkap mata, dilihat hati, dan diinterpretasi pikiran.
Maka maaf jika Anda kurang berkenan.
Lebaran 1434 H

Donnerstag, 1. August 2013

Berita Baik

Kecipir liar mendayu meladeni angin yang menggodanya. Cuaca sore itu, entah mengapa, mendukung mereka untuk bermesra. Udara berbobot lebih berat dari biasanya. Karena air yang terkandung, enggan keluar dari zona nyamannya.

Dari jauh, bunyi kring-kring khas milik si abang koran langganan, samar terdengar. Diantar bunyi gaduh genjotan pedal yang dikayuh tak kenal pegal. Seperti biasa, koran dilempar sembarangan. Meskipun saya menanti di ambang pintu, siap menjulurkan tangan.

Saya menghampiri si koran malang. Membolak-balik setiap halaman, tapi tetap tertarik dengan berita baik di bagian depan. Alhamdulillah.

"Seorang kakek yang diduga memperkosa 5 anak gadis tetangga, akhirnya tertangkap juga..."

"Keluarga korban meninggal pada tawuran antarpelajar lalu tidak jadi menuntut si pelaku, karena ayah pelaku hanya penjual rujak yang tak laku-laku..."

"Terdakwa korupsi akhirnya keluar dari penjara berkat remisi hari raya..."

Alhamdulillah, berita baik.
Nampaknya, hidup yang kian rumit telah membuat makna berita baik semakin dipersempit.
Entah karena mencoba untuk lebih bersyukur dengan bahagia dari hal sederhana, atau karena terlanjur lelah merana menanti bahagia yang sebenarnya?

Samstag, 23. März 2013

loving needs reason

Kata siapa cinta tidak butuh alasan? Justru kita butuh alasan untuk mencintai seseorang. Agar ketika cinta itu digoyang badai, kita tahu mengapa kita harus mempertahankannya.
- saya, disela-sela masa kejar deadline review jurnal yang tinggal 29 menit lagi.

Sonntag, 2. September 2012

Kemana kamu?

Saya yang tidak tahu diri.
Berusaha'mencari', tapi tidak sadar dengan yang ada di sisi.
Disapa dengan ' Lili ;') '
Membalas dengan 'Lili isn't on the chat. But you can still send her a message'.
Berulangkali begitu.
Kamu tak lelah, apalagi aku.
Hingga sadar, aku termangu.
Kemana kamu?

Samstag, 3. März 2012

nah!

Di negara - negara yang sebagian besar penduduknya masih melarat, ada kelompok - kelompok yang hidup makmur dengan tingkat kemakmuran yang melebihi batas kesopanan hidup di negara orang - orang miskin.
 - Toeti Prahas Adhitama pada Media Indonesia

Donnerstag, 2. Februar 2012

The Alchemist #12

Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. - Sang Alkemis kepada Santiago dalam The Alchemist
Posts mit dem Label questionmark werden angezeigt. Alle Posts anzeigen
Posts mit dem Label questionmark werden angezeigt. Alle Posts anzeigen

Mittwoch, 6. Juni 2018

Komodifikasi dalam Narasi Doa Anak Yatim

Berhubung sudah memasuki bulan Ramadhan, mari kita membicarakan sesuatu yang relijius-relijius.

Bulan Ramadhan memang identik dengan bulan berlimpah pahala. Dimana, setiap kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun, akan diganjar pahala dengan angka konversi yang jauh lebih besar dibandingkan pada bulan-bulan lainnya. Begitu tumpah ruahnya pahala di bulan ini, sampai-sampai, beredar hadist di masyarakat yang mengatakan bahwa di bulan Ramadhan, sekalipun kamu tidur, pahala akan terus mengalir, karena tidurnya orang berpuasa adalah ibadah. Sayangnya, tidak banyak orang tahu jika hadist yang mereka gunakan untuk menjustifikasi aktivitas tidur berlebihan mereka di bulan puasa itu dhaif.

Usut punya usut, istimewanya bulan Ramadhan ternyata mempengaruhi perilaku masyarakat Indonesia, baik perilaku di dunia maya maupun di dunia nyata. Menurut Ariani Dwijayanti, Industry Analyst Google Indonesia, pada Ramadhan 2017, pertumbuhan pencarian aktivitas religi di Google naik hingga 34% (Tribunnews.com, 2018).

Itu baru aktivitas googling-googling di dunia maya. Bagaimana spending habit mereka selama Ramadhan di dunia nyata? Siapa tahu mereka cuma googling tanpa tindak lanjut atau googling untuk kebutuhan eksis edisi Ramadhan di social media. Siapa tahu yakan.

Ternyata, kalau manut dengan data yang dimiliki Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), saat Ramadhan, konsumsi masyarakat Indonesia naik 20 - 30%. Menurut Ibu Netty Heryawan, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat, salah satu alasannya karena banyak orang menyetok kebutuhan untuk buka puasa bersama, santunan anak yatim dan aktivitas kebaikan lainnya (Republika.co.id, 2016). Btw, kenapa lu tiba-tiba mengutip pendapat istrinya Aher deh, Lil? Ya maklum, saya kan mengais data dari Republika. Ehe.

Data-data di atas menunjukkan bahwa tingkat relijiusitas masyarakat Indonesia masih terbilang tinggi. Terlihat dari adanya respon berupa perilaku positif yang signifikan saat datang bulan suci Ramadhan. Anyway, relijiusitas tidak selalu menandakan tingkat keshalihan seseorang ya. Relijius ya relijius, bersifat keagamaan. Kalau keshalihan lebih personal, menyangkut ketaatan antara kita kepada Rabb kita. Sotoy banget gue.

Selain itu, altruisme masyarakat kita juga tinggi, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya aktivitas 'berbagi' yang muncul selama Ramadhan, misalnya makin banyak orang berdonasi, ngadain acara bukber di panti, sahur on the road, dll. Salah satu aktivitas kebaikan yang juga lumrah dilakukan masyarakat Indonesia adalah sedekah ke lembaga-lembaga yatim dan dhuafa (mon maap saya belum punya data pendukungnya). Sayangnya, dorongan altruisme untuk berbagi tadi tidak dibarengi dengan pemikiran kritis tentang kepada siapa rizki kita disalurkan. Emang dasar orang Indonesia mudah merasa iba, kita pun sangat mudah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas asal-usul dan pertanggungjawabannya, misalnya ke lembaga-lembaga yatim dan dhuafa tak berizin atau bersertifikat yang suka datang ke kantor-kantor atau rumah-rumah.

Sebenarnya, yang ingin saya garisbawahi disini bukan legalitas lembaga tersebut. Saya sendiri kurang paham, apakah ada dalil yang menyebutkan bahwa saat kita berzakat, infaq atau shadaqah, tanggung jawab kita sampai pada memastikan bahwa lembaga pengelola benar-benar terpercaya. Atau, apakah tanggung jawab kita selesai ketika kewajiban untuk menyisihkan sebagian rizki kita tertunaikan, tanpa perlu memastikan bagaimana lembaga penyalur tersebut mengelola dana kita.

Tapi, yang mau saya bahas adalah bagaimana biasanya jurus-jurus marketing dilancarkan oleh Mbak-Mbak peminta donasi. Entah kenapa, yang saya rasa, ketika menawarkan kesempatan untuk berdonasi, Mbak-Mbak tersebut lebih sering membicarakan tentang kemungkinan pahala-pahala yang akan kita dulang dari curahan doa anak panti yang kita bantu. Tapi, mereka sedikit sekali bicara untuk apa uang tersebut akan mereka gunakan, program apa yang akan dijalankan, bagaimana pertanggungjawabannya kepada kita, dan sebagainya.

"Ayo, Mbak, shodaqoh-nya, Mbak, untuk adek-adek yatim di panti. InsyaAllah doa mereka bisa membawa kita masuk sorga."
 

Well, nggak salah juga sih menggunakan jurus 'dahsyatnya doa anak yatim' untuk mengajak lebih banyak orang bersedekah. Kan memang faktanya doa mereka demikian luar biasa. Tapi, kalau terus-menerus narasi itu yang diulang, bisa-bisa disorientasi kita. Saya pernah baca, tapi lupa dimana maapkeun, bahwa zakat, infaq dan shadaqah yang ada di dalam Islam sebenarnya merupakan sebuah skema jaminan sosial bagi umat, agar, masyarakat yang terlahir dalam berbagai kelas ini, melalui zakat, infaq dan shadaqah bisa saling menjamin pemenuhan kebutuhan dasarnya. Semacam, yang kaya ikut menjamin hajat hidupnya si miskin melalui uang yang mereka sisihkan. Dengan begitu, jurang yang lebar antara si kaya dan si miskin, yang memicu kecemburuan sosial, bisa teratasi. Di sisi lain, martabat si miskin pun terjaga karena mereka tak perlu meminta-minta. Makanya, sayang sekali jika tujuan semulia itu dikerdilkan dengan dominasi narasi tentang keberkahan doa anak yatim. Walaupun, sekali lagi, nggak ada salahnya juga sih mengharap keberkahan.

Lebih jauh, menurut analisis ecek-ecek saya, dominannya penggunaan narasi doa anak yatim yang kerap digunakan lembaga-lembaga zakat, infaq dan shadaqah untuk menarik masyarakat merupakan gambaran bahwa 'doa anak yatim' telah menjadi komoditas, dengan kata lain mengalami proses komodifikasi. Seingat saya waktu masih kuliah, komodifikasi adalah sebuah proses ketika sesuatu hal yang tidak memiliki kaitan dengan pasar, tidak bernilai jual, menjadi sebuah komoditas atau barang dagangan. Kalau menurut Om Marx, Kapitalisme adalah makhluk yang paling bertanggung jawab atas fenomena komodifikasi ini. Kapitalisme membuat segalanya mungkin diperjualbelikan. Makanya, sesuatu yang awalnya tidak memiliki nilai tukar pun dipaksa untuk memiliki label harga.

Lalu, apa yang salah dari komodifikasi doa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga zakat, infaq dan shadaqah? Bukankah mengharap keberkahan dari doa yang mereka haturkan adalah sah-sah saja? Bukankah naif jika beribadah tanpa mengharap berkah? Nah, itu dia. Kalau di Islam kan memang kita dianjurkan untuk selalu beribadah dalam takut (khauf) dan harap (rajaa'). Tapi, harap yang gimana dulu nih?

Ketika banyak lembaga zakat, infaq dan shadaqah mengajak untuk berdonasi dengan mengiming-imingi doa anak yatim yang mereka bina, lalu kita memberikan respon dengan berdonasi karena doa tersebut, maka secara tidak langsung kita telah mengaminkan proses ini sebagai sesuatu yang transaksional, 'lu jual gue beli'. Ke depan, mereka akan melihat betapa doa anak yatim binaan mereka ampuh untuk mengajak orang berdonasi. Sehingga, bukan tidak mungkin, akan dibangun narasi-narasi lain tentang si anak yatim yang bisa menarik pasar. Akhirnya, tanpa disadari, ajakan untuk berzakat, infaq dan shadaqah menjadi ajang kontestasi anak yatim mana yang paling makbul doanya, bukan lagi soal program-program mana yang paling efektif untuk pengembangan skill mereka, fasilitas apa yang butuh dibangun untuk pengembangan kapasitas mereka, dan sebagainya. Ujung-ujungnya, yang terjadi adalah objektifikasi anak yatim, dimana anak yatim menjadi objek, barang atau alat pemenuhan kebutuhan orang lain.

Terus, solusinya apa dongs? Di jaman seperti ini, kita sudah tidak bisa lagi menghindar dari paparan fenomena komodifikasi. Apalagi, komodifikasi yang berhubungan dengan isu agama, mengingat kita tinggal di negara mayoritas muslim yang rasa-rasanya cukup relijius (ingat, relijius tidak selalu berhubungan dengan keshalihan). Apapun yang berbau Islam, berlabel halal dan syariah menjadi industri, dari industri pakaian muslim, bank-bank syariah, acara reliji di televisi, sampai yang selalu membuat saya geli, detergen dengan label halal nan Islami.

Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam praktik komodifikasi, kita harus selalu meluruskan niat pada setiap aktivitas kebaikan yang kita lakukan, semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan karena tren, ikut-ikutan atau karena harapan mendapatkan balasan duniawi. Selain itu, selalu belajar untuk melihat bigger picture dari setiap hal, khususnya dalam hal beragama. Jangan lupa, agama bukan seperangkat ilmu praktis, yang ilmunya bisa dicomot sana-sini. Setiap ajaran dalam agama punya konteks, maka kita harus memahami konteks tersebut secara utuh agar tidak salah kaprah. Kalau kata Bang Akhyar, "Agama yang dipahami dan dijalani tanpa keutuhan hanya membuat kita melaju ke arah yang keliru".










Tulisan di awal Ramadhan yang baru sempat diselesaikan.
Selamat meresapi Ramadhan yang tinggal sisa-sisa. Semoga, semakin mendekati akhir, kita tidak hanya manis di bibir. Katanya rindu, tapi menyiakan waktu. Bismillah.


Referensi
http://www.tribunnews.com/techno/2018/05/04/lima-produk-paling-dicari-orang-indonesia-selama-ramadan-berdasar-hasil-survei-google
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/06/22/o95s43382-konsumsi-masyarakat-saat-ramadhan-naik-hingga-30-persen

Freitag, 18. Mai 2018

Bapak-Bapak

Pekerjaan saya saat ini membuat saya banyak berinteraksi dengan bapak-bapak. Sudah banyak topik diskusi kami bahas, dari urusan pekerjaan hingga pengakuan kenakalan ketika istri tidak memberikan pengawasan. Khas laki-laki.

Tapi, baru setelah satu tahun lebih bekerja, saya sadar suatu hal. Pada setiap diskusi yang terjadi di antara kami, para bapak tidak pernah alfa bercerita tentang anak mereka. Dengan ketulusan sempurna. Dan antusiasme yang paripurna.

Mereka memuji. Mereka mengunggulkan. Mereka membandingkan anak mereka dengan anak tetangga, anak teman, anak bos atau anak siapa pun, yang pasti, entah rumus perbandingannya seperti apa, anak mereka selalu menjadi juaranya.

Di banyak kesempatan, saya tidak pernah ambil pusing akan cerita-cerita tersebut. Saya lebih sering mengiyakan dengan wajah template antusias. Bagi saya, human being lah ya, membanggakan kepemilikan dan capaian pribadi. Apalagi bagi seorang laki-laki yang hidup di negara patriarkis seperti Indonesia, mampu membina sebuah keluarga ideal dengan anak-anak yang layak dibanggakan adalah sebuah pencapaian. Dan patut dipublikasikan.

Tapi, saat kemarin diskusi serupa terjadi lagi, dengan rekan kerja yang merupakan bapak beranak dua, dengan dialog yang juga hampir serupa, saya menyadari sesuatu yang lebih dalam. Narasi tentang sang anak yang diceritakan berulang-ulang oleh para bapak, sepertinya bukan semata-mata upaya untuk menuntaskan dahaga mereka akan pengakuan orang lain, bahwa hidupnya ideal karena berhasil memiliki istri yang mampu beranak-pinak menciptakan keturunan kebanggaan. Bukan pula karena upaya menciptakan kontestasi remeh-temeh untuk menunjukkan anaknya lebih bernial jual dibanding anak orang lain.

At some point, i noticed their true love for their children lie behind each stories spoken. Sederhananya, semua bapak sayang anaknya. Segala cerita mereka tentang sang anak adalah representasi ketulusan cinta si bapak tentang anak-anak mereka. Yaa, walaupun kadang ceritanya agak hiperbola. Dimana, cerita tersebut, walau lancar dituturkan ke saya, belum tentu demikian di depan anaknya. Bisa jadi, di depan anak-anaknya, para bapak justru cuek. Atau galak. Atau ragu karena menjaga wibawa. Atau kelu karena memang tak pandai menyusun kata. Atau bahkan, sesederhana tak biasa mengekspresikan rasa cinta.

Menarik ya. Fathers always have their own way to show love. We just don't understand. Or not yet understand.

Beliau memang tidak seekspresif ibu, tapi percayalah, takaran cintanya, tak kurang barang setetes dari apa yang dimiliki ibu kita.

Montag, 14. Mai 2018

Patah Hati

Kalau dipikir-pikir, selama 25 tahun hidup, saya belum pernah benar-benar patah hati. Setidaknya, dalam konteks sempit, patah hati dengan seorang laki-laki.

Tapi, kalau boleh jujur, suatu kali saya pernah patah hati dengan seorang sahabat perempuan. Err, it's not that i was falling in love with her ya (ku masih suka laki-laki). Or we fell in love with the same guy. Duh, that's too drama.

Jadi begini ceritanya.

Bagi orang-orang yang pertama mengenal saya, mereka mungkin akan berpikir bahwa saya adalah orang yang sangat mudah mingle dengan orang baru. Atau saya sangat mudah mencari teman. Atau teman saya banyak. Atau saya tidak pernah kesepian.

Sayangnya, walaupun saya mengakui bahwa saya memiliki kecenderungan ekstrovert ekstrim, asumsi-asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahwa saya sangat mudah bergaul dengan orang baru, ya. Bcz, well, i have to say, i'm so good in cari-cari topik pembicaraan. Jadi, orang seringkali merasa 'nyambung' ngobrol dengan saya. Tapi, duh, mau sampai kapan terus-terusan struggling nyari bahan obrolan? It's so exhausting.

At the end, you have to admit that you cant get along with all of your friends. Semacam seleksi alam. Pada akhirnya, mereka yang bertahan untuk menjadi temanmu, yang komunikasinya masih berlanjut walau kalian sudah jarang bertemu, adalah mereka yang memang satu frekuensi denganmu. They who by nature share the same thoughts with you. Dan susah banget men ketemu orang yang kayak gitu. Itulah kenapa, saya yang ekstrovert ini tumbuh sebagai orang yang tertutup dan tidak punya banyak teman dekat.

Tapi, kalau sekarang kamu tanya saya, apa saya punya teman dekat, i definitely can mention one. Dia adalah teman bimbel saya waktu SMA, perempuan lho. Kami berasal dari sekolah yang berbeda. Pada masa-masa awal kami berkenalan, saya dekat dengan sahabatnya yang juga mengikuti kelas bimbel yang sama. Seiring dengan berjalannya waktu, dia justru semakin jauh dengan sahabatnya dan saya semakin dekat dengannya.

Persahabatan kami berlanjut hingga kami kuliah. Kebetulan kami masuk ke universitas yang sama, tapi fakultas berbeda. Saya sering main ke fakultasnya, begitu pula sebaliknya. Apalagi, salah satu teman jurusan saya juga merupakan teman dekatnya saat SMA. Intinya, kami bersahabat dekat. Walaupun kami tidak setiap hari berkomunikasi, tapi tidak pernah ada hal penting yang lupa kami bagi. Dia bahkan menjadi satu-satunya teman di Jakarta yang saya kabari ketika ibu saya meninggal dunia.

Seiring dengan fase hidup yang kami jalani, persahabatan kami pun mendewasa. Beberapa ketidakcocokan mulai terasa. Keributan-keributan kecil sering terjadi. Jujur, saya sempat melewati momen-momen dimana saya tidak ingin posisi saya sebagai sahabatnya digantikan oleh orang lain. Ya, seposesif itu. Tapi, dari sana saya belajar untuk menurunkan ego. Saya belajar untuk menghormati wilayah personal seseorang yang tidak bisa saya intervensi. Saya yang cenderung cuek, belajar untuk bertanya kabar lebih dulu. Saya yang cerewet dan banyak omong, belajar untuk mendengar tanpa terdistrak sedikit pun. Aih, berasa pacaran yes. Tapi, begitu lah, selayaknya hubungan pacaran, persahabatan juga harus di-maintain agar tetap terjaga sampai jannah-Nya. Aamiin.  Lagipula, lumayan lah ini untuk modal saya menjalani hubungan dengan pasangan saat berumah tangga kelak. Wkwk.

Kini, kami tidak lagi intens berkomunikasi seperti dulu, apalagi dengan kondisi long distance friendship seperti sekarang. Tapi, kami masih sering terlibat dalam diskusi-diskusi kecil ala ala orang dewasa, kalau nggak via telfon, via whastapp, via instagram, via LINE atau saluran lain yang memungkinkan kami berkomunikasi.

Sebelum akhirnya saya pindah domisili ke Jawa Timur, dia memberikan saya kejutan perpisahan yang terasa sangat getir. Dia didiagnosis dokter dengan sebuah penyakit yang membuat imunnya tidak mampu mengenal mana teman mana lawan di dalam tubuhnya. Sehingga, ia harus menjalani sebuah operasi untuk mengangkat organ yang memproduksi imun tersebut. Akibatnya, kini dia tidak bisa terlalu lelah, tidak bisa terpapar debu dan segala hal lain yang membutuhkan imunnya bekerja.

Sepanjang perjalanan sakitnya, saya hanya dua kali menemani dia di rumah sakit. Pertama, saat kepulangan saya dari Sumba. Dia masih di-opname setelah operasinya dan saya harus menuntaskan rindu dengan air mata yang saya bendung kuat-kuat. Kedua, saat dia kontrol rutin. Saya menemani dia menunggu antrian. Selebihnya, karena keputusan untuk pindah ke Jawa Timur ini, saya jadi tidak pernah ada di sisinya ketika dia harus menghadapi rumah sakit, dokter dan segala diagnosis-diagnosis intimidatif itu.

Kemarin, sebelum saya pulang ke Jakarta, saya kabari dia. Berharap kami bisa menghabiskan waktu bersama seperti yang dulu-dulu barang sebentar. Entah dengan numpang makan nasi padang di rumahnya, copy film sebanyak-banyaknya atau sekadar leyeh-leyeh sambil bergosip di sofa rumahnya.

Tapi, jawaban darinya sungguh membuat hati pilu. Dia bilang, siang sebelumnya dia sesak napas di kantor, lalu dibawa ke rumah sakit dan tidak boleh pulang oleh dokter. Saya sedih sekaligus sebal. Dia tahu saya trauma dengan rumah sakit, tapi kenapa kami harus sering-sering bertemu di sana? Jawaban darinya sungguh membuat saya tersentak, bahwa ini semua adalah ketentuan-Nya. Kali ini, saya tidak membendung tangis saya. Toh, dia nggak bisa liat juga. Saya tanyakan padanya, dia mau apa untuk saya bawakan ke rumah sakit. Dia menyebutkan beberapa hal.

Sampai di Jakarta, saya atur rencana untuk mengunjunginya di hari kedua saya disana. Pagi sebelum berangkat, saya tanyakan nomor kamarnya. Tapi, tidak ada jawaban. Saya sungguh-sungguh menyesal karena saat itu saya hanya menanti chat dibalas. Tidak ada upaya untuk menelfon dirinya atau mengontak keluarganya. Dengan alasan yang sangat nonsense--takutnya dia sudah pulang ke rumah, saya tidak beranjak ke rumah sakit. Sampai akhirnya, dia membalas pesan saya pukul 17.15. Tidak mungkin lagi kesana. Jakarta macet parah karena libur nasional, sementara saya harus mengejar kereta ke Kebumen pukul 19.00.

Akhirnya, saya pun meninggalkan Jakarta. Tanpa rasa bersalah, tanpa pamit. Sekitar tengah malam, teman dekat kami berdua, Putu namanya, menghubungi saya, mengabarkan saya bahwa sahabat saya itu masuk rumah sakit. Ia kini menginap di rumah sakit menunggui sahabat saya itu. Saya jawab bahwa saya mengetahuinya dan saya sudah berjanji akan mengunjunginya, tetapi tidak jadi karena dia tidak membalas pesan saya.

Teman saya mengatakan bahwa dia baru saja menjalani Plasmapheresis. Mungkin itu yang membuat dia tidak pegang HP seharian. Seketika perut saya langsung nyeri. Saya mengutuki diri saya yang dengan bodohnya mengharap balasan pesan dari orang sakit. Bodoh, bodoh bodoh. Kenapa saya begitu bodoh dengan tidak jadi pergi ke rumah sakit cuma karena dia tidak membalas pesan saya? Kenapa saya tidak nekat pergi ke rumah sakit saja? Toh, kalau ternyata dia sudah pulang, saya bisa menyusul ke rumahnya. Bodoh.

Detik itu saya merasa patah hati. Entah ini definisi patah hati yang lazim diucapkan kebanyakan orang atau tidak. Yang pasti, saya merasa saya tidak lagi pantas menjadi sahabatnya. Saya terlalu egois dengan pemikiran-pemikiran saya sendiri. Saya terlalu sibuk dengan ambisi-ambisi pribadi. Agak lebay ya. Tapi, kalau boleh jujur, ini bukan kali pertama saya berlaku demikian. Dia sering bertanya atas hal-hal penting yang tidak saya ceritakan padanya, saya menjawab seolah kesibukannya lah yang membuat saya berlaku demikian. Padahal, di banyak kesempatan, saya yang tidak menyempatkan waktu, saya yang sibuk sendiri. Saya tidak pernah benar-benar ada di sampingnya ketika dia butuh saya, tapi saya menuntut sebaliknya.

Kini, yang bisa saya lakukan hanya melangitkan doa. Semoga sakit yang dideritanya menjadi penggugur dosa.



Saya, Dia dan Putu


Montag, 30. April 2018

Perempuan yang Main ke Kosan

Akhir pekan lalu, seorang teman perempuan yang baru saya kenal setelah kepindahan saya ke daerah penempatan baru, main ke kosan. Dia datang dua hari berturut-turut, di Sabtu sore dan Minggu siang. Dan di dua hari itu pula, saya cukup syok dibuatnya.

Entah hal apa yang membuat dia begitu percaya pada saya, sampai-sampai dia membuka sebagian besar kisah romansanya pada saya--yang terlarang sekalipun. Duh, gimana ya, saya memang tumbuh di kota metropolitan Jakarta yang terkenal sangat-sangat 'liar'. Tapi, saya sangat-sangat lugu soal cinta. Pacaran pun saya tak pernah. Eh tapi, pernah sih dulu waktu SMP. Jadi, saya punya teman dekat laki-laki. Suatu hari, dia bilang suka kepada saya di koridor depan kelas. Dia menanyakan, apa saya mau jadi pacarnya, lalu saya mengangguk malu. Itu artinya kami sudah jadian ya? Tapi, anehnya, justru setelah hari itu, kita tidak pernah menghabiskan waktu bersama lagi. Hubungan kami malah semakin renggang. Sampai suatu hari, dia mengajak saya untuk mengakhiri hubungan tersebut. Well, mungkin itu cara Allah menyelamatkan saya ya.

Lebih dari itu, selama SMA, kuliah dan bekerja seperti saat ini, saya tidak pernah benar-benar menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Urusan project, pekerjaan atau organisasi membuat saya sempat dekat dengan beberapa teman laki-laki. Tapi, setiap saya merasa ada sesuatu yang berbeda di antara kita, asiks, entah dia yang mulai memberikan perhatian lebih atau saya yang mulai berdebar di dekatnya, pasti saya memilih untuk menghindar dari hubungan tersebut. Saya masih meyakini bahwa pacaran melanggar SOP hubungan antar lawan jenis yang bukan mahram. Hehe. Jadi, sebisa mungkin, saya menahan diri untuk itu, demi izzah dan iffah saya sebagai seorang perempuan.

Eh tapi, bukan berarti saya melabel 'salah' semua orang yang berpacaran ya. Saya masih minim ilmu, mungkin teman-teman yang berpacaran punya interpretasi sendiri tentang hubungan semacam itu, Wallahu a'lam. Saya tidak ingin membawa tulisan ini ke perdebatan tersebut.

Mari kembali lagi ke perempuan yang main ke kosan. Dia masih sangat muda, satu tahun di bawah adik saya yang saat ini berumur 20 tahun. Tumbuh di kota kecil dari keluarga sederhana. Tapi, berdasarkan cerita pengalaman pacarannya, saya merasa gaya berpacarannya sudah terlampau dewasa. Fantasi seksualnya juga sedikit tidak wajar untuk ukuran anak seusianya. Saya jadi takut sendiri, apa memang demikian potret anak muda jaman sekarang? Apa kabar adik saya ya? :(

Itu baru cerita di hari Sabtu. Pada hari Minggu, saat dia kembali main ke kosan saya, dia membawa cerita yang semakin membuat saya gelisah sendiri. Walaupun, saat itu, saya sebisa mungkin untuk memasang wajah tidak terkejut, biasa saja. Dia bilang, dia pernah dekat dengan seorang pria beristri. Dia sodorkan kepada saya berbagai screenshot chat mereka. Sejujurnya, perkara ini saya sudah tahu sejak lama. Berita tentang dia dan si pria beristri sudah menjadi rahasia umum. Dia melanjutkan dengan menceritakan sejauh apa hubungan mereka. Nah, yang ini saya belum pernah dengar. Saya pun kaget dibuatnya, walaupun ekspresi yang saya tampilkan tetap ekspresi datar. Menurut pengakuan si perempuan yang main ke kosan, ia dan pria beristri sudah sering pergi bersama, menyepi berdua atau bahkan ke kamar hotel yang mereka sewa.

Saya mual. Saya tidak paham apakah yang barusan itu pengakuan jujur atau hiperbolis bercampur fantasi remaja tanggung yang hanya hampir berkepala dua. Saya tidak mampu membendung naluri judgmental saya untuk membandingkan perilaku si pria beristri dengan wajahnya yang polos (bahkan cenderung kekanakkan karena usianya yang memang hanya satu tahun di atas saya), shalatnya yang rajin (mayanlah, kalau denger adzan, doi langsung sholat), serta sikapnya yang pendiam, tak banyak bicara, tak banyak flirting seperti kebanyakan lelaki genit pada umumnya.

Saat ini, si perempuan yang main ke kosan mengaku jika hubungannya dengan pria beristri itu sudah merenggang. Hal tersebut dikarenakan beberapa chat dari pria beristri yang menyinggung perasaannya. Misalnya, ketika pria beristri sejak dirinya bukan apa-apa. Sedangkan, si perempuan yang main ke kosan baru mengenal si pria beristri ketika ia sudah ada di posisi sekarang.

Sialan, saya ikut mengumpat. Kenapa dia menghubungkan skandal tersebut dengan jabatannya? Seolah tidak akan pernah ada cinta utuh dan murni yang diberikan perempuan kepada seorang laki-laki. Seolah semua cinta perempuan transaksional. Cinta tidak sedangkal itu, Bung!

Di waktu yang lain, perkataan si suami beristri tidak kalah membuat nyeri hati. Ia mengajak si perempuan yang main ke kosan untuk tidur bersama, dengan sebelumnya memberikan disclaimer: "Tapi, kalau terjadi apa-apa, kamu tidak bisa menuntut apa-apa ke saya ya!" Cuy, lo belum pernah ke toko pecah belah kali ya? Pecah berarti membeli, woy! Lu pegang barang dagangan, dan itu pecah aja lu disuruh tanggung jawab bayar, apalagi ini lo buka segel anak orang.

Yang lucu, komentar perempuan yang main ke kosan ini tidak kalah membuat hati teriris. Dia bilang, dia sakit hati dengan perkataan pria beristri itu. "Masa dia nggak mau tanggung jawab coba, Mba! Kan kurang ajar, nggak terima aku." Saya mencoba mencerna, lalu mengklarifikasi, "Bentar-bentar, jadi kamu nggak terimanya karena apa nih? Karena dia ngajakin kamu tidur atau karena dia nggak mau tanggung jawab?" Dengan santainya, si perempuan yang main ke kosan jawab, "Yaa, karena dia nggak mau tanggung jawab lah. Emang aku cewek apaan............"

Dia meneruskan ceracaunya. Dan saya tertawa miris. Kamu sakit hati untuk hal yang salah, dek. Bahkan untuk menyentuhmu saja, sungguh dia tidak berhak, apalagi menidurimu. Perkataan pria beristri itu, sebetulnya tidak perlu diucapkan. Atau justru tidak pantas keluar dari mulutnya.

Menjelang kepulangannya, perempuan yang main ke kosan menanyakan pendapat saya. Apakah perbuatan mereka itu salah, siapa yang patut dipersalahkan, apakah sebaiknya ia menghentikan itu semua, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Saya tersenyum tipis. Ringan, saya menjawab, "Kamu sendiri yang paling tahu jawabannya."



Bojonegoro, 30 April 2018

Donnerstag, 1. Februar 2018

Lil's Movie Review: Belajar Parenting dari Film Wonder

Kemarin malam akhirnya saya menuntaskan film Wonder setelah berbagai drama internet kosan yang sungguh tidak mendukung. Mungkin karena saya nontonnya via jalur ilegal ya, jadi ada aja halangannya. Mon maap nih, soalnya saya sedang penempatan di Tulungagung dan Wonder nggak ditayangin di bioskop lokal sini. Walaupun itu bukan pembenaran sih ya. Ehe.

Oh ya, i'm a big fan of movie drama. Makanya, ketika baca review film Wonder dan menemukan bahwa film ini genre-nya drama keluarga, saya tertarik banget-banget. Walaupun, beberapa review film terlalu meng-highlight kondisi wajah Auggie- tokoh utama dari film ini, yang tidak sempurna dengan beberapa bekas luka operasi. Dimana introduksi tentang kondisi wajah dan penyakit yang diderita Auggie membuat saya agak males nonton hehe. Karena saya tidak terlalu tertarik menonton film drama yang ceritanya seputar struggling-nya si tokoh melawan penyakit. Bukan karena saya tidak empati dengan penderita penyakit tersebut, tetapi lebih karena jalan cerita yang pada akhirnya mudah tertebak aja.

Well, tapi, ketika saya nonton, praduga saya tersebut ternyata salah. Film ini sama sekali nggak ngebahas soal penyakit-nya si Auggie serta bagaimana ia melawan penyakitnya. Wonder menurut saya benar-benar sebuah film drama keluarga yang memberikan gambaran bagaimana sebuah keluarga berbesar hati dealing dengan Auggie dan tampilan fisiknya yang berbeda dengan anak kecil kebanyakan.

Cerita bermula ketika ibunya Auggie yang diperankan oleh Julia Roberts memutuskan untuk memasukkan Auggie ke sekolah umum setelah sekian lama Auggie diikutkan home schooling. Menurutnya, sudah saatnya bagi Auggie bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Auggie yang tadinya menolak ide tersebut pada akhirnya menerima keputusan ibunya. Hal yang sangat menarik bagi saya, yang merupakan early adult ini, adalah bagaimana orang tua Auggie membiasakan bernegosiasi dengan setiap anggota keluarga. 

Orang tua Auggie memperlakukan Auggie selayaknya orang dewasa, yang bisa diajak bertukar pikiran, yang punya pandangan personal, dan sebagainya. Scene favorite saya adalah ketika Auggie mengalami hari yang buruk di hari pertamanya pergi ke sekolah. Orang tua Auggie yang membiasakan kegiatan makan di meja makan sebagai momen untuk saling berbagi cerita, menanyakan Auggie bagaimana pengalaman sekolah hari pertamanya. Tetapi, Auggie justru meninggalkan meja makan setelah sebelumnya menjawab pertanyaan orang tuanya dengan nada yang agak tinggi. Lalu, ibu Auggie mendatangi Auggie ke kamar dan mengajaknya untuk bicara empat mata. Tidak memarahi, tidak menghakimi. Ia memperlakukan Auggie sebagai anak yang punya kontrol atas sikap yang dia tunjukkan.

Another favorite scene juga ketika Ibu Auggie bertengkar dengan kakak perempuan Auggie. Ayah Auggie yang saat itu kebetulan ada di sana diminta untuk membiarkan mereka menyelesaikan urusannya berdua saja. Keren! Dan masih banyak adegan-adegan lain di film Wonder yang menurut saya ilmu parenting banget. Sangat bisa untuk coba diterapkan di keluarga kita kelak. Hasyik.

Terlepas dari itu, alur cerita Wonder ini maju mundur dari beberapa sudut pandang orang-orang yang involved secara signifikan di kehidupannya Auggie. Misalnya, Via- kakaknya Auggie, yang digambarkan merasa kecewa karena keluarganya terlalu fokus memperhatikan Auggie dan lupa dengannya yang, bagaimana pun juga, masih 'anak-anak'. Ah ya, part ini saya juga suka sekali, karena awalnya saya mengira bahwa Via akan digambarkan berkonflik dengan Auggie. Tapi ternyata, Via digambarkan tidak meluapkan itu ke Auggie dan justru lagi-lagi mengajak Auggie untuk bernegosiasi dengan kondisi-kondisi tidak mengenakkan di hidup mereka berdua.

Sudut pandang lain juga digambarkan berasal dari Jack Will yang merupakan teman baik Auggie di sekolah, seperti tentang bagaimana awal mula ia bisa dekat dengan Auggie sampai terjadi konflik di antara mereka. Saya juga suka ketika Jack Will bertengkar dengan teman Auggie lain (saya lupa namanya) dan Jack Will di-skors dari sekolahnya. Tetapi, kepala sekolahnya menyebutkan bahwa ia menghargai Jack Will yang berkelahi untuk membela Auggie. 

Tapi, yang kurang dari Wonder ini, menurut saya, adalah ending-nya ketika Auggie mendapatkan penghargaan dari sekolah. I just don't get the reason why he deserves the award. Bahwa, setelah ada dia, teman-teman sekolahnya belajar how to deal with differences, iya sih. Tapi kan bukan berarti dia yang membuat mereka semua belajar. He just do the way he is supposed to do. Hem gitu nggak sih? menurut ku sih gitu wk. Karena penghargaan itu terlalu maksa ehe.

Intinya, Wonder ini recommended banget untuk jadi tontonan keluarga. Film ini banyak mengajarkan kita tentang empati, penerimaan, persahabatan dan yang paling utama, nilai-nilai keluarga sebagai pondasi paling utama kehidupan manusia. 


Rating: 4.5/5
After Taste: Pengen banyak-banyak self talk untuk kurang-kurangin berprasangka sama orang.

Sonntag, 25. August 2013

Realita

Agak kaget juga sih ketika pipi ini tiba-tiba basah dengan air yang keluar dari mata. Haha sementara pikir masih bersikeras menentang segala realita.
Andai saja kejadian dua-tiga tahun itu tidak pernah menjadi cerita. Maka mungkin, tak akan begini jadinya.

00.00 wib
Jakarta, 26 Agustus 2013

Montag, 12. August 2013

Cerita Sepanjang Pantura #1

Hati ini getir, bukan karena pandang segala nyinyir.
Apalagi  karena bos-kantung-tebal yang tersenyum pandir.
Berita penggusuran kafe pinggir jalan, sumber penghasilan,
itu sebabnya.
Katanya, kata bapak-bapak berjenggot kambing, gamis putih bening-bening itu,
bisnis ini tidak halal. Merusak moral.

Halah, tau apa mereka soal haram-halal? Hanya karena bisnis ini mengandalkan perempuan bergincu tebal, bergaya nakal, lantas dibilang tak bermoral?!
Mereka yang kekayaannya kurang ajar, rumah dimana-mana tersebar, lagaknya berandal, seolah lupa bahwa dari rakyat uangnya berasal, baru namanya nggak bermoral!

---
Berdasarkan apa yang ditangkap mata, dilihat hati, dan diinterpretasi pikiran.
Maka maaf jika Anda kurang berkenan.
Lebaran 1434 H

Donnerstag, 1. August 2013

Berita Baik

Kecipir liar mendayu meladeni angin yang menggodanya. Cuaca sore itu, entah mengapa, mendukung mereka untuk bermesra. Udara berbobot lebih berat dari biasanya. Karena air yang terkandung, enggan keluar dari zona nyamannya.

Dari jauh, bunyi kring-kring khas milik si abang koran langganan, samar terdengar. Diantar bunyi gaduh genjotan pedal yang dikayuh tak kenal pegal. Seperti biasa, koran dilempar sembarangan. Meskipun saya menanti di ambang pintu, siap menjulurkan tangan.

Saya menghampiri si koran malang. Membolak-balik setiap halaman, tapi tetap tertarik dengan berita baik di bagian depan. Alhamdulillah.

"Seorang kakek yang diduga memperkosa 5 anak gadis tetangga, akhirnya tertangkap juga..."

"Keluarga korban meninggal pada tawuran antarpelajar lalu tidak jadi menuntut si pelaku, karena ayah pelaku hanya penjual rujak yang tak laku-laku..."

"Terdakwa korupsi akhirnya keluar dari penjara berkat remisi hari raya..."

Alhamdulillah, berita baik.
Nampaknya, hidup yang kian rumit telah membuat makna berita baik semakin dipersempit.
Entah karena mencoba untuk lebih bersyukur dengan bahagia dari hal sederhana, atau karena terlanjur lelah merana menanti bahagia yang sebenarnya?

Samstag, 23. März 2013

loving needs reason

Kata siapa cinta tidak butuh alasan? Justru kita butuh alasan untuk mencintai seseorang. Agar ketika cinta itu digoyang badai, kita tahu mengapa kita harus mempertahankannya.
- saya, disela-sela masa kejar deadline review jurnal yang tinggal 29 menit lagi.

Freitag, 8. Februar 2013

#nowfeeling

'Maaf, saya menghamili istri merebut pasangan Anda.'

Sonntag, 2. September 2012

Kemana kamu?

Saya yang tidak tahu diri.
Berusaha'mencari', tapi tidak sadar dengan yang ada di sisi.
Disapa dengan ' Lili ;') '
Membalas dengan 'Lili isn't on the chat. But you can still send her a message'.
Berulangkali begitu.
Kamu tak lelah, apalagi aku.
Hingga sadar, aku termangu.
Kemana kamu?

Samstag, 3. März 2012

nah!

Di negara - negara yang sebagian besar penduduknya masih melarat, ada kelompok - kelompok yang hidup makmur dengan tingkat kemakmuran yang melebihi batas kesopanan hidup di negara orang - orang miskin.
 - Toeti Prahas Adhitama pada Media Indonesia

Donnerstag, 2. Februar 2012

The Alchemist #12

Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. - Sang Alkemis kepada Santiago dalam The Alchemist

Popular posts